Air kencing bayi perempuan yang belum makan selain ASI termasuk golongan najis

By On Friday, September 30th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Air kencing bayi perempuan yang belum makan selain ASI termasuk golongan najis – Hi teman-teman semua, Makasih banyak sudah mau datang di web site trendwisata.com ini. Sore ini, kami di portal Trend Wisata dot com ingin sharing Q dan A yang menarik yang menampilkan tentang Air kencing bayi perempuan yang belum makan selain ASI termasuk golongan najis. Sebaiknya Agan dan sista melihat setelah ini:

Assalamu alaikum…

  1. Mau tanya, air kencing anak usia 2 tahun apakah termasuk najis?
  2. Jika lantai yg dipipisi belum sempat dipel hanya dilap saja hingga kering terus digunakan untuk solat (dgn sajadah), apakah solatnya sah?
  3. Jika lantai yg telah kering tadi terinjak, apakah wudhunya batal?

Terima kasih atas jawabannya. Wassalamu alaikum….

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T04-6237

Jawaban

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah…

Bismillah,

Bersuci dari Kencing Bayi – Menghilangkan Najis dari Kencing Bayi

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ pernah ditanya:

Ketika seorang wanita melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, selama dalam asuhannya bayi itu selalu bersamanya dan tidak pernah berpisah, hingga terkadang pakaiannya terkena air kencing sang bayi. Apakah yang harus ia lakukan pada saat itu, dan apakah ada perbedaan hukum pada air kencing bayi laki-laki dengan bayi perempuan sejak kelahiran hingga berumur dua tahun atau lebih? Inti pertanyaan ini adalah tentang bersuci dan shalat serta tentang kerepotan untuk mengganti pakaian setiap waktu.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ menjawab:

Cukup memercikkan air pada pakaian yang terkana air kencing bayi laki-laki jika ia belum mengkonsumsi makanan pendamping asi (MP ASI). Jika bayi laki-laki itu telah mengonsumsi makanan, maka pakaian yang terkana air kencing itu harus dicuci. Adapun jika bayi itu perempuan, maka pakaian yang terkena air kencingnya harus dicuci baik dia sudah mengonsumsi makanan pendamping ataupun belum. Ketetapan ini bersumber dari hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lainnya, sedangkan lafazhnya adalah dari Abu Daud. Abu Daud telah mengeluarkan hadis ini dalam kitab sunan-nya dengan sanadnya dari Ummu Qubais bintu Muhshan,

“Bahwa ia bersama bayi laki-lakinya yang belum mengonsumsi makanan datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendudukan bayi itu di dalam pangkuannya, lalu bayi itu kencing pada pakaian beliau, maka Rasulullah meminta diambilkan air kemudian memerciki pakaian itu dengan air tanpa mencucinya.”

Dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabada.

“Pakaian yang terkena air kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkena kencing bayi laki-laki cukup diperciki dengan air.”

Dalam riwayat lain menurut Abu Daud,

“Pakaian yang terkana air kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkena air kencing bayi laki-laki maka diperciki dengan air jika belum mengkonsumsi makanan.”

Bekas Najis yang Sudah Kering

Bagaimana bekas najis yang telah hilang/terangkat karena sinar matahari maupun angin, seperti kencing bayi yang sedikit di pakaian kita?

Kaidah pokok yang berlaku dalam masalah ini adalah

الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

“Hukum itu bergantung pada ada dan tidaknya ‘illah”

‘illah adalah segala sesuatu yang menyebabkan adanya hukum tertentu. Misalnya, wanita haid dilarang shalat. Adanya hukum ‘dilarang shalat’ karena adanya ‘illah berupa datang bulan. Ketika si wanita telah selesai haid, maka dia kembali wajib shalat, karena ‘illahnya sudah tidak ada.

Semacam juga berlaku untuk benda suci yang terkena najis. Baju atau kain suci yang terkena najis, statusnya menjadi najis, sehingga tidak boleh digunakan untuk shalat. Adanya hukum kain itu statusnya najis dan tidak boleh digunakan untuk shalat, karena adanya ‘illah berupa benda najis yang melekat di kain itu. Sehingga ketika benda najis itu telah hilang, maka kain itu kembali menjadi suci, karena ‘illahnya sudah tidak ada.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

إذا زالت عين النجاسة بأي مزيل كان، فإن المكان يطهر، لأن النجاسة عينٌ خبيثة، فإذا زالت زال ذلك الوصف وعاد الشيء إلى طهارته، لأن الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

Apabila barang najis (yang menempel di benda suci) telah hilang dengan apapun caranya, maka benda itu kembali suci. Karena barang najis adalah barang kotor, sehingga ketika barang kotor ini sudah hilang maka sifat kotor pada benda (yang ketempelan najis) tersebut hilang, dan benda itu kembali suci. Karena setiap hukum bergantung kepada ada dan tidaknya ‘illah.
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

Menghilangkan Najis tidak Butuh Amal Tertentu

Perbuatan yang dilakukan manusia, secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu Melakukan perintah (fi’lul ma’mur) & Menjauhi larangan (ijtinabul mahdzur)

Hilangnya najis, termasuk jenis yang kedua, yaitu menjauhi larangan. Artinya, untuk menghilangkan najis, kita tidak diharuskan melakukan amal tertentu. Selama najis yang menempel di benda suci itu telah hilang, bagaimanapun caranya, maka status benda itu kembali suci. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

“Dulu anjing-anjing sering kencing dan keluar-masuk masjid pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) tidak mengguyur kencing anjing tersebut.”
(HR. Bukhari 174, Abu Daud 382, dan lainnya).

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabat menganggap suci semua tanah masjid, padahal bisa jadi ada anjing yang kencing di sana. Namun, mengingat najis itu sudah hilang karena menguap, mereka menghukumi tanah itu tidak najis.

Dalam Aunul Ma’bud dinyatakan,

وَالْحَدِيثُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَرْضَ إِذَا أَصَابَتْهَا نَجَاسَةٌ فَجَفَّتْ بِالشَّمْسِ أَوِ الْهَوَاءِ فَذَهَبَ أَثَرُهَا تَطْهُرُ إِذْ عَدَمُ الرَّشِّ يَدُلُّ عَلَى جَفَافِ الْأَرْضِ وَطَهَارَتِهَا

Hadis ini menunjukkan dalil bahwa tanah yang terkena najis, kemudian kering karena terik matahari atau ditiup angin, sehingga bekas najisnya sudah hilang maka tanah itu menjadi suci. Karena, tidak diguyur air (pada hadis Ibnu Umar di atas), menunjukkan bahwa tanah itu telah kering, dan kembali suci.

Selanjutnya penulis mengatakan,

فَرُوِيَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ أَنَّهُ قَالَ جُفُوفُ الْأَرْضِ طُهُورُهَا

Diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwa keringnya tanah, merupakan cara mensucikannya
(Aunul Ma’bud, Syarh Abu Daud, 2:31).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وإزالة النجاسة ليست من باب المأمور به حتى يقال: لابد من فعله، بل هو من باب اجتناب المحظور

“Menghilangkan najis bukanlah termasuk suatu amalan yang diperintahkan, sehingga dikatakan, harus melakukan amal tertentu untuk menghilangkan najis. Namun, terkait najis, termasuk bentuk menjauhi larangan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

Jadi kencing bayi yang menempel di pakaian anda dan sudah kering, kemudian dipastikan dengan yakin tidak ada lagi bekas air kencing yang menempel di baju tersebut, maka pakaian anda kembali suci.

Kesimpulan:

  1. Air kencing anak laki-laki hukumnya najis jika sudah MP ASI, anak perempuan hukumnya najis walau belum MP ASI.
  2. Sholatnya sah.
  3. Tidak batal.

Allahu a’lam
Wabillahit taufiq

Maroji’

Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010

Dijawab oleh Team Tanya Jawab Bimbingan Islam

Baca Juga:  Menghadiahkan Sholawat Untuk Orangtua, Apa Bisa?

Dalam literatur fikih, kita semua tentu mengenal pembagian najis yang terbagi menjadi tiga macam. Yakni Najis mugholladzoh (berat), mutawassithoh (sedang), dan mukhoffafah (ringan). Perbedaan tersebut berangkat dari perbedaan jenis najis dan cara pensuciannya yang berbeda.

Dan mungkin sebagian di antara kita ada yang menyangsikan. Mengapa yang masuk dalam kategori najis mukhoffafah hanya urin bayi laki-laki yang belum makan apapun selain ASI. Tidak memasukkan urin bayi perempuan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? bukankah ini diskriminasi gender sejak kecil? Tentu tidaklah demikian.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Perlu diketahui terlebih dahulu. Bahwasannya dalam menerima dan menjalankan syariat-syariat Allah. Terdapat dua aspek yang mesti dipahami terlebih dahulu. Setiap syariat yang diturunkan oleh Allah ada yang bersifat ta’abbud (semata ibadah dan maknanya tidak dapat dijangkau akal) dan Taaqqul (bisa dinalar).

Untuk syariat-syariat Allah yang sifatnya ta’abbud manusia tidak mempunyai ruang sama sekali untuk menggunakan nalarnya. manusia hanya menerima ketentuan hukum syariat apa adanya dan melaksanakannya sesuai dengan ketentuan tersebut. Artinya aturan ini adalah murni dari Allah (taken for granted) dan tidak bisa ditawar. Hal ini sebagaimana dalam bilangan rakaat shalat. Mengapa Shalat shubuh dua rakaat, dzuhur empat rakaat, dan ashar empat rakaat? lantas mengapa gerakan shalat seperti itu? tidakkah manusia punya pilihan variasi gerakan sendiri yang lebih efisien mungkin? Tentu Akal manusia belum, bahkan tidak akan mampu mengetahui alasan rasional dari jumlah rakaat masing-masing salat lima waktu tersebut. Itu semua adalah ranah ibadah yang sifatnya ta’abbudi. Dan biasanya praktik ibadah yang ta’abbudi ini banyak ditemui dalam tataran praktek ibadah mahdlah atau murni.

Sedangkan yang kedua adalah ta’aqquli adalah sebaliknya. Manusia masih bisa menalar apa alasan serta tujuan dibalik syariat tersebut. Untuk hal ini biasanya yang masuk dalam kategori ini adalah di bidang muamalah..

Begitupula dalam masalah hukum najis mukhaffafah pada urin bayi laki-laki ini. Dimana urin bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum memakan makanan apapun selain ASI dari ibunya. Maka, cara pensucian najisnya cukup dipercikkan air. Tidak diharuskan sampai mengalir.

Hal ini berbeda jika urin tersebut berasal dari bayi perempuan. Walaupun belum berusia dua tahun dan belum memakan makanan selain ASI. Maka cara pensucian najisnya harus dibasuh dengan air yang yang mengalir. Para ulama memasukkan urin bayi perempuan ini dalam kategori Najis Mutawassithah.

Sama-sama bayi, akan tetapi mengapa implikasi hukumnya berbeda? Nah menurut para ulama permasalahan ini merupakan ranah ta’abbudi. Murni perintah dari Allah. Kita harus menerimanya walaupun tidak mengetahui alasan dan tujuannya. Sebagaimana pendapat yang dipilih oleh Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dalam Taqrirat al-Sadidah hal. 134. Beliau menyebutkan urusan ini merupakan ranah ta’abbudi.

وَحكْمَةُ الْفَرْق بَيْنَ بَوْلِ الصَّبِيِّ وَالصَّبِيَّةِ التَّعَبُّدُ لِوُرُوْدِ النصِّ

 Hikmah dibedakannya (hukum) urin bayi laki-laki dan perempuan adalah taábbud karena terdapat dasar riwayat hadis yang melatarbelakanginya.

Dasar yang dijadikan patokan para ulama mengenai permasalahan ini adalah riwayat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya. Dimana suatu ketika Ummu Qais pernah membawa anak laki-lakinya yang masih belum makan apapun selain ASI kepada Rasulullah. Dan ketika anak tersebut berada di pangkuan Rasulullah, anaknya tersebut kencing di pangkuan beliau. Rasulullah pun hanya memercikkan air kepada bagian yang terkena kencing tersebut.

Ada pula hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dalam Sunan At-Turmudzi:

قالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، ويُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الغُلامِ

Rasulullah Saw bersabda: “Kencing bayi perempuan dicuci dan kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan saja dengan air.” (HR. Turmudzi)

Dari kedua hadis ini sudah cukup dijadikan dasar para ulama madzhab syafii untuk memberikan hukum berbeda pada urin bayi laki-laki dan perempuan. Dan dalam hadis tersebut Rasulullah pun tidak menyebut secara khusus apa maksud dan tujuan di balik perbedaan hukum tersebut. Hal inilah yang dimaksud konsep ta’abbudi diatas. Jadi walaupun kita tidak mengetahui alasan dan tujuan ditetapkannya sebuah hukum. Akan tetapi, kita tetap wajib melaksanakannya karena murni sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah yang dalam hal ini disyariatkan lewat Rasulullah.

Namun walaupun begitu, adapula sebagian ulama yang mencoba berfikir dan merumuskan beberapa alternatif alasan di balik hukum mukhoffafah tersebut. Tidak sebagai upaya mengubah ketentuan hukum tentunya. Akan tetapi lebih kepada menguatkan keyakinan manusia dalam mentaati ketentuan hukum yang ta’abbudi itu.

Namun perlu dicatat, karena hal ini adalah murni ijtihad para ulama. Dan tidak ada nash langsung dalam al-Qur’an dan hadis. Maka hal ini sifatnya bukan mutlak kebenarannya, akan tetapi hanya dzanni. Karena sejatinya yang mengetahui hakikat, hikmah serta tujuan dibalik syariat Allah hanyalah Allah sendiri.

Sebagaimana yang dikutip Habib Zain dalam taqrirat al-Sadidah. Beliau menghimpun beberapa pendapat ulama mengenai mukhoffafah ini:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لأَنَّ بَوْلَهُ أَرَقُّ مِنْ بَوْلِهَأ وَقِيْلَ لِأَنَّهُ يَبْتَلى دَائمًا بِحَمْلِهِ, وَقِيْلَ لِأَنَّ أصلَ خَلْقِهِ مِنْ مَاءٍ وَطِيْنٍ ( سيدنا ادم) وَ أصْلِ خَلْقِهَأ مِنْ لَحْمٍ وَدَمٍ (سيدتنا حواء) وَقِيْلَ لِأَنَّ بُلُوغِهِ بِمَاؤِعٍ طَاهِرٍ (المَني) وبُلُوْغُهَا مِنْ مَائِعٍ نَجِسٍ (دّمُ الْحَيْضِ)

(Pendapat pertama) Sebagian ulama mengatakan: Perbedaan hukum urin bayi laki-laki dan perempuan dikarenakan urin bayi laki-laki bersifat lebih lembut daripada urin bayi perempuan.

(Pendapat Kedua), Karena dalam proses mengandung, bayi laki-laki banyak menguji.

(Pendapat Ketiga), Karena asal penciptaan laki-laki berasal dari air dan tanah yang suci (Nabi Adam) Sedangkan asa penciptaan perempuan adalah dari daging dan darah (Hawa)

(Pendapat Keempat), Karena tanda balighnya laki-laki dengan sesuatu yang suci (mani). Sedangkan tanda balighnya perempuan dengan mengeluarkan cairan yang najis (Haid)

Imam Khatib as-Syirbini dalam al-Iqna’ juga menambahi perihal mukhoffafah. Beliau mencatat:

وَفرق بَينَهُمَا بِأَنَّ اللإِئْتِلَافَ بِحَمْلِ الصَّبِيِّ يَكْثُرُ فَخَفَّفَ فِى بَوْلِهِ لأَنَّ بَوْلَهُ أَرَقُّ مِنْ بَوْلِهَأ فَلَا يَلْصُقُ بِالمَحَلِّ كَلُصُوْقِ بَوْلِهَاَ بِهِ

“Dibedakan hukum diantara Bayi laki-laki dan perempuan adalah karena bayi laki-laki lebih banyak disukai ketika digendong, sehingga air seninya pun ditolerir hukumnya. Karena urin bayi laki-laki lebih lembut daripada bayi perempuan. Airnya pun tidak begitu menempel pada tempat yang dikenai, berbeda dengan urin perempuan yang menempel.”

Namun, belakangan diketahui setelah dilakukan pengkajian dan penelitian mengenai urin bayi laki-laki dan perempuan. Dapat diketahui bahwa perbedaan penetapan hukum urin bayi laki-laki dan perempuan dalam syariat islam mendapatkan penguatnya. Penelitian ini pernah dilakukan Ashil Muhammad Ali dari Fakultas Sains, jurusan Fisika dan Dr. Ahmad Muhammad Shalih dari Fakultas Kedokteran, jurusan Mikrobiologi Medis (kedokteran) dari Universitas Dohuk, Irak. Setelah melakukan penelitian pada 75 bayi di sana, mereka menyimpulkan bahwa urin bayi perempuan mengandung bakteri lebih banyak daripada bayi laki-laki.

Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Sri Maiyena dalam Jurnal Sainstek Institut Agama Islam Negeri Batusangkar. Sri Maiyena melakukan analisis perbedaan urin bayi perempuan dan bayi laki-laki menggunakan teknik computed radiography. Dan hasil akhirnya pun menunjukkan bahwa terdapat perbedaan citra dan koefisien pada kedua sampel urin (Sri Maiyena, 2014 : 178-179). Hal ini menunjukkan bahwa itu semua berkaitan erat dengan perbedaan hukum kenajisan, termasuk mukhoffafah yang terdapat dalam fikih Islam. (AN)

Wallahu a’lam.

Air kencing bayi perempuan yang belum makan selain ASI termasuk golongan najis | admin | 4.5
shopee flash sale gratis ongkir
x