Apa hukum memakai celana bagi wanita?

By On Friday, November 25th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Apa hukum memakai celana bagi wanita? – Pa kabar teman semua, Makasih banyak sudah mau datang di website trendwisata.com ini. Siang ini, kami dari web TrendWisata mau menampilkan tanya jawab yang mantab yang mengulas Apa hukum memakai celana bagi wanita?. Silahkan om dan tante simak di bawah ini:

Celana dianggap bisa membentuk aurat perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, Perempuan memakai celana? Meski sebagian ulama memperbolehkan dengan sejumlah catatan, seperti tidak ketat dan transparan, tetapi sebagian ulama tidak mengizinkan. Apa alasan penggunaan celana tidak boleh dalam pandangan sebagian ahli fikih?

Syekh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah berkata walaupun celana yang digunakan bisa menutupi aurat, namun dia berpandangan, celana
bisa tetap menggoda dan membangkitkan syahwat, apalagi jika celana tersebut sampai bercorak. Sebagaimana telah diketahui bahwa di antara syarat jilbab syar’i adalah tidak sempit atau tidak membentuk lekuk tubuh.

Sedangkan celana panjang sendiri adalah di antara pakaian yang mengundang syahwat, bahkan kadang celana tersebut sampai terlalu ketat. Ada juga celana yang warnanya seperti warna kulit sampai dikira perempuan
tidak memakai celana sama sekali. Ini sungguh perilaku yang tidak dibenarkan namun sudah tersebar luas. Oleh karena itu, tidak diperkenankan perempuan memakai celana panjang.

Jika seorang perempuan memakai celana semacam itu di hadapan suami, selama celananya tidak menyerupai pakaian pria, maka tidak masalah. Namun tidak diperkenankan jika dipakai di hadapan mahram lebih-lebih di hadapan pria nonmahram.  

Namun, tidak mengapa jika wanita mengenakan celana panjang di
dalam pakaian luarnya yang tertutup seperti rok atau gamis. Karena memakai celana di bagian dalam seperti lebih menjaga dari terbukanya aurat lebih-lebih kalau naik kendaraan.

Dalam HR Ahmad, Usamah bin Zaid pernah berkata, “Rasulullah SAW pernah memakaikanku baju quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan Dihyah al-Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah menanyakanku: ‘Mengapa baju quthbiyyah-nya tidak
engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya’.” 

Sementara itu, dalam kitanya Majmu al-Fatawa, Ibnu Taimiyah menjelaskan HR Muslim, Nabi SAW bersabda, “Dua golongan manusia termasuk ahli neraka dan aku belum pernah melihatnya yaitu: kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pukulkan kepada
orang-orang serta perempuan yang memakai pakaian tapi telanjang yang berjalan lenggak-lenggok serta bergoyang-goyang, kepalanya seperti punuk seekor unta yang besar. Niscaya mereka tidak akan masuk surga serta tidak akan mencium bau harumnya. Sesungguhnya bau harum surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”

Menurut Ibnu Taimiyyah, kalimat “kasiyatun `aariyatun” bermakna perempuan yang mengenakan pakaian tetapi tidak menutup tubuhnya. 

Dia
berpakaian tapi pada hakikatnya tetap telanjang, seperti mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya atau pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuh, seperti lengannya dan lain-lainnya. Sesungguhnya pakaian perempuan adalah yang menutup tubuh, tebal, dan lebar sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya dan postur badannya.

Hukum Wanita Memakai Celana Panjang Longgar kerap menjadi perdebatan terutama mengingat saat ini banyak wanita muslimah yang mengedepankan trend fashion.  Salah satunya adalah penggunaan atau pemakian celana panjang yang longgar dalam aktivitas kesehariannya, baik didalam maupun diluar rumah. Tentu saja hal ini menjadikan pandangan islam terhadap perkara ini juga menarik untuk dibahas. nah, dalam artikel ini akan dibahas mengenai Hukum Wanita Memakai Celana Panjang Longgar
Menurut islam.

Sebelum mengkaji lebih jauh, maka harus diketahui bahwa idak boleh bagi seorang wanita di hadapan selain suaminya untuk mengenakan celana seperti itu karena jika ia mengenakan seperti itu maka itu akan menampakkan bentuk lekuk tubuhnya. Padahal para wanita diperintahkan untuk mengenakan pakaian yang menutupi seluruh badannya seperti pada hukum wanita shalat di masjid
.

Wanita adalah biang fitnah (mudah menggoda yang lainnya). Segala sesuatu yang menampakkan bentuk lekuk tubuhnya diharamkan untuk ditampakkan pada pria atau pada wanita dan selainnya, kecuali pada suaminya.

Suaminya boleh saja melihat dirinya, yaitu pada seluruh badannya. Wanita boleh saja menggunakan celana panjang yang longgar atau yang sempit sekali pun, atau semacamnya. Terkait celana model kulot, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah Al Maajid ketika ditanya masalah ini menjawab,

“Jika celana tersebut longgar dan menutupi hingga lutut, maka boleh dikenakan di hadapan para wanita dan mahromnya. Adapun jika celana tersebut sempit, maka tidak boleh ditampakkan pada wanita lainnya kecuali pada suaminya saja.

Di antara tuntunan Islam dalam berpakaian bagi wanita muslimah adalah:

  1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan, (sebagian ulama berpendapat wajib menutup wajah kecuali dua buah mata yang kelihatan).
  2. Hendaknya bahan pakaian
    yang digunakan tebal, tidak tipis dan transparan yang bisa menggambarkan warna kulit dan bagian badan di balik busana.
  3. Hendaknya longgar dan tidak sempit, sehingga tidak nenonjolkan dan mencetak bagian-bagin tubuh wanita. Karena ini dapat membangkitkan birahi lawan jenisnya.
  4. Hendaknya pakaian yang dipakai oleh wanita muslimah tidak sama dengan pakaian khusus yang lazim dipakai oleh kaum pria, di antaranya celana panjang.
  5. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
  6. Bukan
    sebagai perhiasan seperti yang dipakai oleh para wanita muslimah sekarang ini, seperti memakai pakaian dengan warna dan model yang beraneka ragam sehingga menarik banyak perhatian.

Ditimbang dari kriteria pakaian muslimah di atas, paling tidak ada dua poin yang menjadi sorotan berkaitan dengan celana panjang yang banyak dikenakan wanita muslimah pada masa kita sekarang ini sebgaimana fadhilan
shalawat dan fadhilah bismillah . .

Pertama, celana yang biasa dipakai wanita muslimah, biasanya dipadu juga dengan jilbab, masih menggambarkan lekuk tubuhnya, seperti betis, paha, dan pinggulnya. Dan pakaian seperti ini mengundang fitnah laki-laki. Sedangkan hikmah pakaian wanita muslimah yang disebutkan Al-Qur’an melindungi wanita dari fitnah dan gangguan laki-laki.

Hai
Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS. Al Ahzab: 59)

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan manusia termasuk ahli neraka dan aku belum pernah melihatnya yaitu: kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pukulkan kepada orang-orang serta wanita yang memakai
pakaian tapi telanjang yang berjalan lenggak-lenggok serta bergoyang-goyang, kepalanya seperti punuk seekor unta yang besar. Niscaya mereka tidak akan masuk surga serta tidak akan mencium bau harumnya. Sesungguhnya bau harum surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”(HR. Muslim).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa-nya menafsirkan arti “kasiyatun `aariyatun” yaitu wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutup
tubuhnya. Ia berpakaian tapi pada hakekatnya tetap telanjang, seperti mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya, atau pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuhnya, seperti lengannya dan lain-lainnya. Sesungguhnya pakaian wanita adalah yang menutup tubuh, tebal dan lebar sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya dan postur badannya. (At-Tanbihat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 23).

Kedua, celana panjang yang banyak dikenakan wanita muslimah sekarang ini menyerupai
pakaian laki-laki. Sedangkan celana panjang sejak dahulu identik sebagai pakaian laki-laki untuk menunjang perannya dalam beraktifitas untuk mencari nafkah. Dan terdapat kaidah larangan menggunakan sesuatu yang secara umum merupakan ciri khas laki-laki supaya tidak menyerupai mereka sebagaimana hukum menikah tanpa wli kandung dan
hukum nikah siri dengan istri orang .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari).

Dengan dasar tersebut, kemudian para ulama banyak yang menfatwakan, bahwa penggunaan celana baik yang longgar atau ketat hanya boleh dipakai sebagai dasar bagian dalam adau dalaman. Dan
tidak boleh digunakan di luar bersama dengan pakaian lain untuk luaran. Meskipun celana tersebut longgar  sebagimana celana kulot yang masih menjadi trend namun banyak ulama yang masih berkeberatan celana tersebut dipakai untuk luaran.

Selain itu,  hendaknya seorang  muslimah tidak terlena dengan berbagai mode pakaian yang diimpor . Banyak dari mode pakaian itu yang tidak sesuai dengan pakaian Islam, termasuk juga celana longgara atau celana kulot. Maka wanita yang
mengenakannya akan tergolong dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Ada dua golongan ahli neraka dari umatku, saya tidak melihat mereka sebelumnya, suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan mencium baunya, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak sekian dan
sekian”.

Masih mengenai celana panjang longgar, pada hakikatnya hal tersebut masih tidak diperbolehkan. Sebab, pada dasarnya bentuknya masih celana hanya saja berbeda model. Namun, terdapat ulama yang memperbolehkan pemakaiannnya namun dengan catatan dan ketentuan yang tidak melanggar syariat islam. Sesungguhnya islam adalah agama yang moderat dan lurus serta menjunjung tinggi kehormatan dan cara berpakaian wanita.

Itulah tadi,  Hukum Wanita Memakai Celana Panjang
Longgar Menurut islam. Semoga dapat bermanfaat.

Apakah boleh wanita muslimah memakai celana?

Begitu juga dengan memakai celana, asalkan tidak menyalahi aturan menutup aurat yang sudah kami sebutkan di atas, seperti tidak tipis, tidak transparan, tidak ketat, tidak menampakkan lekuk tubuh, maka hukumnya boleh.

Apa hukum perempuan pakai celana panjang?

Selain itu, Buya Yahya menyebutkan bahwa perempuan disunahkan memakai celana panjang sebagai dalaman ketika menggunakan rok atau gamis. Memakai celana panjang sebagai dalaman dianjurkan dengan tujuan agar jika rok atau gamis semisal tersingkat, maka masih ada yang menutupi auratnya.

Apa hukum istri memakai celana dalam waktu tidur?

Namun, dalam catatan Penulis Moh Juriyanto seperti dinukil Bincangsyariah.com diungkap bahwa pada dasarnya, seorang istri boleh memakai celana dalam waktu tidur bersama suaminya, dan boleh juga tidak memakainya.

Apakah tidak memakai celana dalam sunnah?

Jika kita melaksanakan shalat dan kita tidak memakai celana dalam, maka shalat kita tetap dihukumi sah. Selama aurat tertutup dengan baik melalui pakaian luar yang kita pakai, maka shalat kita dinilai sah meskipun kita tidak memakai celan dalam.

Apa hukum memakai celana bagi wanita? | admin | 4.5
shopee flash sale gratis ongkir
x