Apa itu batuk 100 hari

By On Wednesday, November 9th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Apa itu batuk 100 hari – Hallo kawan-kawan semua, Makasih banyak sudah mau datang di halaman blog Trend Wisata dot com ini. Saat ini, kita di web site Trend Wisata akan share Q&A yang wokeh yang menampilkan tentang Apa itu batuk 100 hari. Sebaiknya om dan tante melihat dibawah ini:

Batuk rejan atau yang biasa dikenal batuk 100 hari adalah infeksi bakteri yang menimbulkan inflamasi pada paru-paru dan saluran pernapasan. Bakteri dari penyakit yang istilah medisnya adalah pertusis ini juga bisa menginfeksi trakea, yang menyebabkan batuk parah. Mums perlu mewaspadai penyakit ini pada si Kecil, karena bisa membahayakan. Berikut penjelasan lengkapnya, seperti dilansir dari Baby Center.

Baca juga:
Mencegah Batuk dan Pilek di Musim Hujan

Apa Gejalanya? 

Batuk rejan sering kali diawali dengan gejala yang mirip demam atau flu, misalnya bersin, hidung berlendir, dan batuk ringan. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung hingga 2 minggu, sebelum gejala
batuk yang lebih parah muncul.

Anak yang terkena batuk rejan biasanya bisa batuk selama 20–30 detik tanpa henti, kemudian kesulitan untuk menarik napas sebelum batuk-batuknya kembali. Selama batuk-batuk, yang cenderung terjadi di malam hari, bibir dan kuku anak biasanya berubah menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen. Anak juga bisa batuk hingga memuntahkan lendir yang tebal.

Bahaya Batuk Rejan pada Bayi

Penyakit ini bisa menjadi sangat berbahaya pada anak di bawah 1
tahun, terutama yang lebih rentan terkena komplikasi, seperti pneumonia, kerusakan otak, hingga kematian. Kalau Mums curiga si Kecil terkena batuk rejan, segera periksakan ke dokter.

Kalau si Kecil sudah terkena batuk rejan, Mums perlu terus mengawasinya. Kalau si Kecil mengalami kesulitan bernapas, segera bawa ke rumah sakit terdekat. Biasanya, anak harus dirawat di rumah sakit jika sudah mengalami muntah-muntah, kejang, dan dehidrasi.

Baca juga:
Tips Memilih Obat Batuk

Bagaimana Anak Bisa Terkena Batuk Rejan?

Batuk rejan adalah penyakit yang sangat menular. Si Kecil bisa saja tertular dari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi bakteri pertusis. Bahkan, ia bisa saja tertular jika menghirup udara yang sudah terinfeksi bakteri. Bakteri pertusis biasanya masuk ke tubuh lewat hidung dan tenggorokan.

Di Indonesia sendiri,
bayi diwajibkan menerima imunisasi vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Imunisasi ini biasanya dilakukan ketika bayi sudah berusia 2 bulan dan akan dilanjutkan sampai anak berusia 4–6 tahun.

Proteksi terhadap pertusis di dalam vaksin akan terus meningkat. Jadi, risiko anak terkena pertusis akan menurun dan sangat kecil ketika ia sudah menerima suntikan kelima di usia 4–6 tahun. Meskipun begitu,
anak tetap memiliki risiko kecil terkena penyakit tersebut, karena vaksinnya tidak 100% efektif.

Berdasarkan Centers for Disease Control (CDC), bayi harus dijauhkan dari siapapun yang sedang mengalami batuk-batuk. CDC juga merekomendasikan agar orang dewasa yang melakukan kontak dengan bayi harus menerima dosis vaksin DPT, untuk mencegah penularan pada bayi.

Apa yang Akan Dokter Lakukan?

Biasanya, dokter akan mendengarkan batuk si Kecil terlebih dahulu. Kemudian, ia akan
dites untuk mendeteksi bakteri pertusis lewat hidung. Kalau dokter mencurigai si Kecil terkena batuk rejan, dokter akan langsung memberikan antibiotik untuk melawan infeksinya, meskipun hasil tes resmi belum keluar.

Antibiotik bisa membantu meredakan gejalanya jika diberikan sejak dini. Jika baru diberikan ketika kondisinya sudah mulai parah, biasanya efeknya sudah tidak efektif, tetapi tetap bisa membasmi bakteri dari sekresi si Kecil. Hal tersebut akan mencegah infeksinya menular ke
orang lain. Setelah itu, Mums tidak bisa berbuat banyak selain menunggu hingga batuknya mereda. Hal tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar 6–10 minggu.

Jangan sembarangan memberikan obat batuk kepada si Kecil, kecuali jika direkomendasikan oleh dokter. Batuk adalah reaksi tubuh yang alami untuk membersihkan paru-paru dari lendir. Namun kalau batuk si Kecil tetap parah meski sudah diberikan
antibiotik, segeralah periksakan ke dokter. Pada beberapa kasus serius, anak harus dirawat di rumah sakit, diberikan bantuan oksigen, dan diberikan cairan tambahan untuk mencegah dehidrasi.

Baca juga: Obat untuk Anak Demam, Panas, Batuk, Pilek

Seperti yang sudah
dijelaskan di atas, batuk rejan bisa menjadi kondisi yang berbahaya pada anak, terutama yang masih berusia di bawah 1 tahun. Oleh sebab itu, waspadai penyakit ini. Informasi di atas bisa membantu Mums untuk lebih mengerti dan waspada tentang penyakit ini. (UH/AS)

Batuk rejan—juga dikenal sebagai pertusis, batuk 100 hari, atau whooping cough—adalah penyakit pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.

Ciri khas pertusis adalah batuk keras yang tidak terkendali yang sering membuat penderitanya kesulitan bernapas. Setelah batuk sembuh, penderitanya sering kali perlu menarik
napas dalam-dalam yang menghasilkan suara rejan atau seperti bunyi “whoop”.

Pertusis dapat segala usia, tetapi bisa sangat serius bahkan mematikan untuk bayi usia di bawah satu tahun. Untuk mewaspadai penyakit ini, yuk, kenali fakta pertusis atau batuk rejan mulai dari penyebab, gejala, dan cara mencegahnya. Baca sampai habis, ya!

1. Apa itu batuk rejan?

ilustrasi batuk rejan
(well.blogs.nytimes.com)

Dilansir Patient, batuk rejan adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Bakteri menyebar ke orang lain melalui droplet yang terkontaminasi di udara, yang dikeluarkan saat penderitanya batuk. Bakteri juga bisa menyebar lewat kontak dengan penderita.

Bakteri akan menempel pada sel-sel yang melapisi jalan napas atau
saluran udara (airway), yaitu saluran berbentuk pipa yang membawa udara yang kaya akan oksigen ke alveoli di paru-paru. Kemudian bakteri berkembang biak dan menyebabkan gejala.

Bakteri memengaruhi lapisan saluran udara dalam beberapa cara yang menyebabkan batuk berkelanjutan untuk waktu yang lama setelah bakteri hilang.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tahun 2018 tercatat lebih 150.000 kasus pertusis secara global.

ilustrasi batuk rejan atau pertusis pada
anak (babycentre.co.uk)

Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pertusis dapat berdampak sangat serius pada bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Gejalanya biasa berkembang dalam 5 hingga 10 hari setelah seseorang terpapar. Kadang, gejala tidak berkembang sampai 3 minggu.

Gejala awal

Penyakit ini umumnya dimulai dengan gejala seperti
pilek dan mungkin batuk atau demam ringan. Pada bayi, batuknya bisa minimal atau tidak ada. Bayi mungkin memiliki gejala apnea. Apnea adalah adanya jeda dalam pola pernapasan anak.

Batuk rejan lebih berbahaya bila dialami bayi. Sekitar setengah dari bayi yang usianya di bawah 1 tahun yang terkena batuk rejan butuh perawatan di rumah sakit.

Gejala awal bisa berlangsung selama 1 hingga 2 minggu dan biasanya
meliputi:

  • Hidung meler 
  • Demam ringan (umumnya minimal selama perjalanan penyakit)
  • Batuk ringan sesekali
  • Apnea (pada bayi)

Pertusis pada tahap awal terlihat seperti pilek biasa. Oleh karena itu, dokter sering tidak mencurigai atau mendiagnosisnya sampai gejala yang lebih parah muncul.

Gejala tahap lanjut

Setelah 1 hingga 2 minggu dan
seiring perkembangan penyakit, gejala khas pertusis mungkin muncul dan meliputi:

  • Batuk paroksimal, yaitu batuk yang sering dan cepat. Batuk disertai dengan bunyi “whoop” di tiap akhir batuk. Inilah alasan pertusis disebut whooping cough
  • Muntah selama atau setelah batuk paroksimal
  • Kelelahan setelah batuk paroksimal

Pertusis dapat menyebabkan batuk yang hebat dan cepat, berulang-ulang, hingga udara hilang dari paru-paru. Ketika
tidak ada lagi udara di paru-paru, penderitanya dipaksa untuk menarik napas dengan suara “whoop” yang keras.

Batuk ekstrem ini dapat menyebabkan seseorang muntah dan sangat lelah. Meskipun sering kelelahan setelah batuk, tetapi penderitanya biasanya terlihat cukup baik di antara jeda batuk paroksimal.

Batuk paroksimal menjadi lebih umum dan memburuk saat penyakit berlanjut, dan menjadi lebih sering terjadi pada malam hari. Batuk bisa berlangsung selama 10 minggu atau lebih.
Inilah kenapa di beberapa negara batuk rejan dijuluki batuk 100 hari.

Suara “whoop” kadang tidak ada bila penyakitnya lebih ringan. Infeksi umumnya ringan pada remaja dan orang dewasa, khususnya pada orang-orang yang sudah mendapatkan vaksinasi pertusis.

Baca Juga: 7 Tanda Ini Mungkin Indikasi Pneumonia, Tak Sekadar Batuk

3. Penyebab batuk rejan

ilustrasi Bordetella pertussis di saluran
pernapa(esanum.de)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, batuk rejan disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis. Infeksi terjadi pada lapisan saluran udara, terutama di trakea (tenggorokan) serta bronkus (saluran udara yang bercabang dari trakea ke paru-paru).

Setelah bakteri tersebut mencapai lapisan saluran udara, ia akan menggandakan diri dan melumpuhkan komponen pembersih lendir dari lapisan tersebut, menyebabkan akumulasi lendir. Saat lendir
menumpuk, penderitanya akan mencoba mengeluarkannya dengan batuk; batuk menjadi lebih intens karena ada begitu banyak lendir.

Saat peradangan pada saluran udara semakin parah (membengkak), mereka menjadi lebih sempit, yang membuat lebih sulit untuk bernapas dan menyebabkan suara “whoop” ketika pasien mencoba untuk bernapas kembali setelah serangan batuk.

4. Faktor risiko batuk rejan

ilustrasi bayi menangis (mommabe.com)

Dilansir MedicineNet, batuk rejan biasa menyerang siapa saja. Bayi usia di bawah 1 tahun yang belum diimunisasi atau imunisasinya tidak lengkap sangat rentan terhadap infeksi dan komplikasinya, yang dapat mencakup pneumonia dan kejang. Bayi yang terkena batuk rejan juga dapat mengalami episode apnea.

Infeksi
pertusis terjadi di seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang memiliki program vaksinasi yang baik dan berkembang.

Orang dewasa dapat mengembangkan batuk rejan karena kekebalan dari vaksinasi yang dilakukan pada masa kanak-kanak dapat hilang seiring waktu.

5. Diagnosis dan pengobatan pertusis

ilustrasi obat tablet antibiotik
(center4research.org)

Untuk mendiagnosis batuk rejan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil sampel lendir di hidung dan tenggorokan. Sampel tersebut kemudian akan diuji keberadaan bakteri B. pertussis. Tes darah mungkin juga diperlukan untuk membuat diagnosis yang akurat.

Setelah diagnosis ditegakkan, perawatan akan segera diberikan oleh dokter yang menangani.

Bayi umumnya akan dirawat di rumah sakit karena batuk rejan lebih mungkin menyebabkan
komplikasi. Infus intravena bisa diperlukan bila anak tidak dapat menelan cairan atau makanan. Bayi akan ditempatkan di bangsal isolasi untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Anak-anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa biasanya dapat dirawat di rumah.

Obat-obatan

Umumnya dokter akan memberikan antibiotik untuk membunuh bakteri dan untuk membantu pasien pulih lebih cepat. Antibiotik mungkin diresepkan untuk orang-orang yang berkontak dekat atau
tinggal serumah dengan pasien. Antibiotik juga menghentikan pasien agar tidak menular dalam waktu 5 hari setelah meminumnya.

Jika pertusis tidak terdiagnosis sampai stadium lanjut, antibiotik tidak akan diberikan, karena pada saat itu bakteri sudah hilang.

Obat-obatan lainnya yang mungkin diberikan oleh dokter meliputi:

  • Kortikosteroid: diresepkan jika anak memiliki gejala yang parah, diberikan bersama dengan antibiotik. Kortikosteroid adalah hormon
    (steroid) kuat yang sangat efektif mengurangi peradangan pada saluran pernapasan, sehingga memudahkan anak untuk bernapas
  • Oksigen: dapat diberikan melalui facemask jika diperlukan bantuan pernapasan tambahan. Pipet penyedot ingus atau bulb syringe juga dapat digunakan untuk menyedot lendir yang menumpuk di saluran udara
  • Pengobatan untuk batuk: obat batuk yang dijual bebas tidak efektif untuk meredakan batuk rejan dan dokter
    tidak menyarankan penggunaannya. Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilakukan tentang batuk, karena batuk membantu mengeluarkan dahak yang menumpuk di saluran udara

Perawatan yang bisa dilakukan di rumah

Untuk anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa, gejala batuk rejan biasanya tidak terlalu parah. Dokter mungkin menyarankan agar pasien untuk:

  • Banyak istirahat
  • Konsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi
  • Menjaga kelebihan lendir
    dan muntah bersih dari saluran udara dan bagian belakang tenggorokan untuk mencegah tersedak
  • Asetaminofen, parasetamol, atau ibuprofen dapat membantu meredakan sakit tenggorokan dan menurunkan demam. Jangan berikan aspirin untuk anak di bawah 16 tahun

6. Komplikasi yang bisa terjadi

ilustrasi anak yang mengalami pertusis atau batuk
rejan (mana.md)

Merujuk keterangan dari CDC, pertusis dapat menyebabkan komplikasi serius, kadang bisa fatal, pada bayi dan anak kecil, khususnya mereka yang belum menerima vaksinasi atau mendapat vaksinasi lengkap pertusis.

Sekitar setengah dari bayi di bawah usia 1 tahun yang menderita pertusis butuh perawatan di rumah sakit. Makin kecil usia bayi, lebih besar kemungkinan mereka untuk dirawat di rumah sakit. Dari bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit dengan pertusis
sekitar:

  • 1 dari 4 (23 persen) mengalami pneumonia (infeksi paru-paru)
  • 1 dari 100 (1,1 persen) akan mengalami kejang (kejang hebat, gemetar tak terkendali)
  • 3 dari 5 (61 persen) akan mengalami apnea (pernapasan melambat atau berhenti)
  • 1 dari 300 (0,3 persen) akan mengalami ensefalopati (penyakit otak)
  • 1 dari 100 (1 persen) akan meninggal dunia

Pada remaja dan orang dewasa, komplikasi juga bisa terjadi. Ini umumnya lebih tidak serius, khususnya
pada orang-orang yang telah mendapat vaksinasi pertusis. Batuknya sendiri kadang menyebabkan komplikasi pada remaja dan orang dewasa. Sebagai contoh, seseorang bisa pingsan atau patah (fraktur) tulang rusuk saat serangan batuk terjadi.

Dalam satu penelitian, kurang dari 1 dari 20 (5 persen) remaja dan orang dewasa dengan pertusis membutuhkan perawatan di rumah sakit. Profesional kesehatan mendiagnosis pneumonia (infeksi paru-paru) pada 1 dari 50 (2 persen) pasien tersebut. Komplikasi yang
paling umum dalam penelitian lain adalah:

  • Penurunan berat badan pada 1 dari 3 (33 persen) orang dewasa
  • Kehilangan kontrol kandung kemih pada 1 dari 3 (28 persen) orang dewasa
  • Pingsan pada 3 dari 50 (6 persen) orang dewasa
  • Patah tulang rusuk akibat batuk parah pada 1 dari 25 (4 persen) orang dewasa

7. Cara mencegah batuk rejan

ilustrasi vaksinasi DTaP
pada bayi (pharmaceutical-journal.com)

Vaksinasi adalah kunci penting dalam pencegahan batuk rejan. Jika ada satu anggota keluarga yang terinfeksi, mungkin anggota keluarga lain juga diberikan antibiotik.

Untuk populasi umum, vaksin pertusis tersedia untuk mencegah penyakit, yaitu vaksin DTaP yang dapat memberi perlindungan terhadap difteri, tetanus, dan pertusis.

Sebagai bagian dari jadwal imunisasi yang direkomendasikan, suntikan diberikan kepada bayi dan anak-anak
sebanyak lima kali.

Sangat penting bahwa ibu hamil, serta mereka yang berhubungan dekat dengan bayi (bayi baru lahir dan bayi hingga usia 12 bulan), juga mendapat vaksinasi pertusis.

Menurut laporan dalam jurnal Cochrane Database of Systematic Reviews tahun 2010, batuk rejan memengaruhi sekitar 48,5 juta orang setiap tahun, dari jumlah tersebut, 295.000 akan meninggal. Menurut WHO, pertusis adalah salah satu penyebab utama kematian yang dapat dicegah dengan vaksin secara
global. Mayoritas kasus (lebih dari 90 persen) terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Anak-anak dari orang tua yang tidak mengizinkan mereka divaksinasi 23 kali lebih mungkin mengalami batuk rejan dibandingkan dengan anak-anak yang diimunisasi lengkap, menurut penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Pediatrics tahun 2009.

Demikianlah fakta penting seputar
batuk rejan atau pertusis, atau juga dijuluki batuk 100 hari. Bila ada gejala yang mengarah ke penyakit ini, baik pada diri, anak, atau anggota keluarga lainnya, sebaiknya segera periksa ke dokter agar cepat mendapat penanganan dan terhindar dari komplikasi serius.

Baca Juga: Ketahui 7 Penyebab Kenapa Batuk Kamu Tak Kunjung Sembuh

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Apakah batuk 100 hari itu berbahaya?

Penyakit batuk 100 hari ini bisa menginfeksi siapa saja dan disegala usia, namun bisa menjadi bahaya hingga mematikan, jika terjadi pada bayi kurang dari satu tahun.

Apa yang dimaksud dengan batuk 100 hari?

Halodoc, Jakarta – Mengalami batuk 100 hari yang susah sembuh? Dalam medis, kondisi ini dikenal dengan nama batuk rejan atau pertusis. Disebut batuk 100 hari karena batuk jenis ini bisa berlangsung jangka panjang, hingga 100 hari, atau bahkan lebih. Batuk ini bisa menular dengan sangat mudah.

Berapa lama biasanya batuk rejan bisa sembuh?

Batuk rejan atau pertusis merupakan batuk yang sangat menular akibat infeksi bakteri Bordetella pertussis di saluran pernapasan. Kondisi ini dapat berlangsung selama 4-8 minggu sehingga dikenal juga dengan sebutan batuk seratus hari.

Apa yang terjadi jika batuk terus

Batuk terusmenerus merupakan salah satu gejala yang cukup umum dialami oleh penderita asma. Batuk kronis yang disebabkan oleh asma biasanya terjadi ketika infeksi menyerang saluran pernapasan atau setelah terpapar faktor pemicu serangan asma, misalnya paparan asap rokok, bahan kimia, atau wewangian.

Apa itu batuk 100 hari | admin | 4.5
shopee flash sale gratis ongkir
x