Apa saja kegiatan yang akan diadakan dalam acara Festival permainan Tradisional

By On Tuesday, September 27th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Apa saja kegiatan yang akan diadakan dalam acara Festival permainan Tradisional – Hi ibu dan bapak semua, Selamat datang di halaman blog TrendWisata ini. Malam ini, kita dari blog TrendWisata ingin sharing tanya dan jawab yang wokeh tentang Apa saja kegiatan yang akan diadakan dalam acara Festival permainan Tradisional. Kami persilakan om dan tante menonton dibawah ini:

Siswa dan siswi mengikuti festival permainan tradisional anak. Foto: AJNN/Imamatunnisa Farha.

BANDA ACEH – Sebanyak 504 siswa Sekolah Dasar (SD) di Banda Aceh mengikuti Festival Permainan Tradisional Anak di Stadion Harapan Bangsa, pada Sabtu (17/9). Ketua Panitia, Nurmatias mengatakan, kalau setiap kecamatan di Banda Aceh mengirimkan peserta untuk mengikuti kegiatan festival permainan anak tersebut. “Kegiatan ini sudah kita lakukan sejak 11 tahun yang lalu, namun terhenti karena pandemi Covid-19 yang melanda. Tahun ini kita mencoba lagi kegiatan ini, sudah kita laksanakan cabang permainan anak tradisional yaitu tarik tambang, engklek, terompah panjang, egrang, hadang, tarik situek, gasing, lari balok,” kata Nurmatias. Menurut Nurmatias, peserta berasal dari 13 gugus dan 9 kecamatan, dimana peserta-peserta ini telah diseleksi dari gugusnya masing-masing. Kemudian, mereka mewakili kecamatannya. “Kita laksanakan kegiatan untuk seluruh Banda Aceh dan alhamdulilah animo dari peserta cukup baik. Kegiatan ini salah satu cara memberi perhatian kepada anak-anak kita yang selama ini lebih banyak main gadget, sehingga terbentuk karakter individu atau rasa kepedulian yang masih kurang,” ungkapnya. Akan tetapi, sambungnya, dengan digelar permainan anak tradisional, banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka edukasi atau interaksi sosial. “Tidak kompetisi saja rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan dipupuk dalam kegiatan tersebut. Meski kegiatan cuma satu hari, kami berharap di sekolah ada kurikulum muatan lokal yang berkaitan dengan permainan tradisional anak atau kearifan lokal,” pungkasnya. Sementara itu, salah seorang guru SD 10 Banda Aceh, Siska mengungkapkan, kalau dirinya membawa anak-anak dari gugus manggis, Kecamatan Lueng Bata dengan total murid 50 orang. “Persiapannya lumayan matang, ada 2 minggu mempersiapkan siswa dan siswi untuk latihan. Setiap gugus dilakukan seleksi antar sekolah, tidak semuanya berasal dari sekolah yang sama. Ini kelas atas 4, 5, dan 6,” tuturnya. Sementara, salah satu siswa dari SD 2 Banda Aceh, Farasya yang mengikuti perlombaan hadang mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. 

“Kita membutuhkan tenaga kekuatan dan kegesitan, kita sekali main itu 8 menit dan sudah 3 kali bermain. Paling susah SD Kuta Alam karena sangat gesit,” tutupnya.

  • #
  • Siswa SD di Banda Aceh
  • Banda Aceh
  • Festival Permainan Tradisional

Editor: Mulyana Syahriyal

PURBALINGGA, INFO – Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga mengadakan Festival Budaya Lokal ‘Dolanan Anak’ guna memperkenalkan pada anak permainan pada jaman dulu. Festival Dolanan Anak sendiri merupakan gagasan dari Sanggar Tari Dresanala yang diselenggarakan di alam terbuka.

“Kenapa kami mengambil lokasi yang di alam terbuka karena untuk mengingat kembali jaman dulu kala ketika bermain itupun di alam terbuka,” kata salah satu Pengelola Kegiatan Festival Dolanan Anak, Sutomo saat ditemui pada acara Festival Budaya Lokal ‘Dolanan Anak’ di Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Senin (10/12).

Alam terbuka menurut lelaki yang akrab disapa Tomo menjadi tempat yang mengasyikan untuk bermain. Karena anak-anak bisa dengan leluasa bermain tanpa terbatas ruang, sehingga tidak terbatas hanya dengan bermain gawai.

“Untuk saat ini kami mencoba menggugah kembali agar anak-anak mau berkegiatan di lapangan dan untuk sedikit menghindar dari hp, agar tidak kecanduan dengan gadget,” ujarnya.

Dolanan anak tradisional, tentunya dapat memunculkan kebersamaan, kerukunan dan kerjasama antar anak. Anak juga dilatih untuk bersosialisasi dengan rekan sebayanya juga mengenal berbagai permainan tradisional yang dapat dimainkan di waktu senggang bersama teman-temannya.++

“Kalau di alam terbuka seperti ini jadi kerjasama muncul kembali, anak-anak di sini secara tidak langsung belajar bersosialisasi dan bermain dengan anak-anak yang lain tanpa  terganggu dengan gadget,” jelas Tomo.

Sekretaris Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Sri Kuncoro mengatakan Festival Dolanan Anak Tahun 2018 ini, diikuti oleh perwakilan dari 18 kecamatan se-wilayah Kabupaten Purbalingga. Satu kontingen mengirimkan 20 anak beserta bina damping.

“Ada dua lokasi yang disediakan dalam festival ini tempat untuk festival dolanan anak dan lokasi permainan tradisional jaman dulu yang sudah disiapkan teman-teman Dresanalan,” kata Sri Kuncoro.

Sebagai pemacu kegiatan tersebut, Dindikbud Kabupaten Purbalingga memberikan hadiah bagi enam penampil terbaik berupa piala dan uang pembinaan. Juara 1 mendapatkan Rp 4 juta, juara 2 meraih Rp 3 juta, dan juara 3 mendapatkan Rp 2 juta.

 “Sedangkan untuk juara harapan 1, 2, dan 3 masing-masing mendapat Rp 1,5 juta,” jelasnya.

Festival ini, ia menyebutkan pernah diadakan pada tiga tahun yang lalu dengan konsep acara yang berbeda. Tiga tahun lalu, festival ini berlansung di dalam ruangan , namun pada tahun ini para seniman di Kabupaten Purbalingga membuat konsep ruang terbuka sebagai tempat Festival Dolanan Bocah.

“Kami akan menjadikan agenda ini sebagai agenda rutin tahunan dan saya pesankan juga ke teman-teman  seniman Purbalingga untuk mempunyai ide cerdas lagi agar kegiatan ini akan lebih menggaung lagi,” ujar Sri Kuncoro.

Ia berharap dengan adanya festival ini anak-anak dapat tidak lagi asyik bermain dengan gawainya. Karena festival dolanan anak memiliki nilai posititf bagi anak, yang mana mereka dapat belajar gotong royong dan bersama-sama meluangkan waktu untuk bermain bersama.

“Anak-anak timbul kebersamaan dengan rekan-rekannya, juga timbul rasa mencintai seni tradisional,”ungkapnya.

Permainan yang dikenalkan oleh Sanggar Tari Dresanala ada lima permainan yakni gadhon, meriam bumbung, srampang kreweng, egrang bathok, dan bedhil sodokan. Permainan ini sendiri dipilih karena pernah eksis dan menjadi permainan yang ramai dimainkan oleh anak-anak pada jaman dulu.

“Mereka mungkin saat ini tidak ada yang mengenal permainan itu karena lebih sering bermain dengan gawai untuk itu kami munculkan permaian tradisional itu,” pungkas Sri Kuncoro. (PI-7)

TEGAL-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, Pemerintah Kota Tegal menggelar berbagai kegiatan, salah satunya festival olahraga tradisional tingkat Kota Tegal, Sabtu (12/8) di Alun-alun Kota Tegal.

Festiva ini digelar sebagai upaya penggalian dan pelestarian olahraga tradisional melalui permainan tradisional yang sekarang jarang dijumpai dan membangkitkan kembali olahraga tradisional.

Hadir dalam festival tersebut para Assisten Setda Kota Tegal, Kepala OPD, Camat, lurah dan ribuan masyarakat yang memadati kawasan Alun-alun. Sebagai peserta festival dari OPD di lingkungan Pemkot Tegal, sekolah, rumah sakit, Polres Tegal Kota dan masyarakat umum.

Adapun untuk jenis perlombaan pada festival tersebut antara lain, Gobag Sodor putri yang diikuti 40 tim, Bakyak putra dan putri yang diikuti 37 tim dan Dagongan putra diikuti 38 tim. Tampak semua peserta baik dari kalangan siswa, para Assisten, Kepala OPD maupun masyarakat antusias dan penuh semangat.

Panitia HUT RI Pemkot Tegal Dr. Johardi mengucapkan terima aksih kepada panitia, semua peserta yang semangat megikuti festival ini. Johardi mengingatkan agar selalu menjaga sportifitas dalam pelaksanaan lomba. “Kalah dan menang sudah biasa. Kita semua harus menjaga keamanan, kebersamaan dan menjungjung tinggi sportifitas”, ungkap Johardi.

Johardi menambahkan peserta festival harus mengikuti aturan yang telah dibuat oleh panitia. Setiap permainan nanti ada juri yang akan menilai. Semua permainan yang dihadirkan pada festival ini merupakan permainan tradisional sekarang sudah hilang.  “Kita angkat kembali sehingga permainan permainan tradisional dapat dilestarikan,” pungkas Johardi.

Sementara itu, salah satu pengunjung Rohadi mengaku sangat dapat melihat dan mengenang permainan yang kini sudah jarang ditemukan. Ia berharap tahun depan panitia tahun depan diadakan lagi festival dan ditambah jumlah permainan. “Mudah-mudahan tahun depan ada festival lagi”, pungkas Rohadi.

(Sa. Amin/wartabahari.com)

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta hari ini (Jumat, 19/8/2022) berkesempatan mengadakan Workshop Festival Permainan Tradisional Kota Yogyakarta tahun 2022. Ajang Festival Permainan Tradisional Kota Yogyakarta kali ini akan diikuti oleh para pelaku seni permainan tradisional dari 14 Kemantren di Kota Yogyakarta dan diharapkan mampu menjadi ajang untuk pelaksanaan perlindungan, pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan permainan tradisional tetap berlangsung baik dilakukan oleh masyarakat, pelaku seni budaya, dan pemerintah.

Kegiatan workshop ini bertujuan mempersiapkan para peserta melalui pembekalan materi seputar pertunjukan permainan tradisional dari Narasumber serta untuk membuka ruang diskusi bagi para peserta Festival Permainan Tradisional sehingga memperoleh gambaran yang menyeluruh dengan tujuan setiap peserta dapat menunjukan penampilan secara maksimal pada saat pelaksanaan Festival. Kegiatan ini juga sebagai sarana komunikasi dan tersalurnya saran dan pendapat khususnya mengenai pertunjukan Festival Permainan Tradisional Kota Yogyakarta tahun 2022 kali ini yang akan dilaksanakan pada tanggal 3-4 September 2022.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Ibu Yetti Martanti, S.Sos., M.M. menyampaikan bahwa kegiatan Festival Permainan Tradisional Kota Yogyakarta kali ini diharapkan mampu memotivasi anak-anak untuk melestarikan permainan tradisional. Selain itu, festival kali ini diharapkan bisa menjadi penyeimbang bagi zaman yang modern yang semuanya serba menggunakan gadget sehingga diharapkan dalam festival kali ini bisa memberikan nilai-nilai luhur kebudayaan kepada anak-anak.

Dalam workshop kali ini menghadirkan 3 (tiga) orang Narasumber yang nantinya juga akan menjadi juri dalam festival. Para narasumber memberikan penjelasan mengenai metode penjurian dan dasar-dasar dalam permainan tradisional yang bisa diajarkan kepada anak-anak yang nantinya akan menjadi peserta festival. Banyak hal yang ditekankan dalam Festival Permainan Tradisional kali ini yaitu dalam dialog diharapkan untuk tidak adanya unsur Bullying dalam berdialog dan juga tidak perlu menggunakan kostum yang terlalu mencolok atau mewah karena harus disesuaikan dengan peran mereka yang masih anak-anak.

Sebelum acara berakhir diadakan pengundian nomor urut penampilan dari kemantren yang didapatkan hasil urutan yang akan tampil pada tanggal 3 Agustus yaitu Kemantren Umbulharjo, Kemantren Kotagede, Kemantren Ngampilan, Kemantren Kraton, Kemantren Gondomanan. Kemantren Jetis dan Kemantren Pakualaman. Untuk yang tampil secara urutan pada tanggal 4 Agustus yaitu Kemantren Gondokusuman, Kemantren Mantrijeron, Kemantren Danurejan, Kemantren Mergangsan, Kemantren Gedongtengen, Kemantren Wirobrajan dan Kemantren Tegalrejo. Diharapkan setiap peserta yang mewakili setiap Kemantren dapat menunjukkan kekuatan potensi dan kualitas saji seni permainan tradisional secara maksimal dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki.

Apa saja kegiatan yang akan diadakan dalam acara Festival permainan Tradisional | admin | 4.5
shopee flash sale gratis ongkir
x