Cara mencegah dan mengatasi masalah perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat disebut dengan

By On Wednesday, August 10th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Cara mencegah dan mengatasi masalah perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat disebut dengan – Pa kabar bapak dan ibu semua, Thanks dah mau datang ke blog TrendWisata dotcom ini. Sore ini, saya dari portal www.trendwisata.com mau berbagi Q dan A yang wokeh yang menunjukkan pada anda mengenai Cara mencegah dan mengatasi masalah perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat disebut dengan. Ayo tante dan om menyimaknya setelah ini:

DI luar berita penyebaran covid-19 yang terus meningkat, publik dikejutkan dengan penyebaran informasi tentang munculnya perilaku seksual yang menyimpang. Belum usai perbincangan masyarakat tentang kasus dugaan fetish yang dilakukan Gilang, mahasiswa salah satu PTN terkenal di Surabaya, publik kini kembali terhentak dengan munculnya kasus seorang pria yang mengaku dosen dan melakukan pelecehan seksual dengan kedok riset swinger.

Kelakuan Gilang yang meminta para korbannya ‘dibungkus’ kain jarik menyerupai pocong menjadi trending topic di Twitter ketika sejumlah korban Gilang mulai mengunggah peristiwa pelecehan yang mereka alami.

Salah seorang korban, @m_fikris, mengaku dirinya tertipu dan bersedia membantu ‘riset’ Gilang yang mengharuskan dirinya dibungkus kain sampai tiga jam. Namun, ia akhirnya sadar bahwa ‘riset’ yang dilakukan Gilang itu untuk melecehkan dirinya dan merupakan tindakan fetish.

Sementara itu, kelakuan Bambang Ariyanto, salah seorang alumnus PTN terkenal di Yogyakarta membuat publik terkaget-kaget karena jumlah korban dilaporkan ternyata mencapai 300 orang lebih.

Bambang yang melakukan aksi menyimpangnya sejak tahun 2014 itu memperdaya ratusan perempuan untuk mendengarkan cerita fantasi seksualnya yang menyimpang, yaitu keinginan dia melakukan tukar pasangan seksual. Ulah menyimpang Bambang mulai terbongkar ketika ada sebagian korban yang sadar kalau mereka menjadi korban pelecehan seksual yang berkedok riset ilmiah itu.

Bahaya

Seseorang yang memiliki fantasi seksual dan perilaku seksual yang menyimpang sebetulnya wajar-wajar saja. Sepanjang ulah mereka tidak sampai menimbulkan gangguan seksual bagi orang lain, tidak ada yang keliru ketika seseorang mengembangkan imajinasi tersendiri tentang seks. Namun, lain soal ketika fantasi seksual dan fetish yang dilakukan seseorang itu memicu munculnya hal-hal yang merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Perilaku seksual dikatakan menyimpang ketika melibatkan dan menyebabkan orang lain menjadi korban. Secara teoretis, yang dimaksud perilaku menyimpang ialah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan, atau norma sosial yang berlaku.

Secara sederhana, kita memang dapat mengatakan seseorang berperilaku menyimpang di bidang seksual apabila menurut anggapan sebagian besar masyarakat (minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan seksual tersebut di luar kebiasaan, adat istiadat, aturan, dan nilai-nilai atau norma sosial yang berlaku.

Baik fetish maupun fantasi seksual yang memakan korban orang-orang yang tidak bersalah merupakan bentuk penyimpangan seksual. Fetish merupakan bentuk perilaku seksual yang menyimpang, yang mana seseorang memiliki rangsangan pada objek-objek tertentu yang tidak biasa, misalnya jarik, sandal, celana dalam bekas, buah-buah tertentu, dan benda-benda lain.

Sementara itu, fantasi seksual menjadi hal yang tidak wajar ketika pelaku melibatkan orang lain yang bukan pasangan sahnya sebagai
objek untuk mencari kenikmatan seksual.

Bahaya dari perilaku orang yang mengidap penyimpangan perilaku seksual ialah kemungkinan mereka mengembangkan bentuk-bentuk perilaku seksual lain yang menyimpang atau bahkan memiliki lebih dari satu penyimpangan atau multiple penyimpangan seksual. Lebih dari sekadar menyimpang, tidak jarang orang yang mengidap kelainan seksual kemudian melakukan berbagai hal yang masuk dalam wilayah kriminal.

Ketika hasrat kelainan seksualnya tidak kunjung terpenuhi, bukan tidak mungkin orang-orang yang melakukan perilaku seksual yang
menyimpang mengembangkan ke bentuk perilaku lain yang berbahaya, seperti sadisme, voyeurism atau perilaku seksual lain yang mengancam keselamatan, dan mempermalukan korban.

Apa yang dilakukan Gilang, misalnya, yang merekam kelakuannya dan kemudian mem-posting rekamannya ke orang lain, sedikit-banyak mengindikasikan adanya unsur voyeurismnya–semacam rasa senang menonton apa yang dia lakukan pada korbannya.

Mencegah

Mencegah dan menangani munculnya perilaku seksual yang menyimpang di masyarakat tentu bukan hal yang mudah. Akan tetapi, dengan melacak dan memahami faktor-faktor yang menjadi penyebab seseorang hingga memiliki orientasi dan perilaku seksual yang menyimpang, paling tidak dapat dirumuskan program intervensi yang tepat.

Secara teoretis, dua faktor yang menjadi penyebab seseorang miliki orientasi dan perilaku seksual yang menyimpang ialah kondisi psikologis dan pengalaman masa lalu pelaku. Seseorang yang memiliki kecenderungan psikologis yang menyimpang dengan cepat mereka akan terjerumus dalam perilaku yang keliru ketika habitus sosial di sekitarnya mendukung ke arah itu.

Sementara itu, seseorang yang mengalami pengalaman traumatik semasa kecil, juga bukan tidak mungkin akan menyebabkan mereka ketika besar melakukan hal yang sama.

Seeorang yang pada masa kanak-kanak, dilecehkan, menjadi korban KDRT, mengalami tindak perundungan, dihina-hina, dibandingbandingkan, atau mendapatkan perlakuan tidak senonoh, disodomi dan lain sebagainya, kemungkinan ketika besar mereka justru akan meniru dan mengembangkan perilaku yang menyimpang.

Ketika kecil mereka menjadi korban, ketika besar mereka menjadi pelaku tindakan yang menyimpang. Untuk mencegah agar tidak muncul perilaku seksual yang me nyimpang, apalagi menjadi predator seksual, yang dibutuhkan tak pelak ialah langkah-langkah yang sifatnya preventif. Artinya, fokus penanganan seyogianya bukan pada upaya penanganan setelah anak terlanjur tumbuh besar dan berpotensi menjadi pelaku tindakan seksual yang menyimpang.

Dalam keluarga, pengawasan orangtua merupakan kunci ter- penting untuk memastikan perkembangan psikologis anak dapat tumbuh secara wajar. Namun, ketika ancaman berasal dari orangtua, pelibatan keluarga besar untuk melakukan pengawasan dan memberikan

perlindungan kepada anak menjadi sangat penting.

Studi yang dilakukan Dervishi et al (2017) menemukan bahwa risiko munculnya perilaku yang menyimpang mau tidak mau memang harus dilacak pada pengalaman masa lalu, terutama masa kanak-kanak. Dengan memahami dan berempati pada arti penting proses tumbuh-kembang anak, peluang mencegah terjadinya praktik perilaku seksual yang menyimpang akan lebih mungkin dilakukan.

Pahamifren, di era modern seperti sekarang, kamu tentu sering mendengar atau melihat fenomena menyimpang yang terjadi di masyarakat. Misalnya saat di sekolah, siapa di antara kamu yang pernah melihat atau mengalami bullying, tawuran dan sejenisnya? Nah, pada materi Sosiologi Kelas 10 ini, Mipi mau mengajak kamu membahas tentang perilaku menyimpang dan sikap anti sosial yang terjadi di masyarakat. Jadi, simak artikel ini sampai selesai ya!

Pengertian Perilaku Menyimpang

Agar lebih mudah memahami tentang perilaku menyimpang, ada beberapa pendapat dari para ahli sosiologi yang mengemukakan tentang pengertian dari perilaku menyimpang, antara lain:

  • Menurut James Vender Zender

Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan diluar batas-batas  toleransi oleh sejumlah besar orang.

Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kelompok masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.

  • Menurut Robert M.Z. Lawang

Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

Nah Pahamifren, dari berbagai pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa  perilaku menyimpang adalah perilaku yang  tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Nah, setelah mengetahui pengertian perilaku menyimpang, kamu tentu sudah mencari tahu apa sih yang menyebabkan perilaku menyimpang di masyarakat?

Menurut Kartono Kartini dalam buku Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja (2014), perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

Faktor Internal

Faktor ini terjadi dari dalam individu itu sendiri, misalnya gangguan emosional, gangguan jiwa, hingga tingkat religiusitas yang rendah. Orang dengan tingkat pengendalian emosi yang rendah umumnya tidak dapat menentukan tindakan terbaik dari masalah yang dihadapinya.

Hal ini juga terjadi pada individu dengan tingkat religiusitas yang kurang, mereka cenderung tidak mengindahkan aturan dan norma yang berlaku tanpa memikirkan akibatnya.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal berasal dari luar individu, satu di antara fenomena pemicu penyimpangan sosial yang paling sering ditemui adalah anak yang mengalami broken home, pendidikan yang kurang tepat sasaran, atau kondisi lingkungan yang buruk. Misalnya seseorang yang hidup dalam keluarga broken home.

Seseorang dengan latar belakang seperti ini, cenderung memiliki perangai yang negatif, perilaku yang kasar dan sering melanggar aturan. Hal ini dilakukan demi melupakan atau melampiaskan permasalahan yang sedang dihadapinya.

Sikap Anti  Sosial

Itulah beberapa penjelasan tentang perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya, mari kita bahas tentang sikap anti sosial yang sering terjadi di kalangan masyarakat.

Pengertian Sikap Anti Sosial

Sikap Anti Sosial adalah sikap atau perilaku seseorang yang secara sadar atau tidak sadar tidak dapat menyesuaikan diri dengan norma dan nilai sosial dalam masyarakat.

Contoh Sikap Anti Sosial

Di masyarakat Sikap Anti Sosial memiliki konotasi yang negatif dalam pengaruhnya terhadap stabilitas dan ketertiban hidup bermasyarakat. Berikut adalah contoh sikap anti sosial yang sederhana yang sering terjadi di tengah masyarakat:

  • Melanggar aturan lalu lintas.
  • Membuang sampah sembarangan.
  • Vandalisme.
  • Penyalahgunaan narkoba.
  • Perilaku yang kasar.

Dari contoh diatas, jelas bahwa seseorang yang memiliki sikap anti sosial dalam melakukan tindakannya tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaaan orang lain maupun masyarakat secara umum. Mereka seringkali mengabaikan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat.

Pengendalian Sosial

Pahamifren, dengan meningkatnya fenomena perilaku menyimpang yang semakin meluas ke seluruh lapisan masyarakat tentunya hal tersebut tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi karena akan semakin meresahkan masyarakat dan mengganggu ketentraman serta ketertiban dalam masyarakat.

Nah, untuk mengatasi perilaku menyimpang dan sikap anti sosial di masyarakat tidak merebak luas dan tidak semakin berkembang dibutuhkan pengendalian sosial dalam masyarakat. Pengendalian sosial adalah upaya yang bisa dijadikan alternatif untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial.

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial adalah suatu mekanisme untuk mengarahkan anggota masyarakat dalam menjalankan nilai dan norma sosial yang berlaku. Pengendalian sosial tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mengurangi terjadinya perilaku menyimpang dan sikap anti sosial bahkan untuk menghilangkan penyimpangan sosial.

Cara Melakukan Pengendalian Sosial

Berikut ini cara pengendalian sosial yang dilakukan masyarakat untuk mencegah perilaku menyimpang dan sikap anti sosial.

Cara Persuasif

Cara ini merupakan cara yang dilakukan tanpa kekerasan tapi dengan cara menasehati, menghimbau atau membimbing agar tidak melakukan penyimpangan dalam masyarakat. Contohnya: melalui seminar, konseling, poster atau iklan layanan masyarakat.

Cara Koersif

Cara ini dilakukan dengan kasar, paksaan  atau kekerasan baik secara fisik atau psikis. Cara ini merupakan cara terakhir setelah beberapa cara yang dilakukan tidak berhasil. Biasanya cara ini menimbulkan reaksi negatif dari berbagai pihak. Contohnya: penertiban oleh dinas terkait, razia lalu lintas dan sidak.

Cara Sosialisasi

Cara sosialisasi merupakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan menciptakan kebiasaan dan menata nilai dan norma sejak dini.

Melalui Penekanan Sosial

Cara ini dipakai untuk mengendalikan tingkah laku anggota masyarakat. Ini dilakukan agar setiap orang berperilaku yang sama di masyarakat.

Nah Pahamifren, itulah pembahasan Materi Sosiologi Kelas 10 mengenai Perilaku Menyimpang, Sikap Anti Sosial dan Pengendalian Sosial. Semoga bisa menjadi referensi untuk melengkapi materi pelajaran yang sedang kamu pelajari ya.

Bagi kamu yang ingin mendapatkan akses materi pelajaran SMA yang menarik lainnya kamu bisa mengunduh aplikasi Bimbingan Belajar Online Pahamify. Ada ratusan materi belajar berbasis Gamifikasi yang bisa kamu pelajari. Dijamin proses belajarmu lebih mudah dan menyenangkan.

Buat kamu yang lagi ngambis masuk PTN favorit, kamu juga bisa mencoba Try Out  UTBK dari Pahamify secara gratis lho. Lihat informasi tentang Try-Out disini https://tryout.pahamify.com/

Nah buat kamu pejuang PTN yang ingin masuk Universitas Indonesia, kamu bisa mempersiapkan diri lewat Paket Simak UI dari Pahamify.  Ada berbagai latihan soal Simak UI yang lengkap dengan pembahasan dan prediksi Simak UI 2021. Lihat informasi lengkapnya di Link ini ya https://pahamify.com/simak-ui/

Jangan lupa juga untuk melihat informasi promo menarik lainnya di https://www.pahamify.com/promo

Penulis: Alya Rizkia Zahra

Cara mencegah dan mengatasi masalah perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat disebut dengan | admin | 4.5