Contoh penggunaan kata dengan kata dasar kpts

By On Tuesday, August 23rd, 2022 Categories : Tanya Jawab

Contoh penggunaan kata dengan kata dasar kpts – Hi bapak dan ibu semua, Thanks dah mau datang ke blog trendwisata.com ini. Pagi ini, kami di web www.trendwisata.com mau berbagi saran yang menarik yang menjelaskan tentang Contoh penggunaan kata dengan kata dasar kpts. Ini dia sista dan agan lihat berikut ini:

Artikel sebelumnya membahas tentang macam-macam imbuhan. Pada artikel ini pembahasan tingkat panjut pada imbuhan, khususnya imbuhan [prefiks] me+KPTS.

Imbuhan Me + KPTS, KTSP, atau KPST intinya sama saja. Selanjutnya, akan menggunakan istilah KPTS.

Istilah KPTS merujuk pada kata dasar [bukan kata berimbuhan] yang diawali menggunakan huruf K, P, T, dan S. Misalnya, kubur, pukul, tari, dan sikat. Imbuhan me- KPTS memiliki aturan tersendiri ketika bersatu. Misalnya, mengirim apa mengkirim? Memukul apa mempukul? Memesona apa mempesona?

Untuk lebih jelasnya, perhatikan hukum KPTS berikut ini:

1. Jika kata dasar yang berawalan huruf KPTS dan pada huruf kedua merupakan huruf vokal [a, i, u, e, o] maka huruf k, p, t, atau s pada kata dasar tersebut harus hilang/luluh. 

Contoh:

Memukul, mengirim, menulis, menyapu. Kata memukul berasal dari imbuhan me- + pukul. Kata pukul pada huruf pertama merupakan huruf KPTS dan huruf kedua merupakan huruf vokal, sehingga huruf p pada kata pukul harus luluh. Begitu juga pada kata kirim, tulis, dan sapu. Huruf KPTS-nya harus luluh. 

2. Jika kata dasar yang berawalan huruf KPTS dan pada huruf kedua merupakan hurud konsonan maka huruf k, p, t, atau s pada kata dasar tersebut tetap ada [tidak boleh dihilangkan]

Contoh:

Memprotes, memprakarsa, mengkritik, mentraktir, mensyukuri. Kata memprotes berasal dari imbuhan me- + protes

Kata protes pada huruf pertama merupakan huruf KPTS dan huruf kedua merupakan konsonan [selain a, i, u, e, o], sehingga huruf p pada kata protes tidak luluh. Begitu juga dengan kata memprakarsa, mengkritik, mentraktir, mensyukuri.

3. Kata dasar yang sudah berimbuhan dan mendapat imbuhan me- tidak luluh. 

Contoh:

Memperhatikan. Kata memperhatikan tetap ditulis memperhatikan, bukan memerhatikan. Hal itu karena kata memperhatikan berasal dari kata me- + per- + hati + kan. Kata dasarnya hati, bukan perhati. Jadi, tidak perlu luluh. 

4. Semua aturan hukum imbuhan me- KPTS berlaku pada semua kata dasar yang berawalan huruf KPTS kecuali pada dua kata berikut ini. Dua kata ini tidak mengikuti aturan, yakni mempunyai dan mengkaji.

Kata mempunyai tetap ditulis mempunyai karena sudah menjadi hal yang wajar atau kebiasaan sehari-hari di masyarakat. Selanjutnya, kata mengkaji tetap ditulis mengkaji karena untuk membedakan dengan kata mengaji.

Terima kasih. 

Salam literasi.

KOMPAS.com – Banyak orang masih merasa bingung dalam memahami kaidah bahasa Indonesia dan kurang tepat saat mempraktikkannya, baik mengenai kosakata maupun tata bahasa.

Hal itu bisa ditemukan antara lain di media elektronik ataupun cetak, buku, film, dan berbagai fasilitas umum.

Salah satunya tentang penggunaan kata berimbuhan, khususnya menyangkut peluluhan fonem [huruf] pada kata dasar berawalan huruf k, p, s, dan t yang memperoleh imbuhan me- dan pe-.

Peluluhan itu merupakan bagian dari morfofonemik, yaitu perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan antara morfem [kata atau suku kata] yang satu dan morfem lain. Tujuannya untuk mempermudah pelafalan.

Baca juga: Peminat Bahasa Indonesia di Australia Turun, Ini Solusi yang Diusulkan…

Contohnya, mana yang benar dari kata berawalan me- pada pilihan berikut ini: mengoordinasikan atau mengkoordinasikan, mempopulerkan atau memopulerkan, menyukseskan atau mensukseskan, dan meneror atau menteror?

Contoh lain, mana pula yang benar: mengkritik atau mengritik, memplester atau memlester, memprotes atau memrotes, menstabilkan atau menyetabilkan, dan mentransfer atau menransfer?

Kemudian, menyangkut peluluhan kata dasar yang berawalan pe-, apakah yang benar pengkoleksi atau pengoleksi, penambak atau petambak, pengrajin atau perajin, dan pesilat atau penyilat?

Untuk menjawab sejumlah pertanyaan itu, perlu diketahui dasarnya terlebih dahulu. Menurut Penyuluh Kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Wisnu Sasangka, peluluhan fonem pada kata dasar berawalan huruf k, p, s, dan t terjadi karena adanya kemufakatan para pakar dan penutur bahasa.

“Dasar yang utama adalah kehomorganan bunyi itu. Semacam kesepakatan para ahli bahasa,” ucap Wisnu ketika dihubungi Kompas.com, Kamis [7/1/2021].

Sementara itu, Ivan Lanin selaku aktivis bahasa Indonesia sekaligus Direktur Utama Narabahasa menuturkan, morfofonemik atau perubahan yang berbentuk peluluhan itu tercipta agar suatu kata lebih mudah dilafalkan dan lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

Baca juga: Cerita Kurt Hugo Schneider Latihan Bahasa Indonesia Pakai Lagu Andmesh

Vui lòng chuyển sang trình duyệt được hỗ trợ để tiếp tục sử dụng twitter.com. Bạn có thể xem danh sách các trình duyệt được hỗ trợ trong Trung tâm Trợ giúp.

Trung tâm Trợ giúp

Imbuhan merupakan suatu bubuhan yang dibubuhkan pada kata dasar, sehingga kata dasar tersebut bekembang menjadi kata turunan. Imbuhan sendiri terdiri atas beberapa jenis, dimana salah satu diantara jenis-jenis imbuhan tersebut adalah imbuhan awalan atau prefiks. Imbuhan tersebut kemudian dibagi lagi menjadi beberapa macam, dimana salah satu diantara macam-macam imbuhan prefiks tersebut adalah awalan me-. Awalan ini bisa dibubuhkan ke berbagai kata dasar, khususnya kata dasar yang berawalan huruf K, P, T, dan S.

Jika awalan me- bertemu dengan kata dasar berawalan K, maka huruf K pada kata dasar itu akan berubah menjadi Ng-. Dengan catatan, bahwa huruf kedua setelah huruf K tersebut adalah huruf vokal. Jika huruf kedua setelah huruf K tersebut adalah huruf konsonan, maka huruf K tersebut tidak akan berubah menjadi Ng, dan justru akan merubah awalan me- menjadi awalan meng-.

Hal serupa juga berlaku untuk kata dasar berimbuhan P, T, dan S. JIka huruf kedua setelah ketiga huruf tersebut adalah huruf konsonan, maka ketiga huruf tersebut tidak akan mengalami perubahan bentuk, dan justru akan merubah imbuhan me- menjadi mem-, men-, dan meny-. Namun, jika huruf kedua setelah ketiga huruf tersebut adalah huruf vokal, maka ketiga huruf tersebut akan berubah bentuk, dimana huruf P menjadi huruf M, kemudian huruf T berubah menjadi huruf N, serta huruf S berubah menjadi Ny, Khusus untuk kata dasar berawalan P, ada satu kata yang tidak bisa huruf awalnya meskipun huruf keduanya merupakan huruf vokal. Adapun kata tersebut adalah kata punya atau punyai. 

Agar penjelasan di atas lebih mudah dipahami, di bawah ini sudah disediakan beberapa contoh kalimat yang mengandung awalan me- yang melekat pada kata dasar berawalan KPTS. Adapun beberapa contoh kalimat awalan me- dengan kata dasar KPTS tersebut adalah sebagi berikut.

1. Contoh Kalimat Awalan Me- dengan Kata Dasar Berawalan Huruf K

  • Ibu sedang mengukus kue bolu buatannya. [mengukus: me- + kukus]
  • Perusahaan tersebut telah mengontrak sejumlah karyawan baru. [mengontrak: me- + kontrak]
  • Adonan roti itu semakin mengembang. [mengembang: me- + kembang]
  • Ayah sedang mengkredit motor. [mengkredit: me + kredit]

2. Contoh Kalimat Awalan Me- dengan Kata Dasar Berawalan Huruf P

  • Ayah sedang memaku kayu. [memaku: me- + paku]
  • Ayah sedang memalu paku yang ada di atas permukaan kayu. [memalu: me+ palu]
  • Perusahaan tersebut sudah memproduksi sejumlah makanan. [memproduksi: me- + produksi]
  • Para karyawan memprotes kebijakan gaji perusahaan tersebut. [memprotes: me- + protes]
  • Annisa mempunyai seekor kucing di rumahnya. [mempunyai: me- + punyai]

3. Contoh Kalimat Awalan Me- dengan Kata Dasar Berawalan Huruf T

  • Arini sedang menulis puisi. [menulis: me- + tulis]
  • Dia menuduh Amir sebagai pelaku pencurian motor tersebut. [menuduh: me- + tuduh]
  • Vania akan mentraktir teman-temannya. [mentraktir: me- + traktir]
  • Ayah telah mentransfer sejumlah uang kepadaku. [mentransfer: me- + transfer]

4. Contoh Kalimat Awalan Me0 dengan Kata Dasar Berawalan Huruf S

  • Allysa sedang menyapu halaman rumahnya. [menyapu: me- + sapu]
  • Intel itu sedang menyamar menjadi teman pelaku. [menyamar: me- + samar]
  • Perusahaan itu telah menyuplai produk-produknya ke sejumlah toko. [menyuplai: me- + suplai]
  • Program perpustakaan keliling tersebut diharapkan mampu menstimulasi orang-orang untuk mau membaca buku. [menstimulasi: me- + stimulasi]

Demikianlah beberapa contoh kalimat awalan me0 dengan kata dasar KPTS. Jika pembaca ingin mengetahui pembahasan dari beberapa jenis imbuhan awalan, maka pembaca bisa membuka artikel makna imbuhan per-, makna imbuhan di-, makna imbuhan ke-, makna imbuhan peng-, dan makna imbuhan pe-[n]. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Terima kasih.

Video liên quan

KOMPAS.com – Banyak orang masih merasa bingung dalam memahami kaidah bahasa Indonesia dan kurang tepat saat mempraktikkannya, baik mengenai kosakata maupun tata bahasa.

Hal itu bisa ditemukan antara lain di media elektronik ataupun cetak, buku, film, dan berbagai fasilitas umum.

Salah satunya tentang penggunaan kata berimbuhan, khususnya menyangkut peluluhan fonem (huruf) pada kata dasar berawalan huruf k, p, s, dan t yang memperoleh imbuhan me- dan pe-.

Peluluhan itu merupakan bagian dari morfofonemik, yaitu perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan antara morfem (kata atau suku kata) yang satu dan morfem lain. Tujuannya untuk mempermudah pelafalan.

Baca juga: Peminat Bahasa Indonesia di Australia Turun, Ini Solusi yang Diusulkan…

Contohnya, mana yang benar dari kata berawalan me- pada pilihan berikut ini: mengoordinasikan atau mengkoordinasikan, mempopulerkan atau memopulerkan, menyukseskan atau mensukseskan, dan meneror atau menteror?

Contoh lain, mana pula yang benar: mengkritik atau mengritik, memplester atau memlester, memprotes atau memrotes, menstabilkan atau menyetabilkan, dan mentransfer atau menransfer?

Kemudian, menyangkut peluluhan kata dasar yang berawalan pe-, apakah yang benar pengkoleksi atau pengoleksi, penambak atau petambak, pengrajin atau perajin, dan pesilat atau penyilat?

Untuk menjawab sejumlah pertanyaan itu, perlu diketahui dasarnya terlebih dahulu. Menurut Penyuluh Kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Wisnu Sasangka, peluluhan fonem pada kata dasar berawalan huruf k, p, s, dan t terjadi karena adanya kemufakatan para pakar dan penutur bahasa.

“Dasar yang utama adalah kehomorganan bunyi itu. Semacam kesepakatan para ahli bahasa,” ucap Wisnu ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (7/1/2021).

Sementara itu, Ivan Lanin selaku aktivis bahasa Indonesia sekaligus Direktur Utama Narabahasa menuturkan, morfofonemik atau perubahan yang berbentuk peluluhan itu tercipta agar suatu kata lebih mudah dilafalkan dan lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

Baca juga: Cerita Kurt Hugo Schneider Latihan Bahasa Indonesia Pakai Lagu Andmesh

“Kembali ke kaidah morfofonemik, memang kata yang diawali dengan huruf-huruf itulah (k, p, s, dan t) yang terasa sulit dilafalkan tanpa ada peluluhan. Contohnya, lebih mudah melafalkan ‘memakai’ daripada ‘mempakai’. Kaidah itu digali dari kebiasaan penutur,” ujar Ivan.

Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk buku berjudul Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, berikut ini penjelasan mengenai aturan peluluhan fonem:

1. Kata dasar yang berawalan huruf konsonan tunggal

Kata dasar yang berawalan huruf konsonan tunggal k, p, s, dan t menjadi luluh jika mendapat imbuhan me- dan pe-. Dengan kata lain, jika huruf kedua pada kata dasar tersebut adalah huruf vokal maka akan luluh.

Contoh:
– kampanye menjadi mengampanyekan
– pesona menjadi memesona
– suplai menjadi menyuplai
– taat menjadi menaati

– kabar menjadi pengabaran
– potong menjadi pemotongan
– sebar menjadi penyebaran
– titip menjadi penitipan

2. Kata dasar yang berawalan huruf konsonan ganda

Kata dasar yang berawalan huruf konsonan ganda tidak luluh jika mendapat imbuhan me- dan pe-. Adapun huruf awalnya bermacam-macam, tidak hanya k, p, s, dan t.

Contoh:
– klarifikasi menjadi mengklarifikasi
– kritik menjadi mengkritik
– plester menjadi memplester
– protes menjadi memprotes
– steril menjadi mensterilkan
– transfer menjadi mentransfer

– blokir menjadi pemblokiran
– gratis menjadi penggratisan
– klona menjadi pengklonaan
– kredit menjadi pengkreditan
– skors menjadi penskorsan
– stabil menjadi penstabilan

3. Pengecualian

Meski demikian, ada bentuk pengecualian untuk kata tertentu yang sudah dipakai secara umum. Sebagai contoh, kata dasar punya menjadi mempunyai. Hal ini karena memunyai kurang diterima oleh masyarakat dan tidak disosialisasikan dengan baik.

Selain itu, kata dasar kaji bisa menjadi mengaji dan mengkaji. Kata mengaji berarti mendaras atau mempelajari Al Quran, sedangkan mengkaji artinya mempelajari atau menelaah suatu hal secara lebih mendalam.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan mengenai peluluhan fonem yakni pengimbuhan bertingkat. Satu hal yang harus diingat adalah kata dasarnya sehingga bisa dibentuk menjadi kata berimbuhan bertingkat yang benar.

Contohnya, memperhatikan berasal dari kata dasar hati yang mendapat imbuhan me-, pe-, dan kan- secara bersamaan. Jadi, bukan memerhatikan.

Begitu juga dengan kata dasar ajar yang memperoleh imbuhan me-, pe-, dan i- sehingga menjadi mempelajari, bukan memelajari.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Contoh penggunaan kata dengan kata dasar kpts | admin | 4.5