Identifikasilah nilai-nilai yang terkandung dalam novel mangir

By On Monday, August 8th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Identifikasilah nilai-nilai yang terkandung dalam novel mangir – Halo tante dan om semua, Selamat datang di situs Trend Wisata dot com ini. Sore ini, saya di situs Trend Wisata dot com akan berbagi info yang cool yang akan menunjukkan tentang Identifikasilah nilai-nilai yang terkandung dalam novel mangir. Ayo bapak dan ibu simak dibawah ini:

Soal dan jawaban dari Kegiatan 3, Mengidentifikasi Struktur Teks Cerita Sejarah Mangir. Soal tersebut terdapat pada buku pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/SMK?MA/MAK Kurikulum 2013 halaman 41-53. Agar lebih jelas, silakan perhatikan soal dn jawabannya di bawah ini.

Soal:

Berdasarkan kutipan novel mangir lakukan kegiatan pengidentifikasian certa ke dalam tabel di bawah ini.

Jawab:

Silakan tonton video ini :

atau baca artikel di bawah ini:


1. Kutipan:  Di bawah bulan malam ini, tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dan kaki langit, mengunjungi segala dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih, bersih, dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi. 1. Abad Keenam Belas Masehi Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara-semua-dikuningi oleh cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila. Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikin tunas menerjang serong gunung-gunung air itu-serong ke barat laut. Barisan dayung pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat pilinan kapas dan benang sutra, mengilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.

– Struktur: Orientasi

– Keterangan: Berisi penjelasan tentang latar waktu dan dan situasi cerita yang akan diceritakan yakni di Laut Jawa kira-kira pada abad keenam belas masehi.

2. Kutipan: Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendodop, dekat dengan damarsewu, menegur, ” Dingin-dingin begini anakanda datang. Pasti ada sesuatu keluarbiasaan.Mendekat sni, anakanda.” Dan Patragading berjalan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki Sang Patih. “Ampuni patik, membangunkan Paduka pada malam buta beini kabar duka, Paduka. Balatentara Demak di bawah Adipati Kudus memasuki Jepara tanpa diduga-duga.

Struktur: Pengungkapan Peristiwa
Keterangan: Pada bagian ini penulis menyajikan terjadinya peristiwa yaitu balatentara Demak di bawah adipati kudus memasuki Jepara tanpa diduga-duga.

3.Kutipan: ” Bagaimana Bupati Jepara?” Tewas enggan menyerah Paduka, Patragading mengangkat sembah. ” Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota. Jepara penuh dengan balatentara Demak. Lebih dari tiga ribu orang.”

Begitulah kata warta, “Pada meneruskan dengan hati-hati matanya tertuju pada Boris,” Semua bangunan batu di atas wilayah kota, gapura, arca, pagoda, kuil,candi akan dibongkar. Setiap batu berukir telah dijatuhi hukuman buang ke laut tinggal hanya pengumumannya.”

Struktur: Puncak Konflik

Keterangan: Pada bagian ini terjadi peristiwa besar yaitu terbunuhnya Bupati Jepara dan rusaknya bangunan-bangunan di Jepara.

4. Kutipan: Seluruh Tuban kembali dalam ketenangan dan kedamaian-kota dan pedalaman. Sang Patih Tuban mendiang telah digantikan oleh Kala Cuwil, pemimpin pasukan gajah. Nama barunya WIrabumi. Panggilannya yang lengkap: Gusti Patih Tuban Kala CUwil Sang Wirabumi. Dan sebagai patih ia tetap memimpin pasukan ajah.

Pasar kota dan bandar ramai kembali seperti sediakala, Lalu lintas laut, kecuali atas angin pulih kembali.

Struktur: Resolusi

Keterangan: Pada bagian ini terjadi penyelesaian konflik. Tuban dibangun kembali oleh Demak dengan menjadikan WIrabumi sebagai bupati.

5.Kutipan: Sang Adipati telah menjatuhkan titah: kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagan di Malaka ataupun Pasai

Struktur: Koda
Keterangan: Akhir cerita ditutup dengan diizinkannya kapal Tuban berlabuh dan berdagang di Malaka.

Jawaban:

Nilai religi dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus selalu berpasrah kepada Tuhan agar tidak gelisah dalam hidup.

Nilai religi dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus selalu berpasrah kepada Tuhan agar tidak gelisah dalam hidup.Nilai moral dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus saling membantu satu sama lain dalam menghadapi permasalahan hidup.

Nilai religi dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus selalu berpasrah kepada Tuhan agar tidak gelisah dalam hidup.Nilai moral dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus saling membantu satu sama lain dalam menghadapi permasalahan hidup.Nilai sosial dari novel sejarah “Mangir” adalah kita harus senantiasa memperhatikan sesama kita, tidak hanya pada saat suka, tapi juga duka.

Nilai religi dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus selalu berpasrah kepada Tuhan agar tidak gelisah dalam hidup.Nilai moral dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus saling membantu satu sama lain dalam menghadapi permasalahan hidup.Nilai sosial dari novel sejarah “Mangir” adalah kita harus senantiasa memperhatikan sesama kita, tidak hanya pada saat suka, tapi juga duka.Nilai edukasi dari novel sejarah “Mangir” adalah bahwa pendidikan yang terbaik berasal dari pengalaman hidup.

Nilai religi dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus selalu berpasrah kepada Tuhan agar tidak gelisah dalam hidup.Nilai moral dari novel sejarah “Mangir” adalah manusia harus saling membantu satu sama lain dalam menghadapi permasalahan hidup.Nilai sosial dari novel sejarah “Mangir” adalah kita harus senantiasa memperhatikan sesama kita, tidak hanya pada saat suka, tapi juga duka.Nilai edukasi dari novel sejarah “Mangir” adalah bahwa pendidikan yang terbaik berasal dari pengalaman hidup.Nilai budaya dari novel sejarah “Mangir” adalah sebagai manusia, kita harus hidup dengan melestarikan budaya kita.

Penjelasan:

Novel sejarah adalah karya sastra Indonesia yang mengambil latar waktu di masa lalu, yang benar-benar terjadi dalam catatan sejarah. Adapun novel merupakan karya sastra Indonesia yang mengulas seorang tokoh utama beserta tokoh lain di sekelilingnya dan karakter mereka masing-masing.

Identifikasi Struktur Novel Sejarah “Mangir” Kutipan Novel Sejarah Cerita ini terjadi antara naiknya Panembahan Senapati menjadi raja Mataram (1575-1601) sampai kira-kira tahun 1577, lebih jelasnya, cerita ten tang permusuhan Mataram-Mangir. adalah suatu teka-teki sejarah mengapa Mataram, yang sejak herdirinya telah mempunyai seorang pujangga keraton dalam diri Tumenggung Mandaraka, tidak menuliskannya. Lebih mengherankan lagi ia sendiri justrn arsitek dari kerajaan Mataram, juga arsitek dari peperangan ini. Boleh jadi di kemudian hari akan ada yang menjawab teka-teki ini. Telah berdusta istri wanabaya yaitu, putri pembayun. Ia menikah dengan putri dari kerajaan Mataram. Wanabaya sangat bertentangan dengan rakyat Mataram. Struktur Keterangan Orientasi Terdapat penjelasan bahwa latar waktu dan suasana dari novel ini adalah pada masa kerajaan Mataram. Dan menceritakan bahwa Mangir adalah musuh dari Kerajaan Mataram Pengungkapan Peristiwa Peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, dan pertentangan. Karena putri pembayun berkata jujur terhadap wanabaya. Tiba saatnya Putri Pambayun, Wanabaya dan Baru klinting datang ke mataram, menyatakan tunduk pada kekuasaan Ki Ageng Pamanahan. Ki Ageng Wanabaya yang merupakan musuh besar mataram datang sebagai menantu kerajaan, hal itu d perbincangkan oleh masyarakat hingga warga istana. Musuh tetaplah musuh itu anggapan Tumenggung Mandaraka, susah payah dia menghasut baginda Ki Ageng Pamanahan untuk membinasakan Wanabaya yang merupakan suami dari cicit nya sendiri Putri Pambayun, dengan alasan Wanabaya dan Klinting adalah musuh besar mataram terutama Perdikan, yang harus pecah belah dan dibinasakan. Tumenggung Mandaraka terus mengatakan rencana jahatnya dalam membinasakan Wanabaya, diikuti Penembahan Senopati yang memberikan pendapatnya dalam rencana tersebut, sesekali menyanggah rencana yang di usulkan Tumenggung Mandaraka. Disusunlah rencana pembunuhan Wanabaya. Terjadi perang yang menyebabkan terbunuhnya Wanabaya, Baru Klinting, dan Demang Patalan oleh pasukan Panembahan Senapati. Putri Pembayun bersedih, meratapi nasib ditinggal orang tercinta. Tumenggung Mnadaraka : Selesai sudah perkara Mangir. Menuju Konflik penulis memaparkan kehidupan politik kerajaan yang tak lepas dari kekuasaan raja, pengaruh politik kerajaan, sserta siasat perang. Mataram saat itu yang merupakan kerajaan. Dengan kehancuran wanabaya dianggap sebagai jalan menuju kejayaan mataram. Puncak Konflik Pada bagian ini telah terbongkar tipu daya salah satu tokoh (Senapati) yang dibarengi dengan peristiwa terbunuhnya tokoh-tokoh lain. Resolusi pada bagian ini, dipaparkan kehidupan para tokoh setelah konflik terjadi. Koda Pada bagian akhir novel, penulis memberikan pernyataan mengenai selesai nya peristiwa yang terjadi Analisis Unsur Kebahasaan Novel Sejarah “Mangir”  Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau. Contoh: a) Perdikan bisa diartikan sebuah daerah otonomi (swapraja) yang takluk pada suatu kerajaan, tetapi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti atau pajak, karena di masa-masa yang lalu telah sangat berjasa pada raja atau telah membantu seseorang sampai bisa marak jadi raja. b) Lhahdalah dua bulan lalu Ki Ageng Mangir Muda terkena pecundang. c) Selesai sudah perkara Mangir  Menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu. Contoh: a) Setelah Baru Klinting berbentuk ular, seorang pujangga bisa menebah dada karena hasil sanepanya yang gilang-gemilang. b) Lalui Kedemangan Patalan bila melalui sungai Winongo, kemudian Opak dan sungai Oya. c) (kembali pergi ke samping). Tak salah lagi , itu telik ke tiga. (Berdiri mencangkung bertumpu pada tongkat, mengangguk-angguk mendengarkan. Kemudian mengisyaratkan dengan tangan menyuruh pergi .  Menggunakan banyak kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan (material) Contoh: a) Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka. Ular lari menghilang b) Sahaya hanya anak wayang di tangan Yang Maha Kuasa. Pesaing dan pelawan Mataram tak sudi berbagi. Mataram berdiri berarti, Yang Maha Kuasa kodratkan semua jadi miliknya. Yang melintang patah. Yang membujur gugur, yang tegar rebah. Karena, ayahabda, tak ada gunanya Yang Maha Kuasa benarkan putranda jadi raja, bila yang lain-lain tidak dikodratkan merangkak di bawah kakinya. c) Kau biarkan Bapak tua lari pulang ke Mataram, mencuri kuda panglima Mangir, untuk sampaikan segala pada bapakmu.  Menggunakan banyak kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung. Contoh: a) seorang pemain ketoprak profesional malah pernah mengatakan bahwa biasanya orang menggunakan nama samaran apa saja. b) Ini juga menunjukkan bahwa pemanahan memiliki kehandalan khusus, yang menernpatkan dia dalarn posisi sosial tertentu di masyarakat Jawa c) (berdiri, menuding takhta) Untuk kursi ini, membikinnya jadi pusat kehidupan di Tanah jawa, hmm-hmm-ya-ya, hitamlah tangan ini berlumuran darah dan nyawa.  Menggunakan banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (mental). Contoh: a) yakni persyaratan yang diberikan oleh seorang anak yang mengharapkan pengakuan ayahnya b) Dalam alam pikiran feodal Jawa, yang menganggap seseorang tidak bisajadi raja kalau tidak berdarah raja, menyalahi kenyataan historis tentang Ken Arok. c) (mencoba mendengarkan suara-suara). Dan bayangan maut buat yang lain-lain.  Menggunakan banyak dialog. Contoh: a) “Takkan habis-habis, sebelum Mataram batal jadi kerajaan.” b) “Kau melamun, adikku kekasih. Apakah tersinggung hatimu kularang menenun dan mengantih?” c) “Inilah Panembahan Senapati ing Ngalaga, maju kau bedebah Mangir, jangan ragu”  Menggunakan kata sifat Contoh: a) Wanabaya, Ki Ageng Mangir, pemuda , ± 23 tahun prajurit, pendekar, panglima Mangir, tampan, tinggi, perkasa dan gagah. b) Adisaroh! Kau sangat pandai bikin lega hati si Kakang. c) (mengangguk-angguk puas). Ki Juru Martani, si tua renta pandai menempa rencana. Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah “Mangir”  Nilai budaya adalah nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan mendalam dengan masyarakat, kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat.. Contoh: Keris atau senjata pusaka demikian tidak bisa diartikan sebagai kemampuan Ki Ageng Mangir, lebih tepat sebagai alat penurnnan benih. Jadi Barn Klinting adalah anak di luar perkawinan syah, dan karenanya sulit untuk bisa diterima (acceptable) oleh masyarakat lama yang dibandingkan dengan yang sekarang jauh lebih ketat berpegang pada adat kebiasaan.  Nilai moral/etik adalah nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika atau moral. Contoh: Wanabaya Putri Pambayun : “Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang menggandeng tandak tanpa tandingan. (Menatap mereka seorang demi seorang). Tak ada yang menyambut Ki Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah hormat pada para tetua Perdikan.” Aku cintai perdikan ini, aku cintai suami sendiri  Nilai Agama, yaitu nilai dalam cerita yang berkaitan dengan unsur keagamaan. Contoh: Ilmu perang yang didalamnya termaktub banyak macam gelar berasal dari Hindu, dan dengannya feodalisme Hindu telah mengalahkan republik-republik desa di Jawa dan Sumatra pada masa pertama kedatangan dan kemudian pengembangnya.  Nilai sosial, yaitu nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan bermasyarakaat. Contoh: Ini juga menunjukkan bahwa Ki Ageng Pemanahan memiliki kehandalan khusus, yang menernpatkan dia dalarn posisi sosial tertentu di masyarakat Jawa, sebagai pemimpin kaumnya.  Nilai estetis, yakni nilai yang berkaitan dengan keindahan. Contoh: Bunga-bunga sastra yang menggambarkan kekejaman Amangkurat I, II, maupun III, dan seterusnya, ramai bertebaran dalam ingatan masyarakat Jawa. Kiasan dan Pribahasa  Baru Kliting yang dikiaskan sebagai ular karena dianggap sosok yang berbahaya.  Sahaya hanya anak wayang ditangan Yang Maha Kuasa. Pesaing dan pelawan Mataram tak sudi berbagi. Mataram berdiri berarti, Yang Maha Kuasa kodratkan semua miliknya. Yang melintang patah. Yang membujur gugur. Yang tegar rebah. Karena, ayahanda, tak ada gunanya. Yang Maha Kuasa benarka putranda jadi raja, bila yang lain-lain tidak dikodratkan merangkak dibawah kakinya  Seperti dua pasang tikus kedinginan (kiasan)

Cari kata kiasan dan peribahasa!!!!!!!!!

wisata terms:

redwap
Identifikasilah nilai-nilai yang terkandung dalam novel mangir | admin | 4.5