Jelaskan penyebab terjadinya tsunami di Palu pada September 2022

By On Sunday, September 11th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Jelaskan penyebab terjadinya tsunami di Palu pada September 2022 – Apa khabar tante dan om semua, Met Datang di situs Trend Wisata ini. Siang ini, kita dari website TrendWisata ingin share tips yang menarik yang mengulas Jelaskan penyebab terjadinya tsunami di Palu pada September 2022. Silahkan teman tonton dibawah ini:

JAKARTA – Pada 28 September 2018 gempa mengguncang Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Setelahnya gempa susulan bermunculan dan memicu gelombang tsunami yang memorak porandakan Bumi Tadulako dan sekitarnya.

Di Palu, gempa mengguncang hingga berkekuatan 7,4 skala Richter. Dilaporkan bahwa pusat gempat di kedalaman 10 km. Sedangkan posisi pusat gempa ini pada arah 27 km Timur Laut Donggala. 

Tak berapa lama kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan tsunami. BMKG memperingatkan gelombang laut akan mencapai 0,5 sampai tiga meter. Tiga hingga enam menit kemudian, Kota Palu diterjang ombak setinggi enam meter.

Kejadian yang begitu cepat membuat banyak masyarakat tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri dari terjangan ombak. Selain itu, banyak juga orang yang tidak mengetahui peringatan tsunami dikarenakan jaringan komunikasi yang putus akibat guncangan gempa sebelumnya.

Setelah gempa dan tsunami, Palu kembali menghadapi fenomena alam yaitu likuifaksi. Mengutip BBC, guncangan yang ditimbulkan gempa menyebabkan tanah kehilangan ikatan. Hal tersebut mengakibatkan tanah larut seperti air lalu mengalir, membawa bangunan dan kendaraan di atasnya. Likuifaksi berlangsung pada tanah berpasir yang mudah terendam air, seperti tanah di Kota Palu yang dekat dengan laut.

Dampak Gempa di Palu dan Donggala. (Devina Andiviaty/Wikimedia Commons)

Menurut laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa di Palu terjadi dikarenakan aktivitas sesar Palu-Koro. “Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempabumi, maka kejadian gempabumi tersebut disebabkan oleh aktivitas sesar aktif pada zona sesar Palu-Koro yang berarah baratlaut-tenggara.”

Masih dari laporan PVMBG, wilayah sekitar pusat gempa pada umumnya disusun oleh batuan berumur pra Tersier, Tersier dan Kuarter. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi saat itu adalah Kabupaten Donggala dan Kota Palu, yang mana area tersebut pada umumnya tersusun oleh batuan malihan berumur Pra Tersier, membentuk lajur sesar dengan lereng curam dan kebanyakan lapuk, batuan sedimen, gunung api, batuan beku dan malihan berumur Tersier hingga Kuarter. Goncangan gempa bumi akan terasa pada batuan lepas dan lapuk sehingga lebih rentan.

Membangun kembali

Sejumlah pihak asing menawarkan bantuan untuk Palu dan Donggala. Awalnya pemerintah Indonesia tidak langsung menerima bantuan tersebut. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo akhirnya menerima bantuan tersebut. Secara kolektif, Inggris, Amerika Serikat (AS), Australia, dan Selandia Baru memberikan dana 20,8 juta dolar AS.

Saat itu, banyak masyarakat Indonesia yang turun menjadi relawan dan pekerja kemanusiaan. Banyak akses yang putus dan rusak membuat penyebaran bantuan terkendala. Bantuan dari luar Palu juga semakin sulit disalurkan dikarenakan landasan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri yang rusak.

Dampak Gempa di Palu dan Donggala (Ungkeito/Wikimedia Commons)

Korban jiwa akibat gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu mencapai 4.340 jiwa. Pada awal 2019, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan bahwa korban jiwa yang meninggal tersebar di Kota Palu 2.141 orang, Kabupaten Sigi 289 orang, Donggala 212 orang dan Parigi Moutong 15 orang atau berjumlah total 2.657 orang. Terdapat korban hilang sebanyak 667 orang, korban jiwa tak teridentifikasi sebanyak 1.016 orang.

Mengutip Republika, dari segi kerugian materi, rumah rusak ringan di Kota Palu tercatat 17.293, rusak sedang 12.717 dan rusak berat 9.181. Sementara terdapat 3.673 rumah yang dilaporkan hilang. Di Kabupaten Donggala, jumlah rumah rusak ringan sebanyak 7.989 rumah, rusak sedang 6.099 dan rusak berat 7.215 serta 75 rumah dilaporkan hilang.

Korban selamat harus menghadapi kenyataan lain bahwa mereka kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut memaksa mereka untuk tetap berada di pengungsian, bahkan hingga tiga tahun lamanya. Hingga akhirnya pada 3 September 2021, 1.500 rumah untuk warga Palu khususnya untuk korban bencana gempa dan tsunami 2018, diresmikan oleh Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto. Diketahui bahwa semua unit rumah tersebut hasil dari sumbangsih yayasan kemanusiaan bagi masyarakat yang menjadi korban gempa bumi dan likuifaksi di Palu Sulawesi Tengah.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

SEJARAH HARI INI Lainnya

Tag: tsunami palu sejarah hari ini gempa bumi tanah datar

Deretan Bekas Pejabat Koruptor Bebas Bersyarat Berjemaah, Ada Apa?

Oleh Liputan6.com pada 29 Sep 2018, 14:58 WIB

Diperbarui 29 Sep 2018, 14:58 WIB

Perbesar

Warga memeriksa kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Gelombang tsunami setinggi 1,5 meter yang menerjang Palu terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala. (AFP /OLA GONDRONK)

Liputan6.com, Jakarta – Pascagempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018, pukul 17.02 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Namun, peringatan tsunami tersebut diakhiri pada 17.39 WIB atau berakhir pukul 18.36 Wita.

  • 6 Hal Ini Diketahui oleh Pilot, tapi Tak Disadari Penumpang Pesawat

Akibat gempa yang diikuti dengan tsunami membuat sejuamlah kawasan di Kota Palu dan Donggala terdampak gempa paling parah, yaitu di Pantai Talise dan pantai barat Donggala.

Ketinggian tsunami menurut BMKG mencapai 0,5 hingga 3 meter dan langsung menerjang permukiman warga yang berdiri di sepanjang pantai. 

Perbesar

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers di kantor BNPB Jakarta, Sabtu (29/9). BNPB menyebut korban luka akibat gempa Donggala yang disusul tsunami di Palu, sebanyak 356 orang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Berdasarkan analisis sementara dari para ahli tsunami di Institut Teknologi Bandung (ITB), LIPI, dan BPPT, tsunami pascagempa disebabkan oleh dua hal.

Pertama, adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter.

“Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat, sehingga runtuh atau longsor saat gempa, dan memicu tsunami. Hal ini terindikasi dari naik turunnya gelombang dan air keruh,” jelas kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPN Sutopo Purwo Nugroho, seperti dilansir dari situs resmi BNPB, Sabtu (29/8/2018).

Penyebab kedua terjadinya tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya disebabkan oleh gempa lokal. Gempa ini terjadi di bagian luar dari Teluk Palu.

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Lanjutkan Membaca ↓

  • Liputan6.comAuthor

  • Maria FloraEditor

  • Nila Chrisna YulikaEditor

TOPIK POPULER

POPULER

Berita Terbaru

  • Pilot dan Kopilot Pesawat Bonanza Meninggal, Ditemukan Masih di Dalam Pesawat

  • Sandiaga Uno usai Diminta Mundur Gerindra: Saya Sangat Homati Arahan Ketum Prabowo

  • Studi: Mendengkur Dapat Meningkatkan Risiko Kanker dan Penurunan Kognitif, Ini Sebabnya

  • Peneliti Oxford: Vaksin Malaria Terbaru Mampu Ubah Kondisi Dunia

  • Harga BBM Naik, Bank Permata Optimistis Penyaluran Kredit Masih Positif

  • Cara Membedakan Depresi dan Kelelahan Menurut Ahli

  • Kondisi Terkini SPI Kota Batu Usai Julianto Eka Putra Divonis 12 Tahun Penjara

  • Jangan Sedih, Coba 4 Tips Ini Saat Lagi Putus Asa Akibat Cinta

  • Kemnaker Gelar Job Fair di Bekasi, Ada 1.500 Lowongan Kerja

  • Apa Itu Stunting? Ketahui Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

  • Miliarder India Mukesh Ambani Beli Rumah Mewah Rp 1,1 Triliun, Buat Siapa?

  • Bisa Jadi Sumber Penghasilan Disabilitas, Yuk Ikutin Cara Bikin Pot Handuk

Berita Terkini Selengkapnya

Jelaskan penyebab terjadinya tsunami di Palu pada September 2022 | admin | 4.5