Jelaskan yang dimaksud Allah itu esa dalam zatnya

By On Sunday, September 4th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Jelaskan yang dimaksud Allah itu esa dalam zatnya – Hi sista dan agan semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke web site TrendWisata dotcom ini. Di hari yang cerah ini, kami di web site TrendWisata ingin berbagi tanya jawab yang menarik yang membahas Jelaskan yang dimaksud Allah itu esa dalam zatnya. Sebaiknya Agan dan sista lihat dibawah ini:

Oase.id – Surah Al-Ikhlas merupakan surat ke-112 dalam Al-Quran. Surat ini tergolong surat Makiyah yang berbicara tentang tauhid dan adab bertauhid.

Surah ini berisi tentang penegasan terhadap keesaan Allah Swt. Jika diperhatikan, surat ini menyebut nama Allah diulang sebanyak dua kali. Nah, pengulangan ini sangat memperlihatkan seberapa besar kekuatan Allah, dan mengecam akan segala bentuk persekutuan.

Surat ini memiliki 4 ayat yang berbunyi:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Tafsir Ibnu Katsir mengutip riwayat Imam Ahmad dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka Allah menurunkan surat Al-Ikhlas.

Hadis lain juga menyebutkan bahwa, ada orang yang Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bertanya, “Gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat ini.

Berdasarkan kisah tersebut, lalu Imam Tabrani meriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Usman At-Tara-ifi, dari Al-Wazi` ibnu Mani`, dari Abu Salamah, dari Abu Kurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لِكُلِّ شَيْءٍ نِسْبَةٌ وَنِسْبَةُ اللَّهِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ وَالصَّمَدُ لَيْسَ بِأَجْوَفَ

Artinya: Segala sesuatu mempunyai predikat dan predikat Allah ialah, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bersifat As-Samad. As-Samad artinya tidak berongga.”

Dari berbagai hadis di atas, sangat jelas bahwa tiada satu pun yang dapat menyerupai serta menyekutukan-Nya.

Mengutip dari Tafsir Ringkas Kementerian Agama bahwa, “Wahai Nabi Muhammad ﷺ, katakanlah kepada kaum musyrik yang menanyakan sifat dan nasab Allah dengan tujuan mengejek. Dialah Allah, Yang Maha-Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak berbilang dalam nama, sifat dan ketuhanan-Nya.” 

Dalam tafsir Kementerian Agama tersebut juga dijelaskan, pada ayat pertama ini, Allah Swt menyuruh Nabi Muhammad ﷺ menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha-Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan suatu apa pun.

Adapun keesaan Allah SWT meliputi tiga hal, yakni:

  1. Maha-Esa pada zat-Nya yang tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian.
  2. Maha-Esa pada sifat-Nya bahwa tidak ada satu sifat makhluk pun yang menyamai-Nya 
  3. Maha-Esa pada perbuatan-Nya, dan Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya.

Demikianlah tiga unsur keesaan Allah SWT dalam tafsir Surat Al Ikhlas. Semoga bermanfaat.

(ACF)

Allah itu Esa pada ZatNya, SifatNya, perbuatanNya (saya menyebutNya Esa untuk menghindari redaksi tunggal atau bilangan satu, dua dan seterusnya. karena itu adalah ciri khas yang melekat pada makhluk [makhluk bisa diartikan dengan “maa siwa Allah” [segala bentuk selain Allah], sedangkan Allah tidak bisa diserupakan dengan makhluk pada bentuk apapun).



Allah Esa Dalam ZatNya

Esa Zat Allah itu tidak seperti makhluk (makan, minum, mempunyai keturunan dll), jd seperti apa? ALLAH tdk seperti apa-apa, yang tidak seperti apa-apa itulah Allah..karena jika Allah seperti apa dan siapa,maka Allah mempunya kelemahan menjadi TUHAN. Ketika Tuhan mempunyai kelemahan apakah Dia pantas disembah???Terus buat apa lagi ada pertanyaan “Seperti apa Allah itu..?”

Zat Allah tidak bisa dtemukan dengan akal manusia. Kalau pun manusia bisa sedikit mengerti Zat Allah H itu krn manusia dianugrahkan oleh Allah berupa sedikit penglihatan mata batin (disebut dengan ‘AINUL BASHIROH) itupun Zat Allah yang tidak secara utuh, karena akal manusia diciptakan bukan untuk memikirkan Zat Allah, melainkan memikirkan kejadian alam raya ini.

‘ANUL BASHIRAH itu digunakan untuk melihat Sifat-sifat Allah yang TAMPAK (maujudiy). Sifat Allah yang maujudiy bisa jadi bisa ia temukan dalam bentuk kebesaran alam raya ini beserta isi dan segala tingkah lakunya atau yang lainnya,maka orang yang pintar dan benar pasti ia akan menggunakan semua potensi yang ia miliki untuk mampu menemukan jawaban siapa yang menciptakan ini semua. Allah Maha Agung sehingga mampu mengendalikan semua hal-hal yang rumit dari sekecilnya sampai yang sebesar-besarnya. Tidak ada Zat yang Maha Agung kecuali menciptakan sesuatu yang agung pula. Dia bukan Zat yang main-main, atau sedang bermain-main, Dia Zat yang pantas disembah, karena kita tidak akan menemukan sedikit kekurangan pun pada Allah.

Allah Esa Dalam Sifat Dan PerbuatanNya

Allah mempunyai sifat sebanyak 41 buah, dengan rincian sebagai berikut:
a.  20 Sifat wajib Allah
b. 20 Sifat mustahil Allah (sifat yang tidak mungkin melekat pada Allah dan menjadi lawan dari sifat wajib Allah)
c. 1 Sifat jaiz Allah (sifat yang boleh jadi Allah lakukan dan boleh jadi tidak Allah lakukan)


Dari 20 sifat wajib bagi Allah itu ada sifat Allah yang persifatan dengan makhluk seperti sifat wajib, diantaranya “Allah itu berfirman” (saya tidak menggunakam redaksi berbicara karena kata-kata ‘berbicara’ merupakan karekteristik milik makhluk). Perlu diingat bahwa firman Allah itu tidak sama dengan makhluk yang berbicara menggunakan mulut dan mengeluarkan suara, karena lagi-lagi Allah disucikan dari kemiripan dengan makhlukNya. Jadi seperti apa firman Allah itu? Jawabnya adalah “tidak seperti apa-apa”. Manusia hanya diberikan kemampuan akal, hati untuk memikirkan dan merasakan kebenaran firman Allah lewat kejadian alam,isi dan perilakunya (ini disebut dengan firman/ayat KAUNIYAH). Contohnya: ketika terjadi korupsi besar-besaran di suatu wilayah, maka tidak jarang Allah menjatuhkan siksa sekaligus berupa bencana alam dsb. Itu adalah firman Allah yang bersifat KAUNIYAH, supaya manusia berfikir dan merasakannya dengan harapan manusia mau merubah perilaku yang merugikan orang lain tersebut.


Disamping itu ada firman Allah yang tertulis dalam kitab suci AL-QUR’AN (selanjutnya disebut dengan ayat QAULIYAH) dan sudah dijamin kemurnian dan kebenarannya sejak zaman diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.


Jadi, sifat wajib bagi Allah itu bergandengan dengan sifat mustahilNya. Dalam arti sifat Wajib adalah sifat yang absolut milik Allah, sedangkan sifat mustahil adalah bukti keabsolutannya tersebut.


Sekarang yang ketiga adalah sifat Jaiz bagi Allah. Sifat jaiz bisa diartikan sebagai sifat yang menjadi hak preogratif Allah dan ini bergandengan dengan Perbuatan Allah, artinya Allah itu berhak memberikan, menjadikan, membuat sesuatu dst kepada makhlukNya dan juga berhak untuk tidak mekakukannya. Contoh, jika kita kaitkan dengan dunia materi; Si A dan Si B sama-sama berusaha mencari harta,tapi hasilnya terkadang kenapa si A diberikan kekayaan yang melimpah sedangkan si B hidup dalam kemiskinan?Jawabnya karena Allah mempunyai hak preogratif, Allah mempunyai sifat jaizNya. Jika orang mengerti sifat jaiz Allah maka tidak ada lagi orang yang mengeluh dan merasa menderita di dunia ini. Tapi ingat! Berusaha, bekerja tetap wajib dilakukan karena Tuhan menjamin rezeki setiap manusia bukan dalam arti mempersembahkan sesuatu yang sudah jadi, siap dipakai, ia butuh diusahakan dan diolah. Maksud Allah menjamin rezeki manusia itu adalah Allah menjamin adanya LAHAN dan SEBAB untuk mendapatkan rezeki itu. Hamparan alam raya ini adalah ‘lahan’ rezeki jaminan Allah. Manusia diberikan dorongan rasa lapar, dorongan memperoleh keindahan, dorongan meraih kebahagiaan, itu semua adalah ‘sebab’ jaminan rezeki Allah. Tentang hasil dari usaha tersebut apakah ia sukses atau tidak itu bukan urusan manusia, itu urusan Allah dengan Sifat JaizNya.

Dan harus diingat bahwa rezeki itu ada rezeki rohani (kepuasan batin, kepintaran, kebahagiaan dll) ada rezeki jasmani (terpenuhi kebutuhan jasmani dll). 

Hikmah yang bisa diambil adalah umat Islam hendaknya selalu melestarikan sikap positive thinking kepada Allah, jika manusia itu sudah berusaha maksimal dan hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya, maka yakinlah Allah akan memilihkan yang terbaik buat kita diakherat nanti tidak didunia ini. Mungkin saja ketika ketika manusia diberikan harta yang melimpah didunia ia akan egois, tidak adil, tamak dan tidak mau berbagi kepada sesama (padahal Allah sudah menyerukan kepada manusia untuk saling berbagi dengan sesama), maka yang terbaik baginya adalah menjadi miskin. Inilah inti dari apa yang disebut dalam bahasa agama dengan QONAAH. Manusia tetap wajib berusaha dan Allah yang mengatur rezeki kita, karena hanya Allah yang Maha Adil dalam mengatur rezeki manusia, sedangkan manusia tidak akan adil. Buktinya, masih banyak orang Kaya yang membiarkan manusia disampingnya hidup dalam kemiskinan.


Karena sifat jaiz Allah itu pula lah, maka dalam Islam diharapkan tertanam kepada jiwa umatnya untuk mempunyai sikap khauf (takut) dan raja’ (berharap-harap). Takut dalam arti takut kalau nikmat di dunia yang ia rasakan ini akan dicabut oleh Allah, berharap-harap artinya ia berharap semoga Allah akan mengekalkan nikmat itu sampai akhir hayatnya dalam kondisi khusnul khatimah.


Sekian, semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

*(berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, mohon di benarkan jika salah)


Page 2

Jelaskan yang dimaksud Allah itu esa dalam zatnya | admin | 4.5