Laporan praktikum sifat koligatif larutan studi kenaikan titik didih

By On Saturday, August 20th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Laporan praktikum sifat koligatif larutan studi kenaikan titik didih – Halo Agan dan sista semua, Terima Kasih sudah berkunjung ke blog Trend Wisata dot com ini. Malam ini, kami di website www.trendwisata.com pengen menampilkan Q&A yang keren yang mengulas Laporan praktikum sifat koligatif larutan studi kenaikan titik didih. Kami persilakan sista dan agan lihat di bawah ini:

LAPORAN PRAKTIKUM LARUTAN “Sifat Koligatif Larutan” Disusun oleh: Kelompok 6 / Pendidikan IPA B 2015 1. 2. 3. 4. Wulan Rahayu Nia Puspita Rifqi Anifatussaro Mada Adi Sasena 15030654041 15030654050 15030654051 15030654077 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN IPA PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN SAINS 2017 i SIFAT KOLIGATIF LARUTAN (KENAIKAN TITIK DIDIH) ABSTRAK Praktikum tentang “Sifat Koligatif Larutan (Kenaikan Titik Didih)” dilaksanakan pada tanggal 06 Maret 2017. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh massa penambahan zat terlarut (yang membentuk larutan elektrolit) terhadap perubahan titik didih suatu larutan dan mengetahui pengaruh jenis zat terlarut (yang membentuk larutan non-elektrolit) terhadap perubahan titik didih suatu larutan. Metode yang digunakan yaitu dengan mengukur titik didih pelarut murni dan mengukur titik didih larutan NaCl dan Sukrosa dengan konsentrasi yang dimanipulasi sebanyak 5x yaitu 0,1 M; 0,2 M; 0,3 M; 0,4 M; 0,5 M menggunakan termometer. Hasil praktikum yang diperoleh yaitu aquades memiliki titik didih sebesar 92o C, larutan NaCl dengan konsentrasi 0,1 M; 0,2 M; 0,3 M; 0,4 M; 0,5 M berturut-turut memiliki titik didih 92o C, 92o C, 94o C, 94o C, dan 95o C. Untuk larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,1 M; 0,2 M; 0,3 M; 0,4 M; 0,5 M berturut-turut memiliki titik didih 94oC, 95o C, 96o C, 92o C, dan 93o C. Dari data yang telah diperoleh membuktikan bahwa pada larutan NaCl sebagai larutan elektrolit memiliki kenaikan titik didih lebih tinggi daripada larutan Sukrosa sebagai larutan non elektrolit. Menurut teori massa zat terlarut dari suatu larutan mempengaruhi kenaikan titik didih, namun pada praktikum ini hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yaitu terjadi penurunan titik didih pada larutan Sukrosa dengan konsentrasi 0,4 M. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan konsentrasi yang kecil maupun kurang teliti dalam penimbangan dan pengukuran suhu. Kata kunci : Konsentrasi, Kenaikan Titik Didih, Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit ii DAFTAR ISI Cover …………………………………………………………………………………………………… i Abstrak ………………………………………………………………………………………………… ii Daftar Isi………………………………………………………………………………………………. iii BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………… 1 A. Latar Belakang …………………………………………………………………………… 1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 1 C. Tujuan ………………………………………………………………………………………. 1 D. Hipotesis……………………………………………………………………………………. 1 BAB II KAJIAN TEORI ……………………………………………………………………… 2 BAB III METODE PERCOBAAN ……………………………………………………….. 6 A. Alat dan Bahan …………………………………………………………………………… 6 B. Rancangan Percobaan …………………………………………………………………. 6 C. Variabel dan Definisi Operasional Variabel …………………………………… 8 D. Langkah Kerja ……………………………………………………………………………. 8 E. Alur Percobaan …………………………………………………………………………….. 9 BAB IV DATA DAN ANALISIS ………………………………………………………….. 12 A. Data ………………………………………………………………………………………….. 12 B. Analisis……………………………………………………………………………………… 12 C. Pembahasan ………………………………………………………………………………….13 BAB V PENUTUP ……………………………………………………………………………….. 16 A. Kesimpulan ……………………………………………………………………………….. 16 B. Saran …………………………………………………………………………………………. 16 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………… 17 LAMPIRAN I. Perhitungan II. Lapsem III.Foto IV. LKM iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali dijumpai dua zat atau lebih yang homogen seperti gula yang dilarutkan dalam air, sirup dll. Dua zat atau lebih yang homogen dan tidak bisa dipisahkan disebut dengan larutan. Larutan mempunyai bermacam-macam sifat, namun pada praktikum kali ini akan Smembahas sifat koligatif larutan yaitu pada larutan NaCl dan larutan Sukrosa. Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan nonelektrolit. Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergatung pada jumlah zat terlarut yang larut pada suatu larutan. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik. Pada praktikum kali ini, akan dilakukan praktikum tentang kenaikan titik didih pada larutan NaCL dan larutan Sukrosa dengan air murni sebagai pelarut. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh penambahan massa zat terlarut (yang membentuk larutan elektrolit dan non elektrolit) terhadap perubahan titik didih? 2. Bagaimana pengaruh jenis zat terlarut (yang membentuk larutan elektrolit dan non elektrolit) terhadap titik didih suatu larutan ? C. Tujuan 1. Mengetahui pengaruh massa penambahan zat terlarut (yang membentuk larutan elektrolit) terhadap perubahan titik didih suatu larutan. 2. Mengetahui pengaruh jenis zat terlarut (yang membentuk larutan nonelektrolit) terhadap perubahan titik didih suatu larutan. D. Hipotesis 1. Jika massa zat terlarut semakin besar maka kenaikan titik didih semakin tinggi. 2. Jika zat terlarut bersifat elektrolit maka maka kenaikan titik didih lebih tinggi daripada zat terlarut yang bersifat non elektrolit. 1 BAB II DASAR TEORI 1. Sifat Koligatif Larutan Hukum Raoult merupakan dasar dari empat macam sifat larutan encer yang disebut sifat koligatif. Kata koligatif berasal dari kara Latin colligare yang berarti berkumpul bersama, karena sifat ini bergantung pada pengaruh kebersamaan (kolektif) semua partikel dan tidak pada sifat dan keadaan partikel. Sifat koligatif larutan ada empat macam yaitu penurunan tekanan uap (ΔP), kenaikan titik didih (ΔTb), penurunan titik beku (ΔTf) dan tekanan osmosis (π). Sifat kologatif dapat digunakan untuk menentukan massa molekul relatif suatu zat. 2. Titik Didih Pelarut Murni Suatu zat cair akan mendidih jika tekanan uap jenuh zat cair itu sama dengan tekanan udara disekitarnya. Apabila air murni dipanaskan pada tekanan 1 atm (760 mmHg) maka air akan mendidih pada temperatur 100 oC, karena pada tekanan uap jenuh zat cair yang sama dengan 1 atm disebut titik didih normal zat cair itu. Jadi yang dimaksud dengan titik didih adalah temperatur pada saat tekanan uap jenuh larutan sama dengan tekanan udara luar (tekanan pada permukaan larutan). 3. Kenaikan Titik Didih Larutan Jika pada suhu tertentu, suatu pelarut murni (air) ditambahkan zat terlarut misalnya gula pasir, maka tekanan uap air akan turun. Jika semakin banyak zat terlarut yang dilarutkan, maka makin banyak penurunan tekanan uapnya. Hal ini mengakibatkan larutan gula belum mendidih pada suhu 100 °C. Agar larutan gula cepat mendidih, diperlukan suhu yang cukup tinggi, sehingga tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan uap di sekitarnya. Adanya penambahan zat terlarut ini dapat menghalangi penguapan partikel pelarut. Sehingga, penguapan partikel-partikel pelarut membutuhkan energi yang besar. Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni disebut kenaikan titik didih (ΔTb). ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut ΔTb = Tb – Tb° 2 Gambar 1. Grafik tekanan uap larutan Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa pada setiap saat tekanan uap larutan (P) selalu lebih kecil dari tekanan uap pelarut murni (P°). Sehingga grafik tekanan uap larutan selalu ada di bawah pelarut dan titik didih larutan akan lebih tinggi dari pelarut murninya. Kenaikan titik didih yang disebabkan oleh 1 mol zat yang dilarutkan dalam 1000 gram zat pelarut mempunyai harga yang tetap disebut tetapan kenaikan titik didih (Kb). Perhatikan grafik berikut ini : Gambar 2. Grafik kenaikan titik didih Menurut hukum Roult, kenaikan titik didih (ΔTb = boiling point elevation) sebanding dengan hasil kali kemolalan larutan (m) dengan kenaikan titik didih molal (Kb). Kenaikan titik didih dapat dirumuskan sebagai berikut : ΔTb = m × Kb 3 Berikut ini adalah nilai harga Kb dari beberapa pelarut : Titik Didih (°C) Kb (Cmolal-1) Air 100 0,52 Aseton 56,5 1,75 Etanol 78,4 1,20 Benzena 80,1 2,52 Etil Eter 34,6 2,11 Asam asetat 118,3 3,07 Kloroform 61,2 3,63 Pelarut 4. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit Sifat koligatif larutan ditentukan oleh jumlah partikel (ion, molekul) dalam larutan. Oleh karena itu, untuk konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif larutan non-elektrolit. Hal ini dikarenakan jumlah partikel dalam larutan elektrolit akan lebih banyak karena adanya proses ionisasi zat terlarut. Zat elektrolit jika dilarutkan akan terionisasi menjadi ion-ion yang merupakan partikel-partikel di dalam larutan. Hal ini menyebabkan jumlah partikel pada satu mol larutan elektrolit lebih banyak daripada larutan nonelektrolit. Misalnya, larutan nonelektrolit C6H12O6, jika dimasukkan ke dalam air menghasilkan 1 mol partikel, sehingga larutan C6H12O6 1 M akan membeku pada suhu 1,86 °C di bawah titik beku air murni. Sedangkan 1 mol larutan elektrolit NaCl mengandung 2 mol partikel, yaitu 1 mol Na+dan 1 mol Cl–. Larutan NaCl 1 M sebenarnya mengandung 1 mol partikel per 1.000 gram air, jadi secara teoretis akan menurunkan titik beku 2 × 1,86 °C = 3,72 °C. Banyaknya ion yang dihasilkan dari zat elektrolit tergantung pada derajat ionisasinya (α). Larutan elektrolit kuat mempunyai derajat ionisasi lebih besar daripada larutan elektrolit lemah, yaitu mendekati satu untuk larutan elektrolit kuat dan mendekati nol untuk larutan elektrolit lemah. Secara umum dapat disimpulkan bahwa: “untuk konsentrasi yang sama, larutan elektrolit memiliki sifat koligatif larutan yang lebih besar 4 dibandingkan larutan non elektrolit”. Untuk menghitung nilai sifat-sifat koligatif larutan elektrolit, persamaan-persamaan yang diberikan sebelumnya untuk larutan non-elektrolit dapat digunakan dengan menambahkan faktor i, seperti diusulkan van’t Hoff. Nilai faktor van’t Hoff merupakan perbandingan antara efek koligatif larutan elektrolit dengan larutan non-elektrolit pada konsentrasi yang sama. Derajat ionisasi dirumuskan sebagai berikut : i = 1+ (n-1) α dimana, i = jumlah partikel yang diukur / jumlah partikel yang diperkirakan α = jumlah molekul zat yang terurai / jumlah molekul mulamula yang sama. Untuk menentukan kenaikan titik didihnya dapat dinyatakan sebagai berikut : ΔTb = m x Kb x i 5 BAB III METODE PERCOBAAN A. Alat dan Bahan 1. Alat a. Gelas kimia 2 buah b. Termometer 1 buah c. Kaki tiga 2 buah d. Kawat kasa 2 buah e. Bunzen 2 buah f. Pengaduk 1 buah g. Korek api 1 buah h. Timbangan digital 1 buah 2. Bahan a. Garam (NaCl) 0,17gr; 0,35gr; 0,53gr; 0,70gr; 0,87gr b. Sukrosa (C6H22O6) 1,03gr; 2,05gr; 3,08gr; 4,10gr; 5,13gr c. Air aquades 30 mL d. Spiritus secukupnya B. Rancangan Percobaan 1. Mengukur titik didih pelarut murni air  Memasukkan air ke dalam gelas kimia  Memanaskan air hingga mendidih  Mengukur suhu dengan termometer Gambar 3.1 Pengukuran Titik Didih Pelarut Murni 6 2. Mengukur titik didih larutan NaCl Dimasukkan ke dalam aquades lalu diaduk Menimbang massa NaCl 0,17 gr ; 0,35 gr ; 0,53 gr ; 0,70 gr ; 0,87 gr  Memasukkan larutan NaCl ke dalam gelas kimia  Memanaskan larutan NaCl hingga suhu konstan  Mengukur suhu dengan termometer Gambar 3.2 Pengukuran Titik Didih Larutan Garam 3. Mengukur titik didih larutan C6H22O6 Dimasukkan ke dalam aquades lalu diaduk Menimbang massa C6H22O6 1,03 gr ; 2,05 gr ; 3,08 gr ; 4,10gr ; 5,13 gr  Memasukkan larutan ke dalam gelas kimia C6H22O6  Memanaskan larutan hingga suhu konstan  Mengukur suhu termometer C6H22O6 dengan Gambar 3.3 Pengukuran Titik Didih Larutan Sukrosa 7 C. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel manipulasi : Jenis zat terlarut, Gram zat terlarut. Definisi Operasional : Pada percobaan ini kami menggunakan dua jenis larutan, yaitu larutan NaCl 0,17 gr; 0,35 gr; 0,53 gr; 0,70 gr; 0,87 gr dan larutan Sukrosa yaitu 1,03 gr; 2,05 gr; 3,08 gr; 4,10 gr; 5,13 gr. 2. Variabel kontrol : Jenis Zat Pelarut, Molaritas zat terlarut, Volume zat terlarut, volume zat pelarut. Definisi Operasional : Pada percobaan ini kami menggunakan jenis zat pelarut air dengan volumenya 50 ml, volume zat terlarut dan molaritas larutan NaCl dan larutan sukrosa yang sama yaitu: 0,1M; 0,2M; 0,3M; 0,4M; dan 0,5M. 3. Variabel respon : Titik didih. Definisi Operasional : Pada percobaan ini akan diketahui perbedaan titik didih antara larutan NaCl dan larutan sukrosa. D. Langkah Percobaan 1. Mengukur Titik Didih Pelarut Murni a. Menyiapkan alat dan bahan yang telah disiapkan b. Mengukur volume air menggunakan gelas kimia sebanyak 50 ml. c. Memanaskan air yang telah disiapkan hingga mendidih d. Mengukur suhu akhir / titik didih larutan yang ditunjukkan skala pada termometer 2. Mengukur Titik Didih Larutan NaCl a. Menyiapkan alat dan bahan yang telah disiapkan b. Mengukur volume air menggunakan gelas kimia sebanyak 30 ml. c. Menimbang NaCl sebanyak 0,17 gram menggunakan timbangan digital. d. Memasukkan dan mengaduk NaCl ke dalam gelas kimia yang telah diisi air. e. Memanaskan larutan NaCl yang telah disiapkan hingga mendidih f. Mengukur suhu akhir / titik didih larutan yang ditunjukkan skala pada termometer. 8 g. Mencatat suhu akhir yang ditunjukkan termometer. h. Mengulangi langkah kerja a sampai g namun dengan massa yang berbeda yaitu 0,35 gr; 0,53 gr; 0,70 gr; dan 0,87 gr. 3. Mengukur Titik Didih Larutan C6H22O6 a. Menyiapkan alat dan bahan yang telah disiapkan b. Mengukur volume air menggunakan gelas kimia sebanyak 30 ml. c. Menimbang C6H22O6 sebanyak 1,03 gram menggunakan timbangan digital. d. Memasukkan dan mengaduk C6H22O6 ke dalam gelas kimia yang telah diisi air. e. Memanaskan larutan C6H22O6 yang telah disiapkan hingga mendidih. f. Mengukur suhu akhir / titik didih larutan yang ditunjukkan skala pada termometer. g. Mencatat suhu akhir yang ditunjukkan termometer h. Mengulangi langkah kerja a sampai g namun dengan massa yang berbeda yaitu 2,05 gr; 3,08 gr; 4,10 gr; 5,13 gr. E. Alur Percobaan 1. Mengukur Titik Didih Pelarut Murni (Air) Air – Dimasukkan dalam gelas kimia sebanyak 30 ml – Dipanaskan hingga mendidih, suhu konstan – Diukur suhu dengan termometer Titik Didih 9 2. Mengukur Titik Didih Larutan Garam (NaCl) NaCl – Ditimbang sebesar 0,17 gr; 0,35 gr; 0,53 gr; 0,70gr; 0,87 gr dengan neraca digital. – Dimasukkan ke dalam gelas kimia – Ditambahkan air 30 ml hingga konsentrasinya sebesar 0,1M; 0,2M; 0,3M; 0,4M; dan 0,5M Larutan NaCl – Dipanaskan di atas pembakar bunzen hingga suhunya konstan – Diukur dengan termometer Titik didih 10 3. Mengukur Titik Didih Larutan Sukrosa Sukrosa – Ditimbang sebesar 1,03 gr; 2,05 gr; 3,08 gr; 4,10 gr; 5,13 gr dengan neraca digital. – Dimasukkan ke dalam gelas kimia – Ditambahkan air 30 ml hingga konsentrasinya sebesar 0,1M; 0,2M; 0,3M; 0,4M; dan 0,5M. Larutan sukrosa – Dipanaskan di atas pembakar bunzen hingga suhunya konstan – Diukur suhu dengan termometer Titik didih 11 BAB IV DATA DAN ANALISIS A. Data Dari praktikum yang telah kami lakukan, telah didapatkan data sebagai berikut : Tabel 4.1. Pengaruh Jenis Zat terhadap Titik Didih Massa (m ±0,01) No. Jenis Zat gr Konsentrasi Suhu (T±1) (M) oC Perubaha n Suhu (ΔTb) oC 1. Air murni – 0 92 – 2. Garam (NaCl) 0,17 0,1 92 92,10 0,35 0,2 92 92,20 0,53 0,3 94 92,31 0,70 0,4 94 92,41 0,87 0,5 95 92,51 1,03 0,1 94 92,05 2,05 0,2 95 92,10 3,08 0,3 96 92,16 4,10 0,4 92 92,21 5,13 0,5 93 92,26 3. Sukrosa Keterangan : Perubahan suhu menggunakan sistem matematis Volume zat pelarut = 30 ml B. Analisis Praktikum ”Sifat Koligatif Larutan” ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan zat (yang membentuk larutan elektrolit dan non elektrolit) terhadap perubahan titik didih suatu larutan dan. Pada praktikum ini kami menggunakan aquades sebanyak 30 ml sebagai pelarut, larutan sukrosa dan larutan garam dengan konsentrasi yang dimanipulasi sebanyak 5x (masingmasing 0,1M, 0,2M, 0,3M, 0,4M, dan 0,5M). Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, aquades memiliki titik didih sebesar 92o C, larutan garam (NaCl) dengan konsentrasi 0,1 M memiliki 12 titik didih 92o C, konsentrasi 0,2 M memiliki titik didih 92o C, konsentrasi 0,3 M memiliki titk didih 94o C, konsentrasi 0,4 M memiliki titik didih 94o C, dan konsentrasi 0,5 M memiliki titik didih 95o C. Untuk larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,1 M memiliki titik didih 94o C, konsentrasi 0,2 M memiliki titik didih 95o C, konsentrasi 0,3 M memiliki titk didih 96o C, konsentrasi 0,4 M memiliki titk didih 92o C, dan konsentrasi 0,5 M memiliki titk didih 93o C. C. Pembahasan Berdasarkan data yang kami peroleh dari praktikum, dapat dibuktikan bahwa penambahan jenis larutan (elektrolit/non elektrolit) berpengaruh terhadap titik didih suatu zat, dalam hal ini aquades. Diketahui dalam teori bahwa larutan garam mempunyai titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan sukrosa untuk setiap konsentrasinya. Titik didih larutan garam lebih tinggi dari pada larutan sukrosa karena larutan garam merupakan jenis larutan elektrolit dan larutan sukrosa merupakan larutan non elektrolit. Dimana larutan elektrolit memiliki nilai sifat koligatif larutan yang lebih besar daripada larutan non elektrolit, dikarenakan jumlah partikel dalam larutan elektrolit akan lebih banyak karena adanya proses ionisasi zat terlarut. Namun pada konsentrasi 0.4 M larutan garam didapatkan titik didih yang sama dengan larutan garam konsentrasi 0,3 M, hal ini mungkin terjadi dikarenakan perbedaan konsentrasi yang kecil maupun kurang teliti dalam penimbangan dan pengukuran suhu. Dilain sisi, pada larutan gula 0,1M, 0,2M, dan 0,4M memiliki titik didih yang lebih tinggi dari larutan garam dimana seharusnya memiliki suhu yang lebih rendah/ perubahan suhu yang lebih kecil dari larutan garam, hal ini terjadi karena termometer yang digunakan berbeda dengan yang digunakan pada larutan garam, sehingga memungkinkan jika termometer memiliki kesensitifan yang berbeda, dapat dilihat pada larutan gula dengan konsentrasi 0,4M, dan 0,5M yang memang benar memiliki titik didih dibawah larutan garam dengan konsentrasi yang sama, dengan menggunakan termometer yang sama. 13 Tabel 4.2 Nilai Kenaikan Titik Didih Secara Praktikum Dan Matematis No. 1. 2. Jenis Konsentrasi ∆Tb (oC) ∆Tb (oC) larutan (M) (Tb lar – Tb pel) (Kb . m . i) 0,1 0 0,10 0,2 0 0,20 0,3 +2 0,31 0,4 +2 0,41 0,5 +3 0,51 0,1 +2 0,05 00,2 +3 0,10 0,3 +4 0,16 0,4 0 0,21 0,5 +1 0,26 Garam Sukrosa Berdasarkan data yang telah kami buat, diketahui bahwa titik didih larutan garam maupun larutan sukrosa rata-rata lebih tinggi dari pada titik didih pelarut itu sendiri. Titik didih suatu larutan dapat lebih tinggi ataupun lebih rendah dari titik didih pelarut, bergantung pada kemudahan zat terlarut tersebut menguap. Selain itu juga dapat dipengaruhi kondisi suhu dalam ruangan dan tekanan yang tidak dapat di control, penggunaan thermometer secara bergantian dan keadaan thermometer yang tidak dapat dalam keadaan statis. Hasil percobaan yang telah kami dapat masih belum sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa larutan elektrolit memiliki nilai sifat koligatif larutan yang lebih besar daripada larutan non elektrolit yang menunjukkan bahwa larutan elektrolit memiliki perubahan titik didih yang lebih besar dibandingkan dengan larutan non elektrolit. 14 Grafik Titik Didih Larutan NaCl dan Sukrosa 97 96 Titik Didih ºC 95 94 93 92 91 90 89 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 Konsentrasi (M) NaCL Sukrosa Grafik 4.1 Titik Didih Larutan Grafik tersebut menunjukkan bahwa pada konsentrasi 0,1M, 0,2M, dan 0,3M larutan gula memiliki titik didih yang lebih tinggi, dan pada konsentrasi 0,4M, dan 0,5M larutan garam lah yang memiliki titik didih yang lebih tinggi. 15 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Massa zat terlarut dari suatu larutan mempengaruhi kenaikan titik didih karena massa zat terlarut akan mempengaruhi konsentrasi suatu larutan sehingga ketika konsentrasi suatu larutan semakin besar maka semakin besar pula kenaikan titik didih suatu larutan. 2. Jenis zat terlarut mempengaruhi kenaikan titik didih suatu larutan dimana larutan elektrolit memiliki kenaikan titik didih lebih tinggi daripada larutan non elektrolit. Hal ini dibuktikan pada larutan NaCl sebagai larutan elektrolit memiliki kenaikan titik didih lebih tinggi daripada larutan Sukrosa sebagai larutan non elektrolit. B. Saran Adapun saran pada praktikum kali ini, seharusnya termometer, buzen dan statif dikontrol agar tidak terjadi perbedaan pengukuran, kemudian harus diperhatikan juga ketelitian dalam pembacaan termometer agar data hasil praktikum sesuai dengan teori. 16 DAFTAR PUSTAKA Achmad, Hiskia. 2001. Penuntun Belajar Kimia Dasar Kimia Larutan. Bandung : PT Citra Aditya Bakti. Chang, Raymond. 2007. Kimia Dasar Jilid 2 Edisi 3. Jakarta : Erlangga. Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 17 LAMPIRAN PERHITUNGAN  Massa Garam (NaCl) : 1. M= 𝑔𝑟 𝑀𝑟 0,1 = × 𝑔𝑟 58,5 1000 P × 1000 30 gr = 0,1755 gram 2. M = 0,2 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 × 𝑔𝑟 58,5 1000 P × 1000 30 gr = 0,351 gram 3. M = 0,3 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 × 𝑔𝑟 58,5 1000 P × 1000 30 gr = 1,5265 gram 4. M = 0,4 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 × 𝑔𝑟 58,5 1000 P × 1000 30 gr = 0,702 gram 5. M = 0,5 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 × 𝑔𝑟 58,5 1000 P × 1000 30 gr = 8,77 gram  Massa Gula (Sukrosa) : 1. M = 0,1 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 𝑔𝑟 342 × × 1000 P 1000 30 gr = 1,026 gram 2. M = 0,2 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 𝑔𝑟 342 × × 1000 P 1000 30 gr = 2,052 gram 𝑔𝑟 3. M= 𝑀𝑟 0,3 = × 𝑔𝑟 342 1000 × P 1000 30 gr = 3,078 gram 4. M = 0,4 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 𝑔𝑟 342 × × 1000 P 1000 30 gr = 4,104 gram 5. M = 0,5 = 𝑔𝑟 𝑀𝑟 𝑔𝑟 342 × × 1000 P 1000 30 gr = 5,13 gram  Kenaikan titik didih pada larutan gula (Sukrosa) dan garam (NaCl) : a) Larutan Garam (NaCl) 1. ΔTb = Kb . m . i 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 .1+ (n-1) ɑ 0,17 1000 0,17 1000 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .1+ (2-1) 1 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .2 170 = 0,52 . 1755 . 2 = 0,10 ⁰C ΔTb Tblar 2. ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,10 ⁰C + 92 ⁰C = 92,10 ⁰C = Kb . m . i 𝑔𝑟 1000 = 0,52. 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 .1+ (n-1) ɑ 0,35 1000 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .1+ (2-1) 1 350 = 0,52 . 1755 . 2 = 0,20 ⁰C ΔTb Tblar 3. ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,20 ⁰C + 92 ⁰C = 92,20 ⁰C = Kb . m . i 𝑔𝑟 1000 = 0,52. 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 .1+ (n-1) ɑ 0,53 1000 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .1+ (2-1) 1 530 = 0,52 . 1755 . 2 = 0,31 ⁰C ΔTb Tblar 4. ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,31 ⁰C + 92 ⁰C = 92,31 ⁰C = Kb . m . i 𝑔𝑟 1000 = 0,52. 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 .1+ (n-1) ɑ 0,70 1000 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .1+ (2-1) 1 700 = 0,52 . 1755 . 2 = 0,41 ⁰C ΔTb Tblar 5. ΔTb = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,41 ⁰C + 92 ⁰C = 92,41 ⁰C = Kb . m . i 𝑔𝑟 1000 = 0,52. 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 .1+ (n-1) ɑ 0,87 1000 = 0,52 . 58,5 x 30 𝑚𝐿 .1+ (2-1) 1 870 = 0,52 . 1755 . 2 = 0,51 ⁰C ΔTb Tblar = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,51 ⁰C + 92 ⁰C = 92,51 ⁰C b) Larutan Gula (Sukrosa) 1. ΔTb = Kb . m 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 = 0,52 . 1,03 342 1000 x 30 𝑚𝐿 1030 = 0,52 . 10260 ΔTb Tblar 2. ΔTb = 0,52 . 0,10 = 0,05 ⁰C = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,05 ⁰C + 92 ⁰C = 92,05 ⁰C = Kb . m 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 = 0,52 . 2,05 x 1000 342 30 𝑚𝐿 2050 = 0,52 . 10260 ΔTb Tblar 3. ΔTb = 0,52 . 0,20 = 0,10 ⁰C = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,10 ⁰C + 92 ⁰C = 92,10⁰C = Kb . m 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 = 0,52 . 3,08 x 1000 342 30 𝑚𝐿 3080 = 0,52 . 10260 ΔTb Tblar 4. ΔTb = 0,52 . 0,30 = 0,16 ⁰C = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,16 ⁰C + 92 ⁰C = 92,16 ⁰C = Kb . m 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 = 0,52 . 4,10 x 1000 342 30 𝑚𝐿 4100 = 0,52 . 10260 ΔTb Tblar = 0,52 . 0,40 = 0,21 ⁰C = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,21 ⁰C + 92 ⁰C = 92,21 ⁰C 5. ΔTb = Kb . m 𝑔𝑟 1000 = 0,52 . 𝑀𝑟 x 30 𝑚𝐿 = 0,52 . 5,13 x 1000 342 30 𝑚𝐿 5130 = 0,52 . 10260 ΔTb Tblar = 0,52 . 0,50 = 0,26 ⁰C = Tblarutan – Tbpelarut = ΔTb + Tbpelarut = 0,26 ⁰C + 92 ⁰C = 92,26 ⁰C LAMPIRAN FOTO Perhitungan massa Sukrosa Proses pencampuran air dan sukrosa Proses pemanasan Larutan Garam Perhitungan massa sukrosa Proses pemanasan larutan sukrosa Proses pemanasan Air murni Pengukuran titik didih larutan garam Pengukuran titik didih larutan sukrosa

Pengukuran titik didih air murni

Laporan praktikum sifat koligatif larutan studi kenaikan titik didih | admin | 4.5