Masjid gelgel merupakan masjid yang pertama kali dibangun di

By On Friday, August 26th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Masjid gelgel merupakan masjid yang pertama kali dibangun di – Pa kabar Agan semua, Met Datang di blog Trend Wisata ini. Sore ini, saya dari web trendwisata.com mau menampilkan tanya dan jawab yang mantap yang akan menunjukkan tentang Masjid gelgel merupakan masjid yang pertama kali dibangun di. Silahkan sobat tonton setelah ini:


Pengibar bendera merah putih pada saat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah​


tolong di jwab,jgn ngasal,ngasal:hapus,tyms!​


2 dampak setelah fotosintesis


tuliskan kewajiban di sekolah dalam bahasa Inggris​


1. Jelaskan yang dimaksud tentang peta pikiran?​

SM | Pulau Dewata yang penduduk mayoritasnya beragama Hindu ternyata menyimpan khazanah Islam. Adalah sebuah masjid bernama Nurul Huda, merupakan masjid tertua yang ada di pulau Bali ini. Masjid ini terletak di desa Gelgel, Klungkung, Bali.

Masjid tertua di Bali ini terletak sekitar 3 km sebelah
Selatan kota Klungkung, sedangkan jarak dari Denpasar sekitar 30 km. Masjid
Nurul Huda di Gelgel ini berada di tengah-tengah perkampungan penduduk Hindu
Bali. Dan di sekitarnya terdapat banyak pura-pura besar warga Hindu. Namun
demikian kehidupan penduduknya saling menghormati dan toleransi terjaga. 

Merujuk perkembangan agama Islam di Bali, peninggalan
bersejarah masjid tertua di Bali ini diperkirakan berdiri pada akhir abad
ke-13. Berawal dari perjalanan dari Raja Gelgel yaitu Dalem Ketut Ngulesir yang
menuju ke Majapahit yang berpusat di Mojekerto untuk mengikuti pertemuan
raja-raja se-Nusantara.

Kerajaan Majapahit pada waktu itu dibawah kepemimpinan Raja
Hayam Wuruk. Dalam perjalanan pulang menuju Bali raja Dalem Ketut Ngulesir
diiringi dan dikawal oleh pasukan kerajaan Majapahit sebanyak 40 orang
prajurit.

Sebagian dari jumlah prajurit pengawal tersebut beragama
Islam, salah satu pengawal tersebut adalah Raden Modin dan Kyai Abdul Jalil
yang pada akhirnya menetap di Bali. Mereka menetap, menyebarkan agama Islam dan
akhirnya mendirikan sebuah masjid atas seijin raja Gelgel.

Bentuk mimbar di masjid ini memiliki banyak kemiripan dengan
mimbar mimbar kuno yang ada di masjid masjid kuno di pulau Jawa seperti mimbar
di Masjid Sendang Dhuwue dan masjid Mantingan. Di mimbar ini juga terdapat
inskripsi yang menjelaskan renovasi masjid ini di tahun 1280 Hijriah bertepatan
dengan tahun 1863 Miladiyah.

Dari inskripsi tersebut dapat diketahui perbaikan masjid ini
diakukan pada tanggal 7 Juli 1280H / 1863M. meskipun tidak diketahui secara
pasti kapan masjid ini pertama kali dibangun namun dipastikan bahwa masjid ini
telah berdiri disana jauh sebelum tahun 1863M.

Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari zaman Kerajaan Gelgel
telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan rehab, sampai akhirnya pada tahun
1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda dibangun ulang dengan
konstruksi beton berlantai dua, dan bagian atapnya masih tetap mempertahankan
bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan pada Tahun 2010 M /Tahun 1431
H.

Masjid yang berdiri di pinggir jalan raya utama desa Gelgel
ini memiliki menara menjulang tinggi sekitar 17 meter. Mulai saat itu lahir
perkampungan-perkampungan muslim di Bali diantaranya Kepaon dan Serangan di
Denpasar, Pegayaman di Buleleng, Loloan di Jembrana dan Budakeling di
Karangasem.

Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja Gelgel pertama yang
membangun istana Gelgel pertama kali, Dalem Ketut mempersunting anak dari Arya
Kebon Tuboh dan menurunkan putra bernama dalem Waturenggong, yang mana pada
masa pemerintahan Dalem Waturenggong, kerajaan Gelgel mengalami masa keemasan.

Kondisi kampung Gelgel tidak ada bedanya dengan
kampung-kampung muslim lainnya di Nusantara, namun nuansanya yang sedikit
berbeda, disekitarnya dikelilingi pura dan warga yang mayoritas beragama Hindu.
Nama warga muslim yang dulunya berisi embel-embel nama khas Bali seperti Wayan,
Nengah, Nyoman dan Ketut, seiring perjalanan waktu nama khas Bali tersebut
ditinggalkan dan diganti dengan nama Islami dan modern.

Warga Muslim desa Gelgel tinggal berbaur dengan warga
mayoritas dan terkadang menikah dengan warga Hindu setempat, tempat tinggal
mereka menyebar di sekitaran Klungkung, seperti kampung Lebah, Kusamba sampai
ke desa Toya Pakeh di pulau Nusa Penida.

Bahasa komunikasi mereka sehari-hari tetap menggunakan bahasa daerah Bali.  Masjid Nurul Huda sudah berkali-kali mengalami pemugaran, namun bentuk khasnya masih terlihat, seperti sebuah menara 17 meter. Kampung Gelgel dan keberadaan masjid tertua di Bali merupakan jejak-jejak sejarah penyebaran agama Islam di pulau Bali. [nnk]

Komentar

bbn/balitoursclub.com/Mengenal Masjid Nurul Huda Gelgel, Masjid Tertua di Bali

Bali selama ini dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu. Tapi tahukah anda, jika agama Islam ternyata sudah lama hadir di provinsi Bali.  Ini dibuktikan dengan adanya masjid Nurul Huda yang terletak di kampung muslim Gelgel, Klungkung, Bali. Dibangun pada abad 14, masjid ini menjadi masjid tertua di Bali. Dari kota Denpasar, perjalanan menuju masjid tertua di pulau dewata ini memakan waktu sekitar satu jam. Masjid Nurul Huda berdiri megah di tengah-tengah Kampung Islam Gelgel yang berpenduduk seribu orang lebih. Saat kita masuk halaman masjid, di sisi timur halaman masjid terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter. Menurut Kepala Desa Kampung Islam Gelgel, Masjid Nurul Huda berdiri pada awal abad 14. Saat itu Bali dikuasai raja Kerajaan Gelgel yang bernama Dalem Ketut Ngulesir.  Dalam catatan sejarah warga, usai menghadiri pertemuan raja-raja Nusantara di Majapahit di Jawa, Raja Gelgel kembali pulang ke Bali dengan dikawal 40 orang prajurit Majapahit. Setibanya di Gelgel Klungkung Bali, pengawal dari Kerajaan Majapahit yang saat itu sebagian besar sudah memeluk agama Islam kemudian menetap di Gelgel.  “Mereka kemudian menyebarkan agama Islam tanpa paksaan atas seizin raja Gelgel. Juga mendirikan masjid yang menjadi cikal bakal kampung Islam di Gelgel,”papar Sahidin, Kepala Desa Kampung Islam Gelgel, dalam wawancara dengan beritabali.com, pada bulan Juni 2015. Hingga kini Masjid Nurul Huda tetap terawat dengan baik dan menjadi kebanggan warga muslim setempat. Sementara hubungan antara warga muslim kampung Gelgel dan masyarakat Hindu sekitarnya juga berjalan rukun dan harmonis.

Masjid Gelgel Bali menjadi saksi harmoni kehidupan masyarakat di Bali. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya penganut agama Hindu, masjid tertua di Bali ini hidup lengkap dengan kampung Islam di sekitarnya.

Masjid Gelgel Bali

Jika melihat sepintas, tidak ada hal atau petunjuk yang menunjukkan tempat ibadah ini berbeda dari masjid yang ada di Indonesia pada umumnya. Berdiri megah dan nyata sekali merupakan bangunan baru. Hanya, menara masjid Nurul Huda, Desa Gelgel, Klungkung, Bali, yang setinggi 17 meter masih merupakan peninggalan bangunan lama dengan ciri arsitektur lama.

Selain manara, masjid juga masih lengkap dengan pintu kayu berukir lama. Soal bangunan yang tampak baru, “baru direnovasi dan nyaris tidak ada bangunan lama yang tersisa,” kata penjaga masjid, Aminuddin.

Suasana sekitar dan di area masjid sendiri juga memperlihatkan kondisi yang umum dijumpai di tempat-tempat ibadah umat muslim di banyak tempat. Seperti sore itu, saat adzan asar menjelang bergema, beberapa anak dengan pakaian koko dan bercelana panjang sudah duduk-duduk di tangga. Mereka bersiap untuk belajar mengaji.

Masjid tertua di Bali ini berada di kampung muslim desa Gelgel, Klungkung, berbatasan dengan Desa Kamasan yang merupakan desa pengrajin lukisan wayang klasik dan perajin uang kepeng. Terletak sekitar 3 kilometer sebelah selatan Klungkung, dan jarak dari Denpasar sekitar 30 kilometer melalui jalan By Pass Ida Bagus Mantra.

Masjid Nurul Huda di Gelgel ini berada di tengah-tengah perkampungan penduduk Hindu Bali. Dan di sekitarnya terdapat banyak pura-pura besar penyungsungan warga umat Hindu seperti kahyangan jagat pura Dasar Bhuana, pura Kawitan Pasek Gelgel, dan pura Dalem Prajurit. Kehidupan masyarakatnya terlihat tenang dan hidup dalam harmoni.

Sesungguhnya bangunan masjid ini pertama kali dibangun pada akhir abad ke-13 dan merupakan jejak masuknya Islam ke pulau Dewata. Seiring waktu bangunan mulai terlihat kuno dan perlu diperbaiki. Karena itu, sejak 1970-an, renovasi terus dilakukan hingga kini dan menjelma menjadi sebuah masjid nan megah. “Yang tertinggal (dari zaman dulu) hanya mimbarnya,” ujar salah seorang imam masjid. Di dalam masjid itu memang ada sebuah mimbar dari kayu berukir, yang berdiri di depan tempat pemberi khotbah.

Menara Masjid Nurul Huda di Kampung Islam Gelgel, Klungkung, Bali. Foto: Dok TL/Charisma A

Itulah bukti satu-satunya dari pasukan Majapahit yang tiba di Gelgel saat mengiringi Raja Gelgel, Dalem Ketut Klesir (1380-1460 M), setelah melakukan pertemuan di Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-13.  Kala itu, Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan seluruh Nusantara. Ketika hendak kembali ke Bali, Raja Gelgel dikawal 40 prajurit Kerajaan Majapahit. Pasukan tersebut beragama Islam. Selain menetap, dengan seizin raja, mereka mendirikan tempat ibadah dan menyebarkan agama Islam.

Menurut Aminuddin, di sekitar masjid pun menjadi kampung Islam. Ada sekitar 300 kepala keluarga. Kini, bahkan, tidak terbatas pada warga Bali, tapi juga kaum pendatang yang kebanyakan beragama Islam tinggal di kampung tersebut. Karena itu, anak-anak yang sore itu mengaji ketika ditanya, kebanyakan mengaku bukan dari suku Bali. “Aku orang Jawa,” ujar Adi, salah satu anak yang ditemui sore itu. Jawaban yang sama juga dilontarkan dua anak lain. Anak-anak mengaji hampir setiap sore. Setelah asar hingga magrib, masjid selalu dipenuhi anak-anak. 

Kampung Islam berada di sekitar masjid, terutama di bagian belakang. Tepat di gang sebelah gerbang tempat ibadah, saya melihat orang wira-wiri dengan mengenakan peci dan sarung. Anak-anak bersepeda dengan baju koko dan peci juga. Masjid berada di jalan raya. Di ujung jalan, berdiri pura lengkap dengan penjor di bagian depannya. Kehidupan pemeluk Islam dan Hindu berjalan dengan harmonis.

Aminuddin, sang penjaga masjid, mengaku asli dari Bali. Hingga cucunya pun masih beragama Islam. Ia mengatakan, meski orang Bali, tidak memiliki embel-embel seperti pada umumnya. Pada namanya tidak ada tambahan wayan, made, dan lain-lain. “Ada juga yang seperti itu, tapi di banjar lain,” ucapnya.

Di samping dan di seberang masjid berdiri kedai-kedai dengan label halal. Tetap dengan makanan khas Bali, seperti nasi campur, tapi dijamin aman dikonsumsi kaum muslim. Sore itu, saya meninggalkan Gelgel. Namun tepat azan magrib berkumandang, saya sudah kembali ke masjid Nurul Huda untuk menunaikan salat dan menikmati senja di sekitar masjid. Ruangan ibadah lebih ramai. Sebelum beranjak, lagi-lagi, saya mengamati satu per satu warga keluar masjid dan memasuki gang untuk kembali ke rumahnya.

Rita N./Charisma A./TL/agendaIndonesia

*****

WhatsAppFacebookTwitterEmail

Masjid gelgel merupakan masjid yang pertama kali dibangun di | admin | 4.5