Mengapa jerman merasa diperlakukan tidak adil melalui perjanjian versailles

By On Thursday, November 24th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Mengapa jerman merasa diperlakukan tidak adil melalui perjanjian versailles – Halo teman semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke halaman blog Trend Wisata ini. Saat ini, kami di web site trendwisata.com ingin berbagi tanya jawab yang keren yang menjelaskan tentang Mengapa jerman merasa diperlakukan tidak adil melalui perjanjian versailles. Langsung saja sobs lihat di bawah ini:

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perjanjian Versailles

The Signing of the Peace Treaty of Versailles

Perjanjian
Versailles
(1919) adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu
dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November
1918 di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseteruan sesungguhnya. Salah satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman menerima tanggung
jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara tertentu yang tergabung dalam Sekutu.

Negosiasi di antara negara-negara sekutu dimulai pada 7 Mei 1919, pada peringatan tenggelamnya RMS Lusitania. Aturan yang diterapkan terhadap
Jerman pada perjanjian tersebut antara lain adalah penyerahan sebagian wilayah Jerman kepada beberapa negara tetangganya, pelepasan koloni seberang lautan dan Afrika milik Jerman, serta pembatasan pasukan militer Jerman yang diharapkan dapat menghambat Jerman untuk kembali memulai perang. Karena Jerman tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam negosiasi, pemerintah Jerman mengirimkan protes terhadap hal yang
dianggap mereka sebagai sesuatu yang tidak adil, dan selanjutnya menarik diri dari perundingan. Belakangan, menteri luar negeri baru Jerman, Hermann Müller, setuju untuk menandatangani perjanjian pada 28
Juni 1919. Perjanjian ini sendiri diratifikasi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Januari
1920.

Di Jerman, perjanjian ini menimbulkan keterkejutan dan rasa malu yang berperan terhadap runtuhnya Republik Weimar pada 1933, terutama karena banyak orang Jerman tidak percaya bahwa mereka harus menerima tanggung jawab penuh sebagai
pemicu perang. “Empat Besar” (Big Four) yang melakukan negosiasi perjanjian ini adalah Perdana Menteri David Lloyd George dari Britania Raya, Perdana Menteri Georges Clemenceau dari
Prancis, Vittorio Orlando dari Italia, dan Presiden Woodrow Wilson dari
Amerika Serikat. Jerman tidak diundang ke Prancis untuk mendiskusikan perjanjian. Di Versailles saat itu, sulit untuk mencapai kesepakatan bersama karena tujuan mereka saling konflik satu sama lain. Hasil perundingan disebut-sebut sebagai suatu kompromi yang tidak disukai oleh pihak manapun.

Uraian Singkat Isi Perjanjian Versailles[sunting | sunting sumber]

  1. Jerman harus menarik mundur pasukannya dari Prancis, Belgia, Luksemburg, dan Prusia Timur.
  2. Jerman harus menyerahkan sebagian wilayahnya, seperti Rheinland, Sudentenland, sebagian
    Prusia Timur, serta menyerahkan koloninya di Afrika dan pasifik.
  3. Jerman harus menyerahkan kembali Provinsi Alsace dan Loraine yang diperoleh ketika Perang Prusia-Prancis pada tahun 1871.
  4. Jerman harus menyerahkan 5.000
    artileri, 25.000 senapan mesin, 5.000 lokomotif, 5.000 truck, 15.000 gerbong, 1.700 pesawat tempur (bomber), serta semua kapal selam dan semua kapal perang Jerman. harus dikirim ke Scapia Flow untuk dibagi-bagikan oleh Sekutu.
  5. Jerman harus memberikan ganti rugi sebesar 5 miliar dolar AS dalam bentuk emas atau yang setara mulai bulan Mei
    1921.
  6. Jerman tidak boleh memiliki tank, pesawat tempur bomber, dan kapal perang.
  7. Industri perang Jerman akan diawasi secara ketat.
  8. Jerman hanya diperbolehkan memiliki 100.000 tentara.[6]

Syarat-syarat[sunting | sunting sumber]

Perjanjian ini menciptakan keadaan kondusif didirikannya
Liga Bangsa-Bangsa, sebuah tujuan utama Presiden A.S. Woodrow Wilson. Liga Bangsa-Bangsa dimaksudkan untuk menengahi konflik-konflik internasional dan dengan ini mencegah perang pada masa depan. Hanya empat dari “Empat belas butir”
(Fourteen Points) Wilson diwujudkan, karena ia harus berkompromi dengan Clemenceau, Lloyd George dan
Orlando pada beberapa butir dan sebagai gantinya dapat mempertahankan butirnya yang “keempatbelas” Liga Bangsa-Bangsa.

Pandangan umum ialah bahwa Clemenceau dari Prancis adalah yang paling bersemangat dalam membalas dendam Jerman, Front Barat perang terutama berada di wilayah Prancis. Perjanjian ini dianggap tidak adil kala itu
karena merupakan perdamaian yang didikte oleh para pemenang dan secara keseluruhan menyalahkan perang kepada Jerman. Hal ini sungguh menyederhanakan situasi. Beberapa sejarawan modern berpendapat bahwa perjanjian ini cukup adil karena merefleksikan syarat-syarat berat yang didiktekan kepada Rusia oleh Jerman dengan Perjanjian Brest-Litovsk.

Daerah yang Diserahkan[sunting | sunting sumber]

  • Alsace-Lorraine, daerah-daerah yang diserahkan kepada Jerman menurut mukadimah perdamaian yang ditandatangani di Versailles pada 26 Februari
    1871, dan Perjanjian Frankfurt pada 10 Mei 1871, dikembalikan kepada Prancis tanpa jajak pendapat mulai tanggal gencatan senjata 11 November 1918. (area
    14 522 km², penduduk 1.815.000 jiwa (1905)),
  • Schleswig Utara termasuk kota-kota yang mayoritas penduduknya adalah Jerman yaitu Tondern (Tønder),
    Apenrade, Sonderburg, Hadersleben, dan Lügum di Schleswig-Holstein, setelah Jajak Pendapat Schleswig, kepada Denmark (area 3 984 km², penduduk 163.600 jiwa (1920)),
  • Provinsi
    Prusia Posen dan Prusia Barat, yang dicaplok oleh Prusia pada Pembagian Polandia (1772-1795), dikembalikan kepada Polandia yang
    telah lahir kembali. Wilayah ini telah dibebaskan oleh penduduk Polandia lokal pada Pemberontakan Wielkopolska antara tahun 1918-1919 (area 53 800 km², penduduk 4.224.000 jiwa (1931)).
  • Prusia Barat diberikan kepada Polandia supaya Negara ini memiliki akses bebas ke lautan, termasuk minoritas Jerman
    yang cukup besar dan dengan ini menciptakan Koridor Polandia.
  • Wilayah Hlučínsko Hulczyn di Silesia Hulu diberikan kepada
    Cekoslovakia (area 316 atau 333 km², dengan penduduk 49.000 jiwa),
  • bagian timur Silesia Hulu, kepada Polandia (area 3 214 km², dengan penduduk 965.000 jiwa), meski 60% pada jajak pendapat memilih untuk
    tetap bergabung dengan Jerman
  • Kota-kota Jerman Eupen dan Malmedy kepada Belgia
  • wilayah
    Soldau di Prusia Timur (stasiun kereta api rute Warsawa-Gdańsk) kepada
    Polandia (area 492 km²),
  • bagian utara Prusia sebagai Memelland di bawah pengawasan Prancis, kemudian diserahkan kepada Lithuania tanpa
    jajak pendapat.
  • dari bagian timur Prusia Barat dan bagian selatan Prusia Timur (Warmia dan Masuria), sebuah daerah kecil kepada Polandia,
  • provinsi Saarland diawasi Liga Bangsa-Bangsa selama 15 tahun. Lalu setelah periode ini
    diadakan jajak pendapat apakah penduduk menginginkan bergabung dengan Prancis atau Jerman. Pada masa ini, produk batubara diberikan kepada Prancis.
  • pelabuhan Danzig (sekarang Gdańsk, Polandia) dengan wilayah muara sungai Wisla pada
    Laut Baltik dijadikan Freie Stadt Danzig (Kota Bebas Danzig) di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. (wilayah 1 893 km², dengan penduduk 408.000 jiwa (1929)).

Dalam Pasal 156 Jerman menyerahkan konsesi-konsesi
Jerman di Shandong, Tiongkok kepada Jepang dan tidak menyerahkannya kembali ke Tiongkok. Kemarahan warga Tiongkok mengenai keputusan ini mengakibatkan demonstrasi dan gerakan kebudayaan yang dikenal dengan istilah Gerakan Empat
Mei dan memengaruhi Negara ini untuk tidak menanda tangani perjanjian. Tiongkok menyatakan selesai perang dengan Jerman pada September 1919 dan menanda tangani perjanjian terpisah dengan Jerman pada tahun 1921.

Syarat-Syarat Militer[sunting |
sunting sumber]

Batasan-batasan Militer[sunting |
sunting sumber]

Selain menyerahkan daerah, ada beberapa batasan untuk Jerman di bidang militer, antara lain:

  • Jumlah tentara Jerman maksimal yang dimiliki Jerman adalah 100.000 orang saja, dan wajib militer
    dihapuskan
  • Jumlah tentara Angkatan Laut Jerman maksimal 15.000 orang
  • Jumlah kapal perang bersenjata (Battleship) Jerman maksimal 6 (Dengan ketentuan bobot maksimal 10.000 Ton)
  • Jumlah kapal perang gerak cepat (Cruiser) Jerman maksimal 6 (Dengan ketentuan bobot maksimal 6.000 Ton)
  • Jumlah kapal penghancur (Destroyer) Jerman maksimal 12 (Dengan ketentuan bobot maksimal 800 ton)
  • Jumlah kapal torpedo (PT Boat) Jerman maksimal 12
    (Dengan ketentuan bobot maksimal 200 ton)
  • Batasan dalam produksi senjata (Contoh: Senapan Mesin Maxim dan Rifle Gewehr 98)

Gewehr
98, senjata yang dibatasi produksinya setelah perjanjian Versailles

Larangan Militer[sunting |
sunting sumber]

Juga ada beberapa hal yang dilarang dalam bidang Militer, antara lain

  • Jerman dilarang memiliki satu pun kapal selam
  • Jerman dilarang melakukan perdagangan senjata antarnegara (Impor-Ekspor senjata)
  • Jerman dilarang memiliki gas beracun
  • Jerman dilarang
    memiliki pesawat tempur
  • Jerman dilarang memiliki tank dan mobil bersenjata (Artileri Darat)
  • Jerman dilarang melakukan blokade terhadap kapal lain

Referensi[sunting |
sunting sumber]

  1. ^ a b
    c d e
    f g h
    i j k
    l m n
    o p q
    r s t
    u v w
    x y z
    aa ab ac

    Treaty of Versailles Preamble
  2. ^ Slavicek, p. 114
  3. ^ Slavicek, p. 107
  4. ^ Boyer, p. 153
  5. ^ a
    b
    Treaty of Versailles Signatures and Protocol
  6. ^ Ballack, Luger
    (2007). 7 Tokoh Kunci Nazi. Jakarta: Visimedia. hlm. 8–9. ISBN 9791073833.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • Preceding: Text of Protest by Germany and Acceptance of Fair Peace Treaty
  • Trianon Museum
  • Contents of the Treaty of Versailles
    Diarsipkan 2005-08-19 di Wayback Machine.
  • The Full Text of the Treaty of Versailles
    Diarsipkan 2006-09-02 di Wayback Machine.
  • Full text of Treaty of Versailles as part of The Avalon Project at Yale Law School
    Diarsipkan 2006-05-03 di Wayback Machine.
  • The Treaty of Versailles and the Impact on Germany
    Diarsipkan 2006-10-17 di Wayback Machine.
  • Peace Treaty?

Bagaimana dampak Perjanjian Versailles terhadap Jerman?

Dengan demikian, dampak Perjanjian Versailles bagi Jerman antara lain penyerahan semua koloni Jerman, kota pelabuhan Danzig untuk menjadi negara kota yang merdeka dan lepas dari Jerman dan pembatasan tentara angkatan perang Jerman.

Apakah Jerman melanggar Perjanjian Versailles?

Pemimpin Jerman, Adolf Hitler, melanggar Perjanjian Versailles dengan menempatkan pasukan militer Jerman ke zona demiliterisasi di sepanjang Sungai Rhine, sebelah barat negara tersebut. Perjanjian Versailles sejatinya perjanjian perdamaian antara Sekutu dan Jerman untuk mengakhiri Perang Dunia I.

Berdasarkan Perjanjian Versailles apakah hal hal yang harus ditanggung oleh Jerman sebagai pihak yang kalah?

Jerman menyerahkan wilayah Alsace-Lorraine kepada Perancis. Jerman menyerahkan wilayah Eupen dan Malmedy kepada Belgia. Sekutu mengambil alih seluruh wilayah jajahan Jerman. Jerman harus membayar ganti rugi perang.

Mengapa jerman merasa diperlakukan tidak adil melalui perjanjian versailles | admin | 4.5
shopee flash sale gratis ongkir
x