Mengapa pewarna alami lebih dipilih dibandingkan pewarna buatan untuk pewarna makanan

By On Monday, August 15th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Mengapa pewarna alami lebih dipilih dibandingkan pewarna buatan untuk pewarna makanan – Halo teman-teman semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke halaman blog www.trendwisata.com ini. Sekarang, kami dari blog www.trendwisata.com ingin berbagi ulasan yang mantab yang menampilkan tentang Mengapa pewarna alami lebih dipilih dibandingkan pewarna buatan untuk pewarna makanan. Silahkan bapak dan ibu menonton dibawah ini:

Zat pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibanding pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya lebih kuat, macam warnanya lebih banyak, dan warnanya tidak rusak karena pemanasan. Di masyarakat masih sering ditemukan penggunaan bahan pewarna buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Contoh penggunaan pewarna sintetis yang tidak sesuai peruntukannya adalah penggunaan pewarna tekstil untuk makanan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Pewarna tekstil dan pewarna cat tidak boleh digunakan sebagai pewarna makanan karena pewarna cat dan tekstil biasanya mengandung logam-logam berat, seperti arsen, timbal, dan raksa yang bersifat racun bagi tubuh konsumennya.

Red:

Penggunaan pewarna sintetis yang tidak proporsional bisa mengganggu kesehatan. Pewarna alami lebih aman asal bahan pendukungnya adalah bahan halal. Dalam sehari, pernahkan Anda mengitung berapa jenis makanan yang dikonsumsi anak kita? Permen, jeli, kue lapis, bahkan minuman warna warni mungkin adalah makanan favorit mereka. Harganya yang tak sampai Rp 5 ribu rupiah menjadi daya tarik tersendiri. Siapa dari mereka yang akan berpikir “jahat”-nya pewarna dalam makanan tersebut. Bahan pewarna saat ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dari makanan dan minuman olahan. Berbagai makanan yang dijual di toko, warung dan para pedagang keliling hampir selalu menggunakan bahan pewarna. Warna ini biasanya menyesuaikan dengan rasa yang ingin ditampilkan pada produk tersebut. Misalnya untuk rasa jeruk diberi warna oranye, rasa stroberi dengan warna merah, rasa nanas dengan warna kuning, rasa leci dengan warna putih, rasa anggur dengan warna ungu, rasa pandan dengan warna hijau, dan seterusnya. Secara umum bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terbagi atas pewarna sintetis (buatan) dan pewarna natural (alami). Pewarna sintetis pada umumnya terbuat dari bahan-bahan kimia. Misalnya tartrazin untuk warna kuning, allura red untuk warna merah, dan seterusnya. Kadang-kadang pengusaha yang nakal juga menggunakan pewarna bukan makanan (non food grade) untuk memberikan warna pada makanan. Misalnya saja penggunaan rhodamin B yang sering digunakan untuk mewarnai terasi, kerupuk dan minuman sirup. Penggunaan pewarna jenis ini tentu saja dilarang keras, karena bisa menimbulkan kanker dan penyakit-penyakit lainnya. Bahan pewarna sintetis yang boleh digunakan untuk makanan (food grade) pun harus dibatasi jumlahnya. Karena pada dasarnya, setiap benda sintetis yang masuk ke dalam tubuh kita akan menimbulkan efek. Beberapa negara maju, seperti Eropa dan Jepang bahkan telah melarang penggunaan pewarna sintetis tersebut. Misalnya saja pewarna tartrazine, telah mulai ditinggalkan oleh negara tertentu. Mereka lebih merekomendasikan pewarna alami, seperti beta karoten. Mengapa pewarna sintetis masih sangat diminati oleh para produsen makanan? Pertama adalah masalah harga. Pewarna kimia tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pewarna alami. Masalah ini tentu saja sangat diperhatikan oleh produsen, mengingat daya beli masyarakat Indonesia yang masih cukup rendah. Faktor kedua adalah stabilitas. Pewarna sintetis memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik, sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar manakala mengalami proses penggorengan. Pewarna alami sebenarnya tidak bebas dari masalah. Dari segi kehalalan, pewarna jenis ini justru memiliki titik kritis yang lebih tinggi. Sebagaimana dijelaskan, pewarna natural ini tidak stabil selama penyimpanan. Untuk mempertahankan warna agar tetap cerah, maka sering digunakan bahan pelapis untuk melindunginya dari pengaruh suhu, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Nah, bahan pelapis yang sering digunakan adalah gelatin, yang berasal dari hewan. Tentu saja gelatin ini perlu dilihat, apakah berasal dari hewan halal atau tidak. Salah satu contoh pewarna alami yang digunakan dalam pengolahan pangan adalah xanthaxanthine. Bahan pewarna yang memberikan warna merah ini diekstrak dari sejenis tanaman. Untuk membuat pewarna tersebut stabil maka digunakan gelatin sebagai bahan pelapis (coating) melalui sistem mikroenkapsulasi. Pewarna ini sering digunakan pada industri daging dan ikan kaleng (ikan sardin). Di satu sisi penggunaan pewarna sintetis yang tidak proporsional dapat menimbulkan masalah kesehatan. Namun penggunaan bahan pewarna alamipun jika tidak dilakukan secara hati-hati dapat menjurus kepada bahan yang haram atau shubhat. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi dilema tersebut? Pilihan terbaik tentu saja tetap pewarna alami, karena ia adalah bahan alam yang tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh. Namun harus diingat bahwa penggunaan bahan tambahan atau bahan penolong semisal pelapis pada pewarna tersebut harus dipilih dari bahan-bahan yang halal. Kalau harus menggunakan gelatin sebaiknya dengan gelatin yang halal. Bisa juga digunakan bahan lain, seperti maltodekstrin atau karagenan yang lebih aman dari segi kehalalan. Jika masalah harga masih menjadi kendala, maka penggunaan bahan pewarna sintetis boleh-boleh saja. Namun harus jenis pewarna yang untuk makanan (food grade) dengan jumlah yang proporsional dan tidak berlebihan. Bagi konsumen, perlu juga mengetahui ciri-ciri pewarna yang tidak baik. Pertama, carilah makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok. Misalnya, hindari makanan dengan warna merah, kuning dan hijau yang terlihat `ngejreng’. Tidak menutup kemungkinan warna yang terlalu mencolok tersebut berasal dari bahan pewarna non food grade, seperti pewarna teksil yang berbahaya bagi kesehatan. Sedangkan untuk melihat pewarna yang halal dan yang tidak, secara kasat mata memang agak sulit. Oleh karena itu lebih mudah memilih makanan dan minuman yang telah bersertifikat halal.  

Obat dan Kosmetik yang Halal

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Singkat saja, saya ingin menanyakan, bagaimana produk obat bisa dikatakan halal? Bagaimana pula bisa dikatakan haram? Bagaimana produk kosmetik bisa dikatakan halal? Bagaimana bisa dikatakan haram? Apa syarat-syaratnya? Terima kasih. Wassalam,

Jawab :

Produk obat bisa dikatakan halal jika ingredient-nya terdiri dari bahan-bahan yang tidak diragukan kehalalannya seperti gelatin untuk pembuatan kapsul, laktosa sebagai bahan pengisi (pada pembuatan obat yang berbentuk kaplet) atau juga penggunaan alkohol sebagai pelarut. Produk obat yang mengandung bahan-bahan seperti yang disebutkan di atas diragukan kehalalannya. Sementara, produk-produk obat yang dapat langsung dikategorikan sebagai produk haram adalah produk-produk yang dipastikan mengandung bahan-bahan yang merupakan turunan babi (gelatin, hormon, dan seterusnya). Produk kosmetik memang tidak dimakan dan masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu kosmetik biasanya dikaitkan dengan masalah suci dan najis. Produk tersebut bisa dikatakan haram jika produk kosmetika tersebut mengandung bahan-bahan najis, seperti turunan hewan haram (misalnya kolagen) atau pun bagian dari tubuh manusia (contohnya plasenta). Sedangkan produk kosmetika halal adalah produk yang tidak mengandung bahan-bahan najis seperti tersebut di atas. Rum tanpa alkohol Assalamu’alaikum Wr Wb,

Sekarang banyak dijual produk rum yang diklaim tanpa alkohol. Rum tersebut bisa dipakai dalam pembuatan cake dan kue, seperti pada pembuatan black forest. Saya ingin menanyakan, halalkah rum tersebut digunakan ? Wassalam,

Ina Dewi, Jawab :

Produk rum tanpa alkohol (rum artifisial) memang banyak diperjualbelikan. Untuk kasus ini, Komisi Fatwa MUI berpendapat, status hukum produk rum artifisial tetap tidak boleh dikonsumsi. Alasannya, agar konsumen tidak terbiasa untuk mengkonsumsi/menyukai sesuatu yang haram. Sekalipun status bahan-bahan penyusun rum artifisial tersebut adalah halal.

REPUBLIKA – Jumat, 09 Desember 2005

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika …

Bahan tambahan pangan digolongkan menjadi empat jenis yaitu pewarna, pengawet, pemanis, dan penyedap. Khusus untuk bahan tambahan jenis pewarna maka akan terbagi menjadi dua jenis sesuai dengan asalnya, yaitu pewarna alami dan pewarna buatan. Lantas bagaimanakah cara membedakan pewarna alami dan buatan?

Sejak dahulu, sudah dikenal ada beberapa pewarna alami seperti kunyit dan daun suji. Bahan-bahan tersebut akan menghasilkan warna-warna cantik yang semakin menambah selera makan.

Sebelum membicarakan cara membedakan pewarna alami dan buatan, maka ada baiknya jika membahas dahulu mengenai pewarna alami dan pewarna buatan. Langsung saja berikut pembahasan selengkapnya.

Pewarna Alami

Bahan pewarna alami adalah bahan pewarna makanan dan minuman yang berasal dari bahan alami seperti dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa bahan alami yang sering digunakan sebagai bahan pewarna adalah sebagai berikut ini:

·         Kunyit dapat memberi warna kuning pada makanan seperti tahu atau nasi kuning.

·         Daun suji dapat memberi warna hijau yang menawan untuk beberapa makanan seperti kue pisang atau dadar gulung.

·         Cabai merah selain memiliki rasa pedas ternyata bisa juga dijadikan pewarna alami warna merah untuk masakan rendang atau nasi goreng.

·         Kakao merupakan buah yang bisa menghasilkan cokelat sehingga sering dipakai untuk pewarna pada es krim ataupun kue kering.

·         Wortel bisa menjadi pewarna kuning

·         Karamel bisa juga menjadi pewarna untuk warna cokelat karamel yang dipakai pada makanan kembang gula.

·         Gula merah selain menjadi pemanis alami ternyata bisa pula dijadikan pewarna makanan seperti bubur dan dodol.

Pewarna Buatan

·         Selain memakai pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan, ada pula makanan yang memakai pewarna buatan.  Sedangkan pewarna buatan sendiri terbagi menjadi dua yaitu pewarna buatan disintesis yang memiliki struktur kimia mirip dengan bahan alami seperti apokaroten untuk warna orange. Jenis yang kedua adalah pewarna buatan disintesis khusus sebagai pengganti warna alami.

Beberapa contoh pewarna buatan yang dipakai untuk makanan adalah sebagai berikut ini:

·         Tartrazin yang dapat menghasilkan warna kuning, pada umumnya dipakai untuk jeli, es krim, dan yoghurt.

·         Indigokarmin sebagai penghasil warna biru, pada umunya dipakai untuk minuman ringan dan gula-gula.

·         Eritrosin untuk warna merah yang sering dipakai untuk es krim serta jeli.

Cara membedakan pewarna alami dan buatan pada makanan secara umum bisa dilihat dari beberapa  hal antara lain sebagai berikut:

·         Warna terlihat lebih mencolok

Secara umum baik pewarna buatan ataupun alami jika diaplikasikan dengan ukuran yang tepat pada makanan akan tidak begitu terlihat perbedaannya. Hanya saja jika lebih dalam mencermati biasanya makanan dengan pewarna buatan akan terlihat lebih mencolok jika dibandingkan dengan yang menggunakan pewarna alami.

·         Ada rasa pahit

Ada rasa pahit pada makanan dengan pewarna buatan yang berlebihan, sehingga rasa kurang sedap. Namun jika penggunaannya pas maka rasanya akan sama-sama enak.

·         Lebih kenyal

Pada kue akan sedikit lebih kenyal teksturnya jika memakai pewarna buatan. Sehingga bisa dikenali perbedaannya dari tekstur kue tersebut.

Buat Anda yang mau lebih cepat dan lebih hemat maka ada baiknya jika memilih pewarna buatan yang aman dan berkualitas. Aman dalam artian terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya bagi tubuh dan berkualitas dari warna yang dihasilkan.  Salah satunya dengan pewarna buatan dari GSI (Global Solusi Ingredia) Indonesia.

GSI selama ini dikenal sebagai sebuah perusahaan pemasok bahan makanan baik makanan fungsional ataupun khusus. GSI berbasis utama di Kuala Lumpur, Malaysia selalu siap memberikan produk pewarna buatan khusus untuk makanan yang berkualitas, resmi, dan aman.

Selain itu harga yang ditawarkan juga aman di kantong dan sudah pasti terjamin  tidak mengecewakan bagi siapa saja yang mencobanya. GSI Indonesia solusi untuk bahan tambahan pangan yang berkualitas dan aman.

Mengapa pewarna alami lebih dipilih dibandingkan pewarna buatan untuk pewarna makanan | admin | 4.5