Negara yang menjadi pusat perdagangan di asia tenggara adalah

By On Monday, August 22nd, 2022 Categories : Tanya Jawab

Negara yang menjadi pusat perdagangan di asia tenggara adalah – Pa kabar om dan tante semua, Thanks dah mau datang ke website www.trendwisata.com ini. Malam ini, kita di web site TrendWisata dotcom ingin memberikan tanya jawab yang mantap yang menampilkan tentang Negara yang menjadi pusat perdagangan di asia tenggara adalah. Ini dia sobat menonton dibawah ini:

Pelabuhan yang terletak paling ujung barat pulau Jawa yaitu pelabuhan Merak Banten sangat akrab bagi masyarakat Indonesia sebagai pelabuhan penyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatera. Padahal menurut catatan sejarah, pelabuhan Karangantu di Banten ini dulu merupakan pelabuhan besar sekaligus pelabuhan tertua di Pulau Jawa sebagai pintu gerbang perdagangan internasional untuk Nusantara (Indonesia). Dari pelabuhan yang ada di Banten inilah menjadi pintu keluar masuknya para saudagar atau pedagang-pedagang yang berlayar memasuki Nusantara. Terletak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Serang itu, pada abad ke-15 adalah sebuah bandar pelabuhan penting dalam perdagangan internasional. Kala itu, Banten yang masih berbentuk kota menjadi sebuah tempat transit bagi jalur perdagangan antarnegara. Kapal-kapal asing yang hadir di pelabuhan tertua di Jawa dengan nama Karangantu ini berasal dari negara Persia, Arab, Cina, Inggris, Gujarat, Portugis dan Belanda.

Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomian kesultanan. Banten berkembang pesat jadi kota pelabuhan dan kota perdagangan pada era Sultan Banten Pertama Maulana Hasanuddin putra kandung Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Pada era kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari bagian hulu ke hilir Sungai Cibanten dengan maksud memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda. Awalnya, pelabuhan Karangantu adalah menjadi pelabuhan nelayan.

Pada masa itu Banten melihat adanya peluang akibat situasi dan kondisi perdagangan di Asia Tenggara yang sedang berkecamuk. Saat itu, pedagang dari mancanegara risau karena Malaka jatuh ke tangan Portugis, sehingga pedagang muslim yang tengah bermusuhan dengan Portugis enggan berhubungan dagang dengan Malaka, sehingga para pedagang mengalihkan jalur perdagangan ke Selat Sunda. Mereka singgah di Karangantu. Sejak itu, Karangantu jadi pusat perdagangan internasional yang ramai disinggahi pedagang dari Asia, Afrika, dan Eropa.

Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu. Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang.

Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Pada masa itu Banten merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur.

Di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661.Pada masa itu Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.

Titik balik kehancuran Banten Lama terjadi saat pecah perang saudara antara Sultan Haji dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Sejak itu, pengaruh kesultanan Banten mulai pudar. Banten Lama semakin ditinggalkan setelah pusat pemerintahan dipindah ke Serang. Pelabuhan Karangantu tak lagi dilirik karena kondisi lingkungan akibat pengendapan lumpur yang tidak memungkinkan kapal untuk singgah. Masa keemasan pelabuhan ini berakhir pada abad ke-17.

Melihat kondisi ini Perhubungan Laut tidak tinggal diam, dan masyarakat anten sadar akankebesaran sejarah kerajaan maritim yang pernah membesarkannya mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya agar Banten menjadi kawasan multi etnis( Banten pada saat itu berdagang dengan Persia, Vietnam, Filifina, Jepang, Korea). KSOP Banten bersama masyarakat maritim berusaha mengejar ketertinggalannya, membangun kembali perekonomian melalui transportasi laut bersandar pada Undang – undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran mendorong partisifasi swasta, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah untuk secara bersama dengan pemerintah mengelola pelabuhan kembali menuju perdagangan nasional dan internasional menatap dunia globalisasi.

Klik Untuk Melihat Jawaban

#Jawaban di bawah ini, bisa saja tidak akurat dikarenakan si penjawab mungkin bukan ahli dalam pertanyaan tersebut. Pastikan mencari jawaban lain dari berbagai sumber terpercaya, sebelum mengklaim jawaban tersebut adalah benar. Semangat Belajar..#

Dijawab oleh ### Pada Sat, 20 Aug 2022 04:45:04 +0700 dengan Kategori IPS dan Sudah Dilihat ### kali

Negara yang menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara adalah Negara Singapura karena letaknya yang sangat strategis dan merupakan jalur pelayaran dan perdagangan sesama negara di Asia Tenggara. Negara Singapura yang menjadi pusat transportasi.yaitu adalah >>> singapura maaf kalau semisal saya salah

Baca Juga: Sebutkan nama alat yg berfungsi untuk memindai suatu dokumen atau teks dan gambar,foto dan lain lain

st.dhafi.link/jawab Merupakan Website Kesimpulan dari forum tanya jawab online dengan pembahasan seputar pendidikan di indonesia secara umum. website ini gratis 100% tidak dipungut biaya sepeserpun untuk para pelajar di seluruh indonesia. saya harap pembelajaran ini dapat bermanfaat bagi para pelajar yang sedang mencari jawaban dari segala soal di sekolah. Terima Kasih Telah Berkunjung, Semoga sehat selalu.

Sumber Foto : pribadi tanggal 08 Juli 2019

Perekonomian pada bangsa-bangsa di wilayah Asia Tenggara telah terjalin sebelum hadirnya bangsa-bangsa barat. Yakni bersamaan dengan adanya jalur sutra yang merupakan jalur darat yang berawal dari wilayah Cina melintasi Asia Tenggara dan berakhir pada Laut Tengah serta perjalanan ke Eropa yang dilanjutkan dengan menggunakan kapal. Jalur yang kedua adalah jalur laut, penggerak jalur laut adalah hembusan angin yang silih berganti arah secara teratur sebagai angin musim pada tiap tahunnya. Jalur laut ini memiliki dampak yakni munculnya kota-kota dagang yang penting (emporium) seperti Aden, Bandar Abbas, Kalikut, Malaka, Kanton dan lainnya

Pelabuhan Malaka berlokasi di Selat Malaka yang merupakan kawasan yang strategis karena merupakan kawasan yang terletak di pertengahan jalur perdagangan antara Timur dan Barat. Pelabuhan inilah yang memiliki peran penting di wilayah Asia Tenggara.

Pelabuhan Malaka telah diperkirakan ada dan berdiri sekitar tahun 1400 dan juga merupakan sebuah bandar dagang pemilik gudang-gudang yang sangat besar. beberapa komoditas utamanya yang diperdagangkan adalah rempah-rempah yang berasal dari daerah Maluku, lada daerah Sumatera, dan beras dari daerah Jawa untuk didagangkan pada China. Sementara Malaka ketika menjalin hubungan dagang dengan China, China akan memasarkan barang dagangannya di Malaka seperti bahan pewangi, sutera, belerang, besi, permata, alat memasak, peluru, dan satin.

Menurut pendapat dari Tom Pires serta Ruy de Brio, mereka menggambarkan jika Malaka memperoleh keuntungan besar dari pedagang asal Koromandel yang dapat digambarkan ada empat hingga lima buah kapal besar datang ke Malaka dengan setiap tahunnya dengan nilai dagang antara 12 ribu hingga 15 ribu cruzados.

Kemunculan Malaka sebagai pusat perdagangan antar bangsa inilah yang pernah membawa Malaka dapat dikenali oleh seluruh dunia. Dari hubungan perdagangan tersebut dengan berbagai negara terdapat lebih dari 80 bahasa yang dituturkan di pelabuhan Malaka tersebut. Walaupun pada akhirnya Bahasa Melayu sebagai ‘lingua franca‘ masih tetap menjadi bahasa utamanya saat berkomunikasi.

Amin, S. (2018). Islam Dan Keharmonian Kaum Di Singapura. Ri’ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 3(01), 69-82.

Bastin, John. (2011). Singapura Tempoe Doeloe. Depok: Komunitas Bambu.

Chaerullah, I. (2011). Aktivitas Pelayaran Dan Perdagangan Masyarakat Muslim Melayu Singapura Tahun 1800-1824. Skripsi. Sekolah Sarjana, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Dobbs, Stephan. (2002). The Singapura River: A Social History 1819-2000. Singapura: Singapure University Press.

Gottschalk, Louis. (1985). Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Pers.

Hannigan, Tim. (2012). Raffles dan Infansi Inggris ke Jawa. Jakarta: Gramedia.

Ibrahim, Zuraidah dkk. (1953). Orang Islam di Singapura. Singapore: Majlis Agama Islam Singapura.

Idris, H. (1997). Pulau Singapura, 1819-1930: Peranan Pulau-pulau lain yang Terpinggir di dalam Sejarahnya. Jati-Journal of Southeast Asian Studies, 3, 63-83.

Kennedy, J. (1962). A History of Malaya A.D. 1400-1959. London: MacMillan & CO LTD.

Mangandalaram, Syahbuddin. (1987). Mengenal dari Dekat Malaysia Negara Tetangga Kita Dalam ASEAN. Bandung: Remadja Karya.

Mills, L.A., “British Malaya 1824-67; Singapura 1819-1826â€, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 8(3&4).

Phillippe, Regnier. (1991) Singapura City-State in South-East Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.

Pratomo, Julia. (2018). Pesona Raffles Landing Site Sebagai Destinasi Wisata di Singapura. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo.

Saefullah, A. (2016). Tumasik: Sejarah Awal Islam di Singapura (1200-1511 M). Jurnal Lektur Keagamaan, 14(2), 419-456.

Sasrawan, Hedi, (2013). “Letak Geografis Singapuraâ€, http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/03/letak-geografis-singapura.html, Diunduh 21 May 2021, pukul 14.05 WIB.

Siryayasa, I. N., & Yasin, M. S. (2019). Pelabuhan, Perdagangan dan Ekonomi: Makassar dalam Kurun Niaga di Asia Tenggara. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, 3(2), 88-97.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Syah, Djalinus. (1985). Mengenal ASEAN dan Negara-negara Anggotanya. Jakarta: PT.Kreasi Jaya Utama.

Trocki, Carl. A. (1979). Prince of Pirates: The Temenggongs and The Temenggongs and The Development of Johore and Singapura 1784-1885. Singapore: Singapura University Press.

Vlekke, Bernard. H. M. (2008). Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Negara yang menjadi pusat perdagangan di asia tenggara adalah | admin | 4.5