Pada kitab Bhagawadgita Bab 18 menjelaskan tentang

By On Thursday, September 22nd, 2022 Categories : Tanya Jawab

Pada kitab Bhagawadgita Bab 18 menjelaskan tentang – Hallo teman semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke situs Trend Wisata ini. Sore ini, kita dari situs TrendWisata dotcom pengen sharing tips yang menarik yang menjelaskan tentang Pada kitab Bhagawadgita Bab 18 menjelaskan tentang. Ayo sista dan agan melihat berikut ini:

Agama Hindu terlahir sebagai agama tertua yang diciptakan berbekalkan nyanyian suci atau nyanyian Tuhan sebagai pedoman hidup. Nyanyian Tuhan tersebut berupa kitab suci Weda yang kelima, ialah Bhagawad Gita yang terdiri atas beberapa bab dan mengandung beberapa sloka yang dimuat dari syair-syair mengenai epos Mahabharata, ialah percakapan antara Krsna dan Arjuna.

Salah satu sloka yang memiliki nilai-nilai yang dapat diimplementasikan atau sebagai contoh dalam kehidupan adalah sloka 78 pada Bab 18 dengan bunyi: “yatra yogevarah krsno yatra prtho dhanur-dharah tatea rr vijayo bhtir dhruv ntir matir mama.” Dengan arti: “Inilah pendapat hamba: Di mana pun ada r Krsna, penguasa ajaran yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka di sana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.” Krishna dan Arjuna merupakan dua tokoh yang digambarkan sama-sama memiliki karakteristik mulia ibaratkan air dengan sesama air, sehingga timbulah bahwa kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa, dan moralitas di tengah-tengah mereka. Sesungguhnya hal yang timbul tersebut merupakan dharma yang timbul dari seorang pemilik sifat dharma.

Jika dimaknai secara logika, tentunya memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap sudut pandangnya. Sudut pandang pertama ialah dengan rumus matematika, dimana positif dengan positif akan tetap positif. Hal demikianlah yang menggambarkan dan memaknai sloka tersebut. Sebagai bentuk implementasi dalam kehidupan adalah, berbuatlah baik antar sesama maka orang di sekitar akan turut serta menabur kebaikan sehingga menimbulkan keharmonisan yang tentunya memiliki keterkaitan pada salah satu bagian Tri Hita Karana yaitu Pawongan (Hubungan Manusia dengan Manusia). Selain rumus matematika, contoh implementasi lain dari sloka tersebut ialah dalam diri manusia. Ibaratkan Krsna sebagai alat pikir dan Arjuna sebagai sensor gerak. Dimana ada pikiran yang suci dan sensor gerak yang bagus maka manusia dapat bertindak secara bijak dan mencipta kejayaan ataupun moralitas yang tinggi.

Sudut pandang lainnya ialah di setiap sudut pemerintahan, jika seorang pemimpin memiliki sikap bijaksana maka secara otomatis beberapa bagian yang di pimpinnya akan merasa nyaman dan turut serta menciptakan keharmonisan dan timbulah kekuatan yang luar biasa karena kerjasama. Hal ini juga termasuk ke dalam bagian Asta Brata tentang sifat kepemimpinan. Tidak hanya dari dua sudut pandang itu saja, masih banyak sudut pandang di sekitar yang memaknai sloka tersebut dengan makna yang berbeda-beda begitupula dengan bentuk implementasinya.

Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa bentuk implementasi dari sloka Bhagawad Gita Bab 18 sloka 78 adalah melalui masing-masing sudut pandang seseorang. Seperti menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha tentang bagaimana kita berpikir, berkata, dan berbuat yang benar sehingga menimbulkan keharmonisan. Dimulai dengan mengendalikan diri, seperti mengontrol rasa emosi baik suka maupun tidak suka, atau lebih tepatnya melebur hal buruk dalam diri dan mengubahnya menjadi hal baik seperti contohnya menebar kasih sayang dan pelan-pelan akan mulai memengaruhi orang sekitar sehingga kebaikan menjadi hal yang berkesinambungan dan tanpa batas.

Dari Bhagavad-gita kita dapat mengerti bahwa menginsafi diri melalui angan-angan filsafat dan semadi adalah suatu proses, tetapi menyerahkan diri kepada Krishna adalah kesempurnaan tertinggi. Inilah hakekat ajaran Bhagavad-gita. Jalan prinsip-prinsip yang mengatur menurut golongan-golongan hidup masyarakat dan menurut berbagai jalan kegiatan keagamaan mungkin dapat dianggap sebagai jalan pengetahuan yang rahasia. Tetapi walaupun ritual-ritual dharma bersifat rahasia, semadi dan pengembangan pengetahuan lebih rahasia lagi. Jadikan Arjuna dan Krishna sebagai contoh dalam diri untuk mencapai sebuah kejayaan dalam bentuk keharmonisan melalui implementasi sloka Bhagawad Gita XVII.78.

Ni Luh Listya Purnami

Pendidikan Bahasa Bali


Page 2

Agama Hindu terlahir sebagai agama tertua yang diciptakan berbekalkan nyanyian suci atau nyanyian Tuhan sebagai pedoman hidup. Nyanyian Tuhan tersebut berupa kitab suci Weda yang kelima, ialah Bhagawad Gita yang terdiri atas beberapa bab dan mengandung beberapa sloka yang dimuat dari syair-syair mengenai epos Mahabharata, ialah percakapan antara Krsna dan Arjuna.

Salah satu sloka yang memiliki nilai-nilai yang dapat diimplementasikan atau sebagai contoh dalam kehidupan adalah sloka 78 pada Bab 18 dengan bunyi: “yatra yogevarah krsno yatra prtho dhanur-dharah tatea rr vijayo bhtir dhruv ntir matir mama.” Dengan arti: “Inilah pendapat hamba: Di mana pun ada r Krsna, penguasa ajaran yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka di sana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.” Krishna dan Arjuna merupakan dua tokoh yang digambarkan sama-sama memiliki karakteristik mulia ibaratkan air dengan sesama air, sehingga timbulah bahwa kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa, dan moralitas di tengah-tengah mereka. Sesungguhnya hal yang timbul tersebut merupakan dharma yang timbul dari seorang pemilik sifat dharma.

Jika dimaknai secara logika, tentunya memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap sudut pandangnya. Sudut pandang pertama ialah dengan rumus matematika, dimana positif dengan positif akan tetap positif. Hal demikianlah yang menggambarkan dan memaknai sloka tersebut. Sebagai bentuk implementasi dalam kehidupan adalah, berbuatlah baik antar sesama maka orang di sekitar akan turut serta menabur kebaikan sehingga menimbulkan keharmonisan yang tentunya memiliki keterkaitan pada salah satu bagian Tri Hita Karana yaitu Pawongan (Hubungan Manusia dengan Manusia). Selain rumus matematika, contoh implementasi lain dari sloka tersebut ialah dalam diri manusia. Ibaratkan Krsna sebagai alat pikir dan Arjuna sebagai sensor gerak. Dimana ada pikiran yang suci dan sensor gerak yang bagus maka manusia dapat bertindak secara bijak dan mencipta kejayaan ataupun moralitas yang tinggi.

Sudut pandang lainnya ialah di setiap sudut pemerintahan, jika seorang pemimpin memiliki sikap bijaksana maka secara otomatis beberapa bagian yang di pimpinnya akan merasa nyaman dan turut serta menciptakan keharmonisan dan timbulah kekuatan yang luar biasa karena kerjasama. Hal ini juga termasuk ke dalam bagian Asta Brata tentang sifat kepemimpinan. Tidak hanya dari dua sudut pandang itu saja, masih banyak sudut pandang di sekitar yang memaknai sloka tersebut dengan makna yang berbeda-beda begitupula dengan bentuk implementasinya.

Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa bentuk implementasi dari sloka Bhagawad Gita Bab 18 sloka 78 adalah melalui masing-masing sudut pandang seseorang. Seperti menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha tentang bagaimana kita berpikir, berkata, dan berbuat yang benar sehingga menimbulkan keharmonisan. Dimulai dengan mengendalikan diri, seperti mengontrol rasa emosi baik suka maupun tidak suka, atau lebih tepatnya melebur hal buruk dalam diri dan mengubahnya menjadi hal baik seperti contohnya menebar kasih sayang dan pelan-pelan akan mulai memengaruhi orang sekitar sehingga kebaikan menjadi hal yang berkesinambungan dan tanpa batas.

Dari Bhagavad-gita kita dapat mengerti bahwa menginsafi diri melalui angan-angan filsafat dan semadi adalah suatu proses, tetapi menyerahkan diri kepada Krishna adalah kesempurnaan tertinggi. Inilah hakekat ajaran Bhagavad-gita. Jalan prinsip-prinsip yang mengatur menurut golongan-golongan hidup masyarakat dan menurut berbagai jalan kegiatan keagamaan mungkin dapat dianggap sebagai jalan pengetahuan yang rahasia. Tetapi walaupun ritual-ritual dharma bersifat rahasia, semadi dan pengembangan pengetahuan lebih rahasia lagi. Jadikan Arjuna dan Krishna sebagai contoh dalam diri untuk mencapai sebuah kejayaan dalam bentuk keharmonisan melalui implementasi sloka Bhagawad Gita XVII.78.

Ni Luh Listya Purnami

Pendidikan Bahasa Bali

Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya


Page 3

Agama Hindu terlahir sebagai agama tertua yang diciptakan berbekalkan nyanyian suci atau nyanyian Tuhan sebagai pedoman hidup. Nyanyian Tuhan tersebut berupa kitab suci Weda yang kelima, ialah Bhagawad Gita yang terdiri atas beberapa bab dan mengandung beberapa sloka yang dimuat dari syair-syair mengenai epos Mahabharata, ialah percakapan antara Krsna dan Arjuna.

Salah satu sloka yang memiliki nilai-nilai yang dapat diimplementasikan atau sebagai contoh dalam kehidupan adalah sloka 78 pada Bab 18 dengan bunyi: “yatra yogevarah krsno yatra prtho dhanur-dharah tatea rr vijayo bhtir dhruv ntir matir mama.” Dengan arti: “Inilah pendapat hamba: Di mana pun ada r Krsna, penguasa ajaran yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka di sana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.” Krishna dan Arjuna merupakan dua tokoh yang digambarkan sama-sama memiliki karakteristik mulia ibaratkan air dengan sesama air, sehingga timbulah bahwa kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa, dan moralitas di tengah-tengah mereka. Sesungguhnya hal yang timbul tersebut merupakan dharma yang timbul dari seorang pemilik sifat dharma.

Jika dimaknai secara logika, tentunya memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap sudut pandangnya. Sudut pandang pertama ialah dengan rumus matematika, dimana positif dengan positif akan tetap positif. Hal demikianlah yang menggambarkan dan memaknai sloka tersebut. Sebagai bentuk implementasi dalam kehidupan adalah, berbuatlah baik antar sesama maka orang di sekitar akan turut serta menabur kebaikan sehingga menimbulkan keharmonisan yang tentunya memiliki keterkaitan pada salah satu bagian Tri Hita Karana yaitu Pawongan (Hubungan Manusia dengan Manusia). Selain rumus matematika, contoh implementasi lain dari sloka tersebut ialah dalam diri manusia. Ibaratkan Krsna sebagai alat pikir dan Arjuna sebagai sensor gerak. Dimana ada pikiran yang suci dan sensor gerak yang bagus maka manusia dapat bertindak secara bijak dan mencipta kejayaan ataupun moralitas yang tinggi.

Sudut pandang lainnya ialah di setiap sudut pemerintahan, jika seorang pemimpin memiliki sikap bijaksana maka secara otomatis beberapa bagian yang di pimpinnya akan merasa nyaman dan turut serta menciptakan keharmonisan dan timbulah kekuatan yang luar biasa karena kerjasama. Hal ini juga termasuk ke dalam bagian Asta Brata tentang sifat kepemimpinan. Tidak hanya dari dua sudut pandang itu saja, masih banyak sudut pandang di sekitar yang memaknai sloka tersebut dengan makna yang berbeda-beda begitupula dengan bentuk implementasinya.

Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa bentuk implementasi dari sloka Bhagawad Gita Bab 18 sloka 78 adalah melalui masing-masing sudut pandang seseorang. Seperti menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha tentang bagaimana kita berpikir, berkata, dan berbuat yang benar sehingga menimbulkan keharmonisan. Dimulai dengan mengendalikan diri, seperti mengontrol rasa emosi baik suka maupun tidak suka, atau lebih tepatnya melebur hal buruk dalam diri dan mengubahnya menjadi hal baik seperti contohnya menebar kasih sayang dan pelan-pelan akan mulai memengaruhi orang sekitar sehingga kebaikan menjadi hal yang berkesinambungan dan tanpa batas.

Dari Bhagavad-gita kita dapat mengerti bahwa menginsafi diri melalui angan-angan filsafat dan semadi adalah suatu proses, tetapi menyerahkan diri kepada Krishna adalah kesempurnaan tertinggi. Inilah hakekat ajaran Bhagavad-gita. Jalan prinsip-prinsip yang mengatur menurut golongan-golongan hidup masyarakat dan menurut berbagai jalan kegiatan keagamaan mungkin dapat dianggap sebagai jalan pengetahuan yang rahasia. Tetapi walaupun ritual-ritual dharma bersifat rahasia, semadi dan pengembangan pengetahuan lebih rahasia lagi. Jadikan Arjuna dan Krishna sebagai contoh dalam diri untuk mencapai sebuah kejayaan dalam bentuk keharmonisan melalui implementasi sloka Bhagawad Gita XVII.78.

Ni Luh Listya Purnami

Pendidikan Bahasa Bali

Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya


Page 4

Agama Hindu terlahir sebagai agama tertua yang diciptakan berbekalkan nyanyian suci atau nyanyian Tuhan sebagai pedoman hidup. Nyanyian Tuhan tersebut berupa kitab suci Weda yang kelima, ialah Bhagawad Gita yang terdiri atas beberapa bab dan mengandung beberapa sloka yang dimuat dari syair-syair mengenai epos Mahabharata, ialah percakapan antara Krsna dan Arjuna.

Salah satu sloka yang memiliki nilai-nilai yang dapat diimplementasikan atau sebagai contoh dalam kehidupan adalah sloka 78 pada Bab 18 dengan bunyi: “yatra yogevarah krsno yatra prtho dhanur-dharah tatea rr vijayo bhtir dhruv ntir matir mama.” Dengan arti: “Inilah pendapat hamba: Di mana pun ada r Krsna, penguasa ajaran yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka di sana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.” Krishna dan Arjuna merupakan dua tokoh yang digambarkan sama-sama memiliki karakteristik mulia ibaratkan air dengan sesama air, sehingga timbulah bahwa kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa, dan moralitas di tengah-tengah mereka. Sesungguhnya hal yang timbul tersebut merupakan dharma yang timbul dari seorang pemilik sifat dharma.

Jika dimaknai secara logika, tentunya memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap sudut pandangnya. Sudut pandang pertama ialah dengan rumus matematika, dimana positif dengan positif akan tetap positif. Hal demikianlah yang menggambarkan dan memaknai sloka tersebut. Sebagai bentuk implementasi dalam kehidupan adalah, berbuatlah baik antar sesama maka orang di sekitar akan turut serta menabur kebaikan sehingga menimbulkan keharmonisan yang tentunya memiliki keterkaitan pada salah satu bagian Tri Hita Karana yaitu Pawongan (Hubungan Manusia dengan Manusia). Selain rumus matematika, contoh implementasi lain dari sloka tersebut ialah dalam diri manusia. Ibaratkan Krsna sebagai alat pikir dan Arjuna sebagai sensor gerak. Dimana ada pikiran yang suci dan sensor gerak yang bagus maka manusia dapat bertindak secara bijak dan mencipta kejayaan ataupun moralitas yang tinggi.

Sudut pandang lainnya ialah di setiap sudut pemerintahan, jika seorang pemimpin memiliki sikap bijaksana maka secara otomatis beberapa bagian yang di pimpinnya akan merasa nyaman dan turut serta menciptakan keharmonisan dan timbulah kekuatan yang luar biasa karena kerjasama. Hal ini juga termasuk ke dalam bagian Asta Brata tentang sifat kepemimpinan. Tidak hanya dari dua sudut pandang itu saja, masih banyak sudut pandang di sekitar yang memaknai sloka tersebut dengan makna yang berbeda-beda begitupula dengan bentuk implementasinya.

Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa bentuk implementasi dari sloka Bhagawad Gita Bab 18 sloka 78 adalah melalui masing-masing sudut pandang seseorang. Seperti menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha tentang bagaimana kita berpikir, berkata, dan berbuat yang benar sehingga menimbulkan keharmonisan. Dimulai dengan mengendalikan diri, seperti mengontrol rasa emosi baik suka maupun tidak suka, atau lebih tepatnya melebur hal buruk dalam diri dan mengubahnya menjadi hal baik seperti contohnya menebar kasih sayang dan pelan-pelan akan mulai memengaruhi orang sekitar sehingga kebaikan menjadi hal yang berkesinambungan dan tanpa batas.

Dari Bhagavad-gita kita dapat mengerti bahwa menginsafi diri melalui angan-angan filsafat dan semadi adalah suatu proses, tetapi menyerahkan diri kepada Krishna adalah kesempurnaan tertinggi. Inilah hakekat ajaran Bhagavad-gita. Jalan prinsip-prinsip yang mengatur menurut golongan-golongan hidup masyarakat dan menurut berbagai jalan kegiatan keagamaan mungkin dapat dianggap sebagai jalan pengetahuan yang rahasia. Tetapi walaupun ritual-ritual dharma bersifat rahasia, semadi dan pengembangan pengetahuan lebih rahasia lagi. Jadikan Arjuna dan Krishna sebagai contoh dalam diri untuk mencapai sebuah kejayaan dalam bentuk keharmonisan melalui implementasi sloka Bhagawad Gita XVII.78.

Ni Luh Listya Purnami

Pendidikan Bahasa Bali

Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya

Pada kitab Bhagawadgita Bab 18 menjelaskan tentang | admin | 4.5