Apa yang memotivasi Anda melakukan pengembangan terhadap orang lain

By On Tuesday, September 13th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Apa yang memotivasi Anda melakukan pengembangan terhadap orang lain – Apa khabar sista dan agan semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke halaman blog Trend Wisata ini. Sekarang, saya dari situs www.trendwisata.com ingin menampilkan Q&A yang mantap yang menunjukkan pada anda mengenai Apa yang memotivasi Anda melakukan pengembangan terhadap orang lain. Silahkan ibu dan bapak melihat di bawah ini:

Untuk melahirkan sebuah tim yang baik, dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang hebat. Pemimpin yang tepat untuk menjadikan sebuah tim yang baik, seorang pemimpin yang mampu mebuat orang lain menjadi baik untuk menjalankan misi dari tim yang dibentuk. Seorang pemimpin harusnya memiliki jiwa yang pemberani, tidak takut akan segala hal yang berkaitan dengan kebenaran, membuat keputusan yang sulit, dan menetapkan standar kinerja bagi timnya.

Seorang pemimpin juga harus dapat menempatkan dirinya terhadap orang lain pada timnya dengan baik, apakah itu di tempat kerja, saat olahraga, dan lainnya. Pemimpin juga harus dapat mengatur egonya dan juga harus menaruh perhatian dan pengakuan yang terus menerus, untuk menciptakan kerjasama dan membuat tim lebih baik.

Namun demikian, beberapa hal berikut merupakan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan tim untuk menjadi lebih baik :

1. Memahami cara kerja
Sebagai pemimpin, kita harus memahami bagaimana gaya dan teknik kemimpinan yang kita terapkan. Kita juga harus menyadari seperti apa orang-orang yang berada pada tim dan apakah mereka menerima kita sebagai pemimpin. Meskipun terdapat beberapa orang yang tidak menyukai cara kepemimpinan kita, namun tetap berada pada niat baik yang ingin dilakukan. Evaluasi diri dan bersikap kritis, juga melakukan pendekatan terhadap terhadap tim merupakan cara yang cukup efektif untuk menciptakan tim yang lebih baik.

2. Kenali semua orang pada tim
Sebagai pemimpin wajib untuk mengenal sleuruh anggota tim dan menciptakan persahabatan. Peduli, memahami kebutuhan tim, merangkul perbedaan, dan saling membantu dapat meningkatkan kerjasama tim. Seorang pemimpin juga harus mempunyai trik tertentu untuk mendorong dan memotivasi tim, dan kapan waktu yang tepat untuk menerapkannya.

3. Tentukan peran dan tanggung jawab dengan jelas
Setelah menegatahui dengan baik seperti apa orang-orang yang berada pada tim, maka tentunya akan lebih mudah untuk menentuikan peran, tugas, dan tanggung jawab yang dapat dibebankan kepada masing-masing orang. Semua orang disini tentunya tidak dapat bekerja individualis, namun harus beroperasi secara mosaic yang mempunyai kekuatan dan perbedaan yang unik yang akan menjadi kekuatan tim yang baik.

4. Jadilah proaktif dengan feedback
Adanya feedback membuat sebuah tim tetap pada tujuannya. Seorang pemimpin harus aktif dan konstan untuk mencari dan mendapatkan feedback dari anggotanya. Feedback dapat didapat baik secara formal maupun informal, karena jika terlalu formal dan kaku, maka kemungkinan jawaban yang tidak jujur yang akan didapat. Setiap tim, setiap orang berbeda, perlaukanlah mereka dengan unik dan berbeda juga, dan juga terapkan budaya untuk saling mengingatkan, karena setiap orang dapat belajar dari mana orang mana saja.

5. Pengakuan dan Reward
Sebagai pemimpin yang baik, luangkan waktu untuk memberi anggota tim reward atau sekedar pengakuan yang tepat akan kerja keras dan upaya yang telah mereka lakukan. Hal ini dilakukan untuk membangun loyalitas dan kepercayaan. Dengan adanya pengakuan, maka anggota tim akan memiliki rasa kepuasan yang lebih besar dan menjadi lebih semangat untuk bekerja dengan giat.

6. Rayakan kesuksesan
Dengan datangnya kesuksesan yang telah diraih, maka waktu yang tepat untuk merayakannya dengan semua anggota tim. Jangan cepat berpuas diri, rayakan juga dengan merenungkan apa yang telah dicapai dan apa yang telah dipelajari selama proses pencapaian. Luangkanlah waktu untuk melakukannya, sebagai seorang pemimpin. Selain anggota tim akan merasa senang, mereka juga akan berpikir baik akan adanya pengakuan dan dari apa yang telah dikerjakan dengan kerja keras. Dengan adanya waktu juga untuk renungan dengan anggota tim, maka semua anggota tim akan dapat lebih bersemangat dan lebih tumbuh rasa untuk mencapai hasil yang sama untuk proyek yang lainnya.

Referensi : 6 ways successful team are built

Ceritakan pengalaman Anda melakukan pengembangan terhadap orang lain (contohnya dengan guru, rekan sejawat lainnya, komunitas, tokoh masyarakat, maupun lainnya), misalnya dalam kegiatan perlombaan, riset ilmiah, mempersiapkan orang lain pada tugas dan tanggung jawab baru, atau lainnya.

Kapan waktu kejadiannya? Siapa yang Anda kembangkan? Apa yang memotivasi Anda melakukan pengembangan tersebut?

Waktu itu setahun yang lalu. Tepatnya pada bulan September tahun 2019. Saya termasuk dalam kelompok guru inti program Pengembangan Kompetensi Pembelajaran (PKP) berbasis zonasi. Saat itu, keempat teman saya meminta saya untuk membimbingnya dalam persiapan menjalankan tugas sebagai guru inti program ini.

Saya menerima permintaan teman-teman sesama guru inti tersebut.

Satu hal yang menjadi motivasi saya saat itu (saat membimbing rekan-rekan guru inti) adalah, keinginan saya untuk menjadi guru yang lebih banyak membawa manfaat, baik bagi peserta didik saya, juga untuk rekan sejawat saya. Hal itulah yang menjadi motivasi saya, hingga dalam setiap kesempatan selalu berusaha memaksimalkan usaha.

~ Hal apa yang menjadi fokus pengembangan? Ceritakan pula cara Anda membangun kesepakatan guna mencapai hasil pengembangan yang diharapkan.

Hal yang menjadi fokus pengembangan kami waktu itu adalah mengupayakan persiapan dengan meningkatkan kemampuan sebagai fasilitator atau pendamping peserta PKP (Peningkatan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Dalam hal ini ada beberapa poin yakni:

– peningkatan pemahaman dan pemanfaatan teknologi informasi dalam pelaksanaan kegiatan Diklat PKP ini.

– menambah wawasan terkait materi atau bahan Diklat PKP.

– berlatih berbicara di depan umum (didepan peserta Diklat PKP).

Dalam hal ini ada beberapa cara kami dalam membangun kesepakatan guna mencapai hasil pengembangan:

– menyatukan persepsi. Dalam hal ini, kami sesama guru inti, berusaha menyatukan persepsi tentang tugas-tugas yang sedang kami emban.

– rutin mengadakan pertemuan ataupun komunikasi online terkait tugas bersama. Dalam hal ini kami beberapa kali mengadakan pertemuan/tatap muka guna membahas banyak hal terkait tugas-tugas dalam mendampingi peserta mengikuti Diklat dengan baik.

Melanjutkan pembahasan pada tulisan sebelumnya, tentang bagaimana peran seorang Pimpinan dalam menciptakan generasi penerus, maka pada saat ini telah dikembangkan pengenalan kompetensi pada para staf/karyawan, baik hard kompetensi maupun soft kompetensi. Ternyata soft kompetensi ini lebih sulit dalam penerapannya, dan bagaimana cara membuat pelatihannya. Jika seseorang dinilai masih kurang kemampuan skill dan knowledgenya, jenis pendidikan yang sesuai sudah banyak dilakukan sejak dulu, walaupun tetap harus disesuaikan dengan kemajuan zaman. Salah satu dari soft kompetensi ini adalah kemampuan mengembangkan orang lain.

Apakah kita perlu mempunyai kemampuan mengembangkan orang lain? Kelihatannya sederhana, namun kemampuan mengembangkan orang lain, diperlukan oleh suatu organisasi agar organisasi tumbuh dan berkembang, didukung oleh para staf yang handal. Bagaimana agar para staf/karyawan mempunyai kemampuan yang terus berkembang? Tentu saja diperlukan seorang Pimpinan yang mampu mengembangkan kemampuan anak buahnya. Seorang Pemimpin Cabang kelas A misalnya, harus mempunyai kompetensi mengembangkan orang lain, minimal pada kedalaman 3 (tiga), agar dapat memimpin para karyawan di Cabang tersebut dan menghasilkan kinerja yang baik.

a. Apa yang dimaksud dengan kemampuan mengembangkan orang lain (Developing Others)?

Definisi: Mengembangan Orang Lain adalah keinginan tulus untuk mendorong proses belajar dan pengembangan orang lain untuk jangka panjang sesuai dengan kebutuhan.

Tujuan utama dalam mengembangkan orang lain ini harus jelas, bukan sekedar pelatihan formal. Hal ini perlu ditegaskan, khususnya untuk mengembangkan orang lain pada tingkat yang rendah, yang mungkin bisa rancu dengan kompetensi pengarahan (directiveness) pada tingkat yang rendah. Yang membedakan kompetensi tersebut adalah intensinya yang berfokus pada keinginan untuk mengembangkan orang lain.

Pada tahap awal, kemampuan mengembangkan orang lain dimulai dari berpandangan positif atas potensi orang lain. Pada tahap ini, kita percaya bahwa pada dasarnya orang lain memiliki keinginan dan kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kinerja mereka. Sedangkan pada tahap berikutnya, Pimpinan memberikan instruksi yang lebih rinci, memberi contoh pada pekerjaan sehari-hari, menjelaskan bagaimana mengerjakan suatu pekerjaan, memberi saran yang spesifik dan bermanfaat. Sedangkan seorang Pimpinan Cabang sudah selayaknya mempunyai kompetensi Mengembangkan Orang Lain pada kedalaman yang lebih tinggi, yaitu: a) memberi pengarahan dan contoh nyata berikut alasan sebagai bagian dari pelatihan, b) memberi dukungan atau bantuan praktis untuk mempermudah bawahan melakukan pekerjaaannya (misalkan menyediakan sumber daya tambahan yang bersifat sukarela, peralatan, informasi, saran dari tenaga ahli), c) mengajukan pertanyaan atau melakukan pengujian untuk memastikan apakah orang lain telah memahami penjelasan dan pengarahan tersebut.

b. Bagaimana praktek dilapangan?

Kalau kita melihat di lingkungan sekitar kita, secara tak langsung kita bisa melihat ada beberapa orang yang memang berbakat mengembangkan orang lain, dengan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Pengembangan terhadap para staf ini juga akan menghasilkan hasil yang berbeda, tergantung dari sifat dan kemampuan atasan tersebut. Ada orang yang sangat berbakat di bidang operasional, dan ada orang yang sangat berbakat dalam bidang riset. Dari pengalaman mendapat atasan yang berbeda-beda, selain mendapat kesempatan menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan atasan, saya bersyukur juga menjadi dipaksa untuk terlatih mengamati orang, menilai karakter dan kompetensi orang, apakah nantinya seseorang dapat ditugaskan pada bidang yang sangat spesifik, atau bisa ditugaskan dalam bidang yang lebih general.

Atasan saya pernah mengatakan, kalau kita mempunyai anak buah, kita harus mempelajari betul karakter anak buah tersebut. Ada orang yang diberitahu cepat menangkap, ada yang mempunyai inisiatif…namun ada juga anak buah yang semakin di dorong, malah semakin diam, kata atasan saya seperti kura-kura….makin di dorong makin kuat cengkeramannya untuk tetap diam…. Sayang saya tak tahu apa betul kura-kura seperti itu, namun dari pengamatan dan pengalaman, memang ada orang yang bersifat seperti itu. Justru karena sifat dan kompetensi yang berbeda ini, bidang HRD sangat menarik, bagaimana bisa menempatkan orang sesuai kompetensinya.

Pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari sangat penting, karena atasan dapat berinteraksi langsung dan melihat hasilnya. Pada saat masih karyawan baru, penugasan lebih sederhana, instruksi lebih rinci, dan dimonitor pada jangka tertentu. Saya dulu punya atasan, yang suka mempercepat dead line, sehingga kalau terjadi kekacauan karena pekerjaan anak buah tak sesuai harapan masih ada waktu untuk membenahi. Staf baru belum mendapat penugasan yang mengandung risiko tinggi, atau penugasan yang dapat menyebabkan kekacauan pada jangka waktu penyelesaian tugas. Disadari, mendidik staf baru adalah pekerjaan yang sangat menantang. Jika telah menjadi senior staf, maka senior staf tadi ikut bertugas mendidik yunior staf yang baru masuk. Staf senior tak dapat dipindahkan atau mendapat promosi, jika staf yunior hasil didikannya belum dapat menggantikan pekerjaannya. Dengan demikian tak hanya Pimpinan unit kerja yang bertanggung jawab dalam mengembangkan orang lain, namun para staf senior sudah mulai dilatih untuk berperan serta mengembangkan orang lain, sehingga pada suatu saat nanti, jika yang bersangkutan telah menjadi Pimpinan unit kerja, akan mempunyai pengalaman dan kemampuan dalam mengembangkan anak buahnya. Jika rekrutmen bagus, maka dalam satu bulan, yunior staf sudah mulai bisa diajak bekerja dalam tim, ikut dalam rapat antar unit kerja, dan dalam tiga bulan mereka mulai dapat dilepas untuk mewakili unit kerja untuk bidang pekerjaan yang spesifik. Namun juga perlu diperhatikan bahwa kemampuan masing-masing yunior tidak sama, sehingga atasan perlu memberikan tugas dan pendekatan yang berbeda bagi setiap orang. Pelatihan yang diadakan terus menerus, terstruktur sebagaimana pada butir a diatas, akan menghasilkan seorang staf yang kualified dan sesuai dengan budaya organisasi yang diharapkan.

Catatan:

Tulisan tersebut berdasar pengalaman dan pengamatan penulis, yang kemungkinan sangat berbeda penerapannya pada masing-masing perusahaan.

Sumber bacaan:

  1. Pelatihan Kompetensi melalui Observasi perilaku. Implement: People Management Consultants. Jakarta, 2005
  2. Pengalaman penulis sebagai pengajar dan memimpin Divisi Pelatihan di suatu BUMN
  3. Pengamatan penulis saat ditugaskan pada Divisi Bisnis
Apa yang memotivasi Anda melakukan pengembangan terhadap orang lain | admin | 4.5